Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Profesi Perias Jenazah

Merias Orang Meninggal, Perlukah Belajar di Sekolah Khusus?

Intan Kemala Sari - wolipop
Jumat, 28 Agu 2015 09:51 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

dok. Thinkstock
Jakarta - Merias wajah seseorang diperlukan suatu keahlian khusus. Tak heran banyak penata rias yang mengikuti kursus kecantikan terlebih dulu sebelum mantap terjun sebagai makeup artist. Lalu bagaimana dengan penata rias yang dikhususkan untuk merias jenazah? Perlukah mereka mengikuti pelatihan?

Di Amerika, untuk menjadi seorang perias jenazah diperlukan pelatihan khusus. Kursus yang dikenal dengan nama mortuary science school itu mengajarkan para perias untuk menyiapkan segala keperluan untuk merias setelah proses pemberian formalin.

Pelatihan tersebut umumnya memakan waktu satu hingga dua tahun tergantung dari tingkat kesulitannya. Usai mengikuti kursus, para perias tersebut mendapatkan sertifikat sebagai tanda bahwa mereka telah terdaftar sebagai perias jenazah profesional.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Harga yang ditawarkan untuk mengikuti kursus tersebut tidaklah murah. Yakni mulai dari Rp 91 juta hingga Rp 140 juta untuk jangka waktu dua tahun.

Lantas bagaimana dengan di Indonesia? Menurut seorang perias jenazah bernama Yahya, sebenarnya tidak ada pelatihan yang dikhususkan untuk merias orang yang sudah meninggal. Hal itu karena secara garis besar, tidak ada yang terlalu membedakan proses merias wajah manusia dengan jenazah yang sudah terbujur kaku.

Namun pria 27 tahun ini memilih untuk mengikuti kursus merias di salah satu akademi kecantikan di Jakarta. Kursus yang diikutinya selama satu tahun itu mengajarkan bagaimana caranya untuk merias wajah seseorang agar tetap terlihat segar.

"Awalnya saya diajarin teman, tetapi setelah setahun jadi perias mayat baru ikut sekolah merias. Sebenarnya tekniknya saja seperti orang hidup. Tidak ada yang terlalu berbeda," ujarnya saat dihubungi Wolipop, Rabu, (26/8/2015).

Untuk mengikuti kursus tersebut, Yaha mengaku biaya yang dikeluarkan sebesar Rp 15 juta. Harga yang dibayarkannya itu sudah termasuk dengan peralatan penunjang untuk merias mayat.

(itn/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads