Hoax Seputar Botox, Ini Klarifikasi Dokter Bedah Estetika
Daniel Ngantung - wolipop
Jumat, 17 Mar 2017 17:30 WIB
Jakarta
-
Tindakan penginjeksian botulinum toxin atau botox rasanya sudah tidak asing lagi. Perawatan yang satu ini cukup populer karena menjanjikan kesempurnaan estetika pada penampilan seseorang. Entah itu tampang yang awet muda, atau wajah yang lebih tirus.
Tak heran jika banyak orang yang terpikat untuk mencoba botox, tanpa terkecuali para selebriti dunia. Terlepas dari ketenarannya, botox juga dibayangi oleh hoax atau informasi palsu yang bertolak belakang dari fakta sebenarnya.
Dokter bedah estetika Adri Dwi Prasetyo meluruskan sejumlah hoax seputar botox yang kerap beredar di tengah masyarakat.
1. Racun
Dari namanya, 'toxin' memang berarti racun. Namun racun yang aman bagi tubuh. "Banyak orang menganggap botulinum toxin berbahaya bagi tubuh karena dianggap racun," kata Adri dalam diskusi media sekaligus peluncuran botulinum toxin tipe A oleh Merz Aesthetics di Veranda Hotel, Pakubuwono, Jakarta Selatan, Jumat (17/3/2017).
Botox tidak akan membahayakan kesehatan selama dosisnya tepat dan sesuai kebutuhan. Sebaliknya, jika pemakaiannya tidak tepat, botox menimbulkan efek samping seperti wajah kaku sebagaimana yang kerap terlihat pada penampilan selebriti dunia. "Efek samping tersebut yang akhirnya dijadikan hoax," kata tutur Adri.
2. Efek Jangka Panjang
Diungkapkan Adri, sempat beredar kabar tentang seorang figur publik yang mengalami kerusakan wajah akibat pemakaian botox yang terlalu lama. "Sebaliknya, penelitian membuktikan, pemakaian botulinum toxin dalam jangka panjang memberi manfaat positif bagi tubuh," tegas dokter yang bersertifikasi Aesthetics and Dermatologic Surgery dari Darmstadt, Jerman, itu.
3. Ketagihan
Adri menegaskan, tidak ada istilah ketagihan secara medis. "Yang ada, botox menjadi kebutuhan psikologis sosial pasien," ucap dia. Adri mencontohkan, seorang pasien sangat merasa nyaman dengan wajah bebas kerutan berkat tindakan penginjeksian botox. "Ketika mulai ada kerutan, dia akan kembali ke dokter langganan," papar Adri. (dtg/dtg)
Tak heran jika banyak orang yang terpikat untuk mencoba botox, tanpa terkecuali para selebriti dunia. Terlepas dari ketenarannya, botox juga dibayangi oleh hoax atau informasi palsu yang bertolak belakang dari fakta sebenarnya.
Dokter bedah estetika Adri Dwi Prasetyo meluruskan sejumlah hoax seputar botox yang kerap beredar di tengah masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Thinkstock |
Dari namanya, 'toxin' memang berarti racun. Namun racun yang aman bagi tubuh. "Banyak orang menganggap botulinum toxin berbahaya bagi tubuh karena dianggap racun," kata Adri dalam diskusi media sekaligus peluncuran botulinum toxin tipe A oleh Merz Aesthetics di Veranda Hotel, Pakubuwono, Jakarta Selatan, Jumat (17/3/2017).
Botox tidak akan membahayakan kesehatan selama dosisnya tepat dan sesuai kebutuhan. Sebaliknya, jika pemakaiannya tidak tepat, botox menimbulkan efek samping seperti wajah kaku sebagaimana yang kerap terlihat pada penampilan selebriti dunia. "Efek samping tersebut yang akhirnya dijadikan hoax," kata tutur Adri.
2. Efek Jangka Panjang
Foto: Thinkstock |
3. Ketagihan
Foto: Thinkstock |
Adri menegaskan, tidak ada istilah ketagihan secara medis. "Yang ada, botox menjadi kebutuhan psikologis sosial pasien," ucap dia. Adri mencontohkan, seorang pasien sangat merasa nyaman dengan wajah bebas kerutan berkat tindakan penginjeksian botox. "Ketika mulai ada kerutan, dia akan kembali ke dokter langganan," papar Adri. (dtg/dtg)












































Foto: Thinkstock
Foto: Thinkstock
Foto: Thinkstock