Regenerative Aesthetics, Tren Baru Perawatan Kulit Pakai DNA Ikan Trout
Selama bertahun-tahun, banyak orang datang ke klinik kecantikan dengan harapan mendapatkan hasil yang langsung terlihat. Kulit lebih glowing, lebih lembap, atau tampak lebih kencang sering menjadi tujuan utama setelah menjalani perawatan.
Kini, tren tersebut mulai bergeser. Semakin banyak orang yang tak lagi hanya mengejar hasil instan, tetapi juga menginginkan perawatan yang mampu menjaga kesehatan kulit dalam jangka panjang. Tren inilah yang dikenal dengan istilah regenerative aesthetics.
Tak sekadar memperbaiki tampilan kulit dari luar, regenerative aesthetics berfokus membantu kulit memperbaiki dirinya sendiri melalui proses regenerasi alami. Hasilnya memang tidak instan, tetapi perubahan yang terjadi cenderung lebih natural dan bertahan lebih lama.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jika dulu banyak pasien fokus pada hasil yang cepat terlihat, sekarang semakin banyak yang mencari perawatan yang juga dapat membantu memperbaiki kualitas kulit dari dalam," ujar dokter estetika Dr. Konstantin Frank, M.D., kepada Wolipop, belum lama ini.
Menurutnya, ke depan industri estetika akan mengarah pada perawatan yang tidak hanya berorientasi pada penampilan, tetapi juga kesehatan kulit. Klien pun diprediksi akan lebih memilih perawatan yang memberikan hasil alami, aman, sekaligus membantu menjaga kualitas kulit dalam jangka panjang.
Pergeseran tren ini juga terlihat pada perkembangan teknologi skin booster. Selama ini, umumnya skin booster menggunakan kandungan hyaluronic acid (HA), yang bekerja dengan menarik dan mempertahankan air di dalam kulit. Perawatan berbasis HA diketahui efektif membuat kulit terasa lebih lembap, kenyal, dan tampak halus.
Saat ini mulai hadir generasi skin booster berbasis polynucleotide dengan cara kerja berbeda. Tidak hanya memberikan hidrasi, polynucleotide membantu menciptakan 'habitat' yang mendukung regenerasi jaringan kulit.
"Polynucleotide membantu meningkatkan aktivitas fibroblas (sel jaringan ikat) yang mendukung produksi kolagen dan elastin," jelas Dr. Konstantin.
Jika HA berfokus menghidrasi kulit, maka polynucleotide lebih berperan membantu memperbaiki kualitas kulit secara menyeluruh, sehingga hasil yang diperoleh berkembang secara bertahap seiring proses regenerasi alami kulit.
Melihat berkembangnya tren regenerative aesthetics, Croma-Pharma, perusahaan estetika asal Austria, bekerja sama dengan GEA Aesthetic menghadirkan PolyPhil Croma di Indonesia. Produk ini merupakan skin booster berbasis polynucleotide yang berasal dari DNA ikan trout.
Menurut Dr. Konstantin, pemilihan DNA trout bisa menghasilkan polynucleotide dengan tingkat kemurnian yang optimal, melalui proses penelitian dan pengembangan, serta teknologi purifikasi tingkat tinggi.
"DNA trout yang digunakan berasal dari sumber budidaya yang terjaga kualitasnya, kemudian diproses melalui teknologi purifikasi tingkat tinggi untuk menghasilkan polynucleotide dengan kemurnian yang optimal," katanya.
Berbeda dengan perawatan yang fokus pada perubahan instan, hasil dari skin booster berbasis polynucleotide berkembang secara bertahap. Seiring waktu, kulit menjadi lebih terhidrasi, lebih elastis, tekstur terasa lebih halus, serta tampak lebih sehat dan bercahaya.
Hasil optimal biasanya baru terlihat setelah perawatan tiga hingga empat sesi, dengan jeda sekitar dua hingga empat minggu. Namun hasilnya bisa berbeda tergantung kondisi kulit.
Perawatan skin booster berbasis polynucleotide ideal bagi mereka yang berusia 20-an hingga awal 30-an dan bisa menjadi bagian dari pencegahan anti-aging untuk menjaga kualitas kulit sejak dini. Sementara untuk usia 30 hingga 40 tahun ke atas, perawatan ini dapat membantu mendukung proses regenerasi kulit secara lebih menyeluruh.
(hst/hst)










































