Unilever akan Hapus Kata 'Normal' dari Kemasan Produk, Ini Alasannya

Hestianingsih - wolipop Kamis, 11 Mar 2021 12:00 WIB
Logo Unilever Logo Unilever. Foto: Dok. Reuters
Jakarta -

Unilever akan menghapus kata 'normal' dari semua produk kecantikan dan perawatan diri. Perusahaan multinasional asal Inggris ini mengumumkan keputusannya pada Rabu (10/3/2021), sebagai wujud komitmennya mendukung inklusivitas dan keberagaman di sektor kecantikan.

Sejumlah brand kecantikan dan perawatan yauung berada di bawah naungan Unilever beberapa di antaranya Dove, St. Ives, Tresemme dan Pond's. Selain menghapus kata 'normal', perusahaan yang berdiri sejak 1929 ini juga berhenti merekayasa secara berlebihan sosok model yang jadi bintang iklan promosi produk mereka. Baik itu ukuran dan bentuk tubuh maupun warna kulit.

"Dengan satu miliar orang yang menggunakan produk kecantikan dan perawatan kami setiap hari, dan bahkan menonton iklan produk kami, brand kami punya pengaruh untuk membuat perbedaan nyata dalam kehidupan banyak orang," kata Presiden Unilever Divisi Beauty dan Personal Care Sunny Jain, seperti dikutip dari Hypebae.

Dia melanjutkan, "Kami tahu dengan menghapus kata 'normal' dari produk-produk dan kemasan tidak serta merta menyelesaikan masalah begitu saja, tapi ini selangkah maju yang penting."

Iklan komersial di media elektronik maupun cetak memang secara langsung atau tidak langsung bisa memengaruhi cara orang memandang dirinya. Selama ini banyak wanita 'dicekoki' standar bahwa cantik itu harus putih, langsing, berambut panjang, dan lain sebagainya.

Menurut survei yang dilakukan Unilever terhadap 10 ribu responden di sembilan negara, 56 persen orang mengatakan bahwa industri kecantikan dan perawatan tubuh bisa membuat orang merasa terasingkan. Lebih dari 70 persen responden juga menyatakan dua industri tersebut perlu memperluas definisi mereka tentang kecantikan.

Sebelumnya pada 2017, Dove dikritik karena iklan yang menampilkan seorang wanita berkulit gelap berubah jadi putih setelah menggunakan produk losionnya. Jadi kontroversi, akhirnya Unilever menarik iklan tersebut dari semua media promosi.

(hst/hst)