Produk Kosmetik Lokal, Industri Andalan Indonesia di 2019
Alissa Safiera - wolipop
Kamis, 16 Jun 2016 07:10 WIB
Jakarta
-
Menguatnya pasar kosmetik lokal dewasa ini nyatanya berpengaruh besar terhadap dunia perekonomian Indonesia. Kini selain ranah mode, industri kecantikan pun mulai dibidik sebagai industri andalan penggerak utama perekonomian Indonesia.
Menurut Euromonitor International, negara-negara berkembang, termasuk Indonesia memiliki kontribusi 51% bagi industri kecantikan global. Bahkan menurut Kementerian Perindustrian, Indonesia diestimasikan akan menjadi pasar pertumbuhan utama di industri kecantikan pada 2019 mendatang.
"Indonesia memiliki peluang besar dalam industri kecantikan. Indonesia terdiri dari berbagai suku, karakter, bentuk wajah. Bahan baku kita sangat banyak, itulah yang akan kami coba gali lebih lanjut potensinya," ungkap Kepala Sub Direktorat Industri Farmasi dan Kecantikan Kementerian Perindustrian Republik Indonesia Afrida Suston Niar, saat ditemui di Konferensi pers BeautyIndonesia 2017, di Locanda, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Rabu (15/6/2016).
Keberagaman membuat Indonesia menjadi pasar potensial bagi para investor asing dan juga para pengusaha lokal. Dari data yang diungkap Asosiasi Profesi Ekspor Impor Seluruh Indonesia (APREISINDO), produk kecantikan yang telah tercatat di BPOM kini mencapai 36.642 produk. 14.658 di antaranya adalah produk dari lokal.
"Nilai ekspor Industri kecantikan mencapai US$ 818 atau Rp 11 triliun di 2015. Nilai ekspor bahkan lebih besar dari impor yang hanya US$ 441 juta. Ada peningkatan sampai 85 persen," kata Ketua Asosiasi Profesi Ekspor Impor Seluruh Indonesia (APREISINDO) Bintang Retna Herawati di acara yang sama.
Dalam perjalanannya menjadi salah satu sektor terbesar bagi roda perekonomian Indonesia, industri kecantikan lokal masih memiliki banyak tantangan. Beberapa di antaranya adalah masalah regulasi.
Menurut Scientific & Regulatory Affairs Director L'Oreal, sekaligus anggota Persatuan Perusahaan Kosmetik Indonesia (Perkosmi) Dewi Rijah Sari, regulasi untuk mendaftarkan produk kecantikan telah dipermudah sejak adanya Harmonisasi ASEAN di 2011. Sayangnya, beberapa persyaratan lainnya kadang memberatkan pihak produsen, misalnya dengan adanya timpang tindih peraturan dalam masalah perizinan.
Tak hanya masalah regulasi, tren kosmetik yang terus berjalan juga menuntut para produsen lebih tanggap dalam meramal tren yang ada. Selain itu, maraknya produk ilegal atau palsu yang beredar pun menjadi tantangan bagi industri kecantikan Indonesia saat ini.
"Indonesia memiliki populasi dan menjadi pasar besar bagi industri ini. Tren kosmetik di Indonesia juga mulai meluas, tak hanya untuk wanita tapi juga produk pria," tutup Dewi. (asf/ami)
Menurut Euromonitor International, negara-negara berkembang, termasuk Indonesia memiliki kontribusi 51% bagi industri kecantikan global. Bahkan menurut Kementerian Perindustrian, Indonesia diestimasikan akan menjadi pasar pertumbuhan utama di industri kecantikan pada 2019 mendatang.
"Indonesia memiliki peluang besar dalam industri kecantikan. Indonesia terdiri dari berbagai suku, karakter, bentuk wajah. Bahan baku kita sangat banyak, itulah yang akan kami coba gali lebih lanjut potensinya," ungkap Kepala Sub Direktorat Industri Farmasi dan Kecantikan Kementerian Perindustrian Republik Indonesia Afrida Suston Niar, saat ditemui di Konferensi pers BeautyIndonesia 2017, di Locanda, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Rabu (15/6/2016).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nilai ekspor Industri kecantikan mencapai US$ 818 atau Rp 11 triliun di 2015. Nilai ekspor bahkan lebih besar dari impor yang hanya US$ 441 juta. Ada peningkatan sampai 85 persen," kata Ketua Asosiasi Profesi Ekspor Impor Seluruh Indonesia (APREISINDO) Bintang Retna Herawati di acara yang sama.
Dalam perjalanannya menjadi salah satu sektor terbesar bagi roda perekonomian Indonesia, industri kecantikan lokal masih memiliki banyak tantangan. Beberapa di antaranya adalah masalah regulasi.
Menurut Scientific & Regulatory Affairs Director L'Oreal, sekaligus anggota Persatuan Perusahaan Kosmetik Indonesia (Perkosmi) Dewi Rijah Sari, regulasi untuk mendaftarkan produk kecantikan telah dipermudah sejak adanya Harmonisasi ASEAN di 2011. Sayangnya, beberapa persyaratan lainnya kadang memberatkan pihak produsen, misalnya dengan adanya timpang tindih peraturan dalam masalah perizinan.
Tak hanya masalah regulasi, tren kosmetik yang terus berjalan juga menuntut para produsen lebih tanggap dalam meramal tren yang ada. Selain itu, maraknya produk ilegal atau palsu yang beredar pun menjadi tantangan bagi industri kecantikan Indonesia saat ini.
"Indonesia memiliki populasi dan menjadi pasar besar bagi industri ini. Tren kosmetik di Indonesia juga mulai meluas, tak hanya untuk wanita tapi juga produk pria," tutup Dewi. (asf/ami)
Health & Beauty
Mykonos Hawaiian Crush Extrait de Parfum, Parfum Wangi Tropis yang Bikin Mood Naik!
Elektronik & Gadget
Airbot X40 Master, Robot Vacuum Super Pintar untuk Rumah Bersih Tanpa Ribet!
Health & Beauty
Secret Garden Extrait de Parfum, Wangi Mewah yang Tahan Lama dan Bikin Kesan Lebih Berkelas!
Health & Beauty
Rambut Lebih Halus & Anti Ngembang, Ini 3 Hair Care Andalan untuk Rambut yang Susah Diatur!
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
Tren Rambut 2026: Baby Bob, Model Bob Pendek yang Cocok untuk Rambut Keriting
Cara Menghilangkan Jerawat: Lakukan 3 Resolusi Kecantikan Ini di 2026
Brand K-Beauty Rilis Cleansing Pad, Cara Praktis Membersihkan Wajah
Blush On Tak Bisa Asal Pakai, Ini Cara Aplikasinya Sesuai Bentuk Wajah
Tren K-Beauty 2026: Dari Bahan Medis hingga Makeup Berbasis Skincare
Most Popular
1
Gaya Berani Sydney Sweeney di Pemotretan Terbaru, Tubuh Emas Tanpa Busana
2
Potret Piper Rockelle, Mantan Influencer Cilik Gabung OnlyFans Jadi Kontroversi
3
Demi Totalitas Akting, Kate Hudson Rela Nggak Skincare-an dan Naik BB 7 Kg
4
Cara Tak Terduga Klamby Rilis Koleksi Lebaran 2026, Dibungkus Film Musikal
5
50 Ucapan Selamat Tidur Bahasa Inggris Romantis, Bikin Pacar Senyum Meleleh
MOST COMMENTED











































