Wajah Wanita Ini Berakhir Rusak dan Bersisik Usai Pakai Krim Eczema

Vina Oktiani - wolipop Minggu, 07 Feb 2021 19:30 WIB
Gemma Blackman Gemma Blackman / Foto: Instagram/@allergyfreepositivity
Jakarta -

Seorang wanita yang berasal dari Surrey terpaksa harus merasakan sakit akibat krim eczema yang biasanya dipakai. Krim yang diresepkan oleh dokter itu membuat dirinya sampai tidak bisa makan dan tulangnya menjadi gatal.

Seperti dikutip dari The Sun, wanita bernama Gemma Blackman itu memang sudah didiagnosis memiliki eczema sejak dirinya berusia dua tahun. Sudah selama 25 tahun dirinya menggunakan obat yang sama untuk mengobati penyakit kulitnya tersebut. Namun semakin bertambahnya usia, maka dosis obat yang diresepkan untuk Gemma semakin tinggi.

"Mereka [krim steroid] sangat bagus untuk beberapa waktu, jujur saja hampir seperti sihir. Setiap kali saya merasakan semacam iritasi kembali, saya tahu jika saya memakai krim pada hari berikutnya itu akan hampir sepenuhnya hilang," jelasnya.

[Gambas:Instagram]



Namun pada tahun 2018 tiba-tiba saja Gemma bangun dengan wajah bengkak. Ternyata hal itu disebabkan karena dirinya sudah kecanduan steroid topikal, sehingga ketika penggunaan steroid jangka panjang dihentikan maka kulitnya langsung memberikan reaksi negatif.

Awalnya Gemma sempat tidak percaya bahwa dirinya menderita kecanduan steroid topikal karena krim tersebut diresepkan oleh dokter. Selain itu selama ini dia juga diminta untuk selalu menggunakan krim tersebut tanpa diberitahu efek samping yang mungkin bisa muncul, seperti yang dialaminya.

"Saya menjadi sangat frustrasi dan marah memikirkan tentang bagaimana saya tidak pernah mempertanyakannya sebelumnya karena dokter, orang yang saya percayai dan percayai, selalu mengatakan kepada saya bahwa saya harus menggunakannya sebagai pengobatan seumur hidup," jelas Gemma.

Gemma diresepkan krim immunosupressant protopic dan tablet steroid oral untuk menyembuhkan kulitnya. Selain itu Gemma juga diminta untuk menghilangkan stres dan menghindari debu. Namun setelah enam minggu menjalani pengobatan tersebut kulitnya tak kunjung membaik.

Setahun kemudian, tepatnya Mei 2019 Gemma diresepkan Methotrexate-imunosupresan. Obat tersebut juga digunakan sebagai obat kemoterapi dalam dosis yang lebih tinggi untuk mengobati eczema yang semakin memburuk. Karena obat tersebut cukup kuat, Gemma sampai harus menjalani tes rutin untuk memeriksakan hati dan kondisinya.

Pada Januari 2020, Gemma mendapati dirinya alergi terhadap propylene glycol, bahan yang biasanya ditemukan dalam sampo, conditioner, produk pembersih, poliester, dan krim steroid. Karena hal itu, Gemma akhirnya memutuskan untuk berhenti menggunakan krim eczemanya.

Semenjak berhenti dari krim tersebut, kondisinya semakin buruk. Setiap hari kulitnya menjadi mengelupas sampai membuat dirinya merasa sakit untuk membuka mulut saat hendak makan.

"Saat ini, steroid topikal tidak berfungsi lagi sehingga rasanya seperti satu-satunya pilihan yang saya miliki yang menghentikan kulit saya dari rasa gatal dan peradangan yang terus-menerus dan pada titik ini, saya sangat sadar diri karena wajah saya yang paling menderita. Setelah sepenuhnya menghentikan semua pengobatan, saya mulai mengalami pelebaran ruam dari kulit saya di tempat-tempat biasa yang sebelumnya sakit tetapi kemudian seiring berjalannya waktu, ruam mulai berpindah ke tempat-tempat di mana saya tidak perah menggunakan krim sama sekali," terangnya.

Tak hanya itu saja, Gemma juga mengatakan bahwa dirinya mengalami pembengkakan ekstrim di wajahnya. Dia juga kadang bisa tiba-tiba merasa panas atau dingin pada tubuhnya, insomnia, serta tulang yang sangat gatal dan kulit berminyak.

(vio/vio)