Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Di Amerika Sudah Dilarang, Mengapa Tanam Benang di Indonesia Masih Eksis?

Kiki Oktaviani - wolipop
Kamis, 16 Jun 2016 17:33 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Foto: Thinkstock
Jakarta - Tindakan kecantikan tanam benang atau thread lift belakangan menjadi kontroversi. Di Amerika sendiri tindakan tersebut bahkan sudah dilarang oleh FDA, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat.

Meski sudah banyak pelatihan tentang thread lift, namun banyak pakar menilai bahwa teknik tersebut tidak begitu efektif dan bisa memicu efek samping. Meski produk benang yang dimasukkan ke dalam wajah memang sudah dibuat khusus, namun tetap saja suatu benda asing yang masuk bisa memicu infeksi pada kulit.

Ahli bedah plastik Indonesia, dr. Enrina Diah, SpBP-RE menyayangkan tentang keeksisan tanam benang di Indonesia. Menurut pendiri klinik Ultimo Aesthetic itu, tanam benang memiliki risiko yang cukup tinggi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Risikonya wajah tidak simetris. Hal itu karena wajah penuh dengan ekspresi sehingga benang benang yang sudah dimasukkan bisa kendor. Benang juga bisa terlihat ngebayang, tekstur wajah jadi bergelombang dan terbentuknya jaringan parut," ujar dr. Enrina saat presentasi tentang Tanam Benang di kliniknya, Rabu (15/6/2016).

Lalu mengapa di Indonesia tindakan facelift dengan benang ini masih dilakukan? Menurut Enrina, benang facelift bukanlah produk Amerika, namun banyak dari Eropa dan Korea sehingga sangat mudah masuk ke pasar Indonesia yang memang cukup potensial dalam tindakan kecantikan non-bedah.

Para suplier 'benang' kecantikan tersebut biasanya menawarkan kepada ahli estetika yang belum mendalami anatomi tubuh. "Sesuatu yang dimasukkan ke dalam kulit harus ditangani dengan ahlinya yakni dengan dokter bedah plastik yang sudah mengetahui seluk beluk anatomi tubuh manusia," jelas dokter lulusan Universitas Indonesia itu.

Enrina menambahkan, ahli bedah plastik sendiri belum banyak di Indonesia dan menurutnya dokter-dokter bedah plastik yang ada di Indonesia saat ini menolak melakukan prosedur tanam benang.

Tidak dipungkiri oleh Enrina, klaim yang ditawarkan dari tanam benang memang menggiurkan. Kliniknya, Ultimo Aesthetic pun pernah memberikan servis tanam benang untuk kliennya. Tapi kini, Enrina sudah meninggalkan tindakan tersebut.

"Saya pernah mengerjakan tanam benang sekitar tahun 2005 sampai 2006 tapi setelah itu saya tinggalkan karena tidak efektif. Hati nurani saya berkata, orang sudah mengeluarkan uang tapi hasilnya tidak efektif, belum lagi kalau terjadi risiko," papar wanita 42 tahun itu.


(kik/eny)
Tags

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads