Liputan Khusus
Bahaya Jika Adopsi Anak Hanya Untuk Dijadikan Pancingan Hamil
wolipop
Jumat, 30 Mar 2012 16:21 WIB
Jakarta
-
Memiliki anak menjadi impian hampir semua orang. Impian tersebut ada yang ingin diwujudkan seseorang meski belum menikah dan tentunya mereka yang sudah menjadi suami-istri.
Untuk pasangan suami-istri, anak bisa didapat melalui proses kehamilan. Namun tidak semua pasangan beruntung bisa memiliki anak sendiri. Ketika hal itu terjadi, adopsi bisa menjadi pilihan.
Menurut psikolog dari Universitas Atmajaya, Wieka Dyah Partasari, ketika suami-istri memilih mengadopsi anak, keputusan tersebut memang dipilih atas kesepakatan bersama. "Adopsi menjadi pilihan mereka di antara berbagai alternatif yang ada. Harapan ketika mengadopsi ini juga sudah cukup realistis," ujar Wieka saat berbincang dengan wolipop melalui telepon Kamis (29/3/2012).
Harapan realistis yang dimaksud Wieka adalah memang pasangan itu ingin menjadi orangtua. "Bukan mengadopsi anak sebagai pancingan atau ada harapan-harapan terselubung," jelasnya. Kalau pasangan mengadopsi anak dengan tujuan hanya sebagai pancingan, Wieka mengatakan, ke depannya bisa menjadi masalah tersendiri.
Hal itu karena ketika suami-istri sudah ingin mengadopsi anak, ada berbagai hal yang perlu dipersiapkan. Pertama, menurut Wieka, yang paling penting adalah kesiapan mental pasangan tersebut.
Pasangan juga harus punya komitmen yang kuat karena menjadi orangtua bukan sesuatu yang mudah. "Memiliki anak itu adalah suatu perubahan yang membawa banyak konsekuensi. Segala macam perubahan hidup akan sulit dijalani kalau belum siap," tutur ibu dua anak itu.
Bukan hanya kesulitan untuk mengasuh anak saja bahaya yang akan dihadapi pasangan ketika mengadopsi anak sebagai pancingan. Nantinya pasangan tersebut juga harus siap menghadapi dampak psikologis ketika mereka sendiri punya anak kandung. Apakah kasih sayang pada anak adopsi (yang awalnya sebagai anak pancingan) akan tetap sama? Bagaimana jika si anak kemudian merasa tersisihkan? Tentunya kalau hal tersebut terjadi, orangtua tersebut sudah mengorbankan anak.
Tidak hanya perubahan pada hal-hal teknis seperti jadwal tidur saja yang harus dihadapi pasangan ketika memiliki anak. Dijelaskan Wieka, kehadiran anak juga mempengaruhi relasi antara suami-istri.
Selain mental dan komitmen yang juga harus disiapkan pasangan ketika ingin mengadopsi anak adalah mengumpulkan informasi. Pengetahuan tentang adopsi ini penting diketahui terutama jika suami-istri ingin mengadopsi anak dari lembaga formal seperti Yayasan Sayap Ibu.
"Orangtua harus punya informasi yang lengkap. Dari situ mereka bisa menimbang apakah memang sepakat dengan informasi tersebut," imbuh wanita yang sehari-harinya mengajar psikologi klinis itu.
Setelah mental siap dan punya cukup informasi, persiapan yang tak kalah pentingnya adalah memberitahukan keluarga besar. Bagi masyarakat Indonesia, keluarga merupakan orang yang juga memiliki peranan.
"Ini sangat khas dengan budaya kita. Keluarga besar sesuatu yang penting. Anak akan tumbuh lebih mudah dan optimal kalau keluarga besar tahu. Calon kakek dan nenek bisa menerima dengan gembira," urainya.
Keluarga besar juga perlu diinformasikan soal kapan Anda, sebagai orangtua akan memberitahu anak soal statusnya. "Pada usia berapa, bagaimana caranya, siapa yang akan mengatakan," tukas Wieka.
Persiapan untuk mengadopsi anak di atas juga berlaku untuk Anda yang single parent atau belum menikah. Namun untuk yang single, persiapan mentalnya harus lebih ekstra.
"Karena kalau saya melihat bebannya lebih berat. Kalau pasangan kan berdua. Kalau single maka dia perlu mempersiapkan diri sebagai orangtua tunggal. Dapat support dari keluarga besar. Keputusan ini perlu dibicarakan," jelas psikolog kelahiran Surabaya, April 1971 itu.
Bagaimana? Apakah Anda tertarik mengadopsi anak? Jika iya, wolipop sudah menuliskan apa saja syarat yang harus dipenuhi untuk mengadopsi anak di sini.
(eny/eny)
Untuk pasangan suami-istri, anak bisa didapat melalui proses kehamilan. Namun tidak semua pasangan beruntung bisa memiliki anak sendiri. Ketika hal itu terjadi, adopsi bisa menjadi pilihan.
Menurut psikolog dari Universitas Atmajaya, Wieka Dyah Partasari, ketika suami-istri memilih mengadopsi anak, keputusan tersebut memang dipilih atas kesepakatan bersama. "Adopsi menjadi pilihan mereka di antara berbagai alternatif yang ada. Harapan ketika mengadopsi ini juga sudah cukup realistis," ujar Wieka saat berbincang dengan wolipop melalui telepon Kamis (29/3/2012).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal itu karena ketika suami-istri sudah ingin mengadopsi anak, ada berbagai hal yang perlu dipersiapkan. Pertama, menurut Wieka, yang paling penting adalah kesiapan mental pasangan tersebut.
Pasangan juga harus punya komitmen yang kuat karena menjadi orangtua bukan sesuatu yang mudah. "Memiliki anak itu adalah suatu perubahan yang membawa banyak konsekuensi. Segala macam perubahan hidup akan sulit dijalani kalau belum siap," tutur ibu dua anak itu.
Bukan hanya kesulitan untuk mengasuh anak saja bahaya yang akan dihadapi pasangan ketika mengadopsi anak sebagai pancingan. Nantinya pasangan tersebut juga harus siap menghadapi dampak psikologis ketika mereka sendiri punya anak kandung. Apakah kasih sayang pada anak adopsi (yang awalnya sebagai anak pancingan) akan tetap sama? Bagaimana jika si anak kemudian merasa tersisihkan? Tentunya kalau hal tersebut terjadi, orangtua tersebut sudah mengorbankan anak.
Tidak hanya perubahan pada hal-hal teknis seperti jadwal tidur saja yang harus dihadapi pasangan ketika memiliki anak. Dijelaskan Wieka, kehadiran anak juga mempengaruhi relasi antara suami-istri.
Selain mental dan komitmen yang juga harus disiapkan pasangan ketika ingin mengadopsi anak adalah mengumpulkan informasi. Pengetahuan tentang adopsi ini penting diketahui terutama jika suami-istri ingin mengadopsi anak dari lembaga formal seperti Yayasan Sayap Ibu.
"Orangtua harus punya informasi yang lengkap. Dari situ mereka bisa menimbang apakah memang sepakat dengan informasi tersebut," imbuh wanita yang sehari-harinya mengajar psikologi klinis itu.
Setelah mental siap dan punya cukup informasi, persiapan yang tak kalah pentingnya adalah memberitahukan keluarga besar. Bagi masyarakat Indonesia, keluarga merupakan orang yang juga memiliki peranan.
"Ini sangat khas dengan budaya kita. Keluarga besar sesuatu yang penting. Anak akan tumbuh lebih mudah dan optimal kalau keluarga besar tahu. Calon kakek dan nenek bisa menerima dengan gembira," urainya.
Keluarga besar juga perlu diinformasikan soal kapan Anda, sebagai orangtua akan memberitahu anak soal statusnya. "Pada usia berapa, bagaimana caranya, siapa yang akan mengatakan," tukas Wieka.
Persiapan untuk mengadopsi anak di atas juga berlaku untuk Anda yang single parent atau belum menikah. Namun untuk yang single, persiapan mentalnya harus lebih ekstra.
"Karena kalau saya melihat bebannya lebih berat. Kalau pasangan kan berdua. Kalau single maka dia perlu mempersiapkan diri sebagai orangtua tunggal. Dapat support dari keluarga besar. Keputusan ini perlu dibicarakan," jelas psikolog kelahiran Surabaya, April 1971 itu.
Bagaimana? Apakah Anda tertarik mengadopsi anak? Jika iya, wolipop sudah menuliskan apa saja syarat yang harus dipenuhi untuk mengadopsi anak di sini.
(eny/eny)
Elektronik & Gadget
Baseus Headphone Bowie D05 Bass Upgrade Edition 2025, Headphone Bass dengan Harga Bersahabat untuk Teman Setia Musik Harian!
Perawatan dan Kecantikan
Concealer Andalan Buat Menutupi Noda dengan Sekali Swipe, MOP - Cover Age High Coverage Creamy Concealer Jadi Favorit Banyak Orang!
Elektronik & Gadget
Speaker Bluetooth Terjangkau Tapi Suaranya Nendang, Ini 2 Pilihan Terbaik yang Wajib Kamu Punya!
Perawatan dan Kecantikan
Serum Korea Favorit untuk Mencerahkan, ANUA Niacinamide 10 + TXA 3 Serum Andalan Banyak Orang!
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
Semua Bunda Dirayakan
Morinaga Ajak Bunda & Anak Bernyanyi Bersama di PIK 2, Yuk Ikutan!
YAYAYA Fest 2025: Bunda Senang, Si Kecil Pun Girang
Kinderflix dan Morinaga Berbagi Keseruan di YAYAYA Fest 2025
5 Rekomendasi Hadiah Istimewa, Tanda Kasih untuk Ibu Mertua
Seru-seruan Bareng Anak di LazMall Daily Bundafest, Banyak Lomba Menarik!
Most Popular
1
7 Gaya Annisa Yudhoyono Pamer Baby Bump Pakai Gamis di Momen Lebaran
2
Gaya Angel Karamoy & Gusti Ega Libur Lebaran ke Paris Pakai Jaket Couple
3
Mengenal Negging Dalam Dunia Kencan, Candaan yang Berbalut Penghinaan
4
Duel Merek Dagang, Desainer Katie Perry Menang atas Penyanyi Katy Perry
5
Drama Jorginho Sebut Chappell Roan Bikin Anaknya Nangis Saat Bertemu di Hotel
MOST COMMENTED











































