Liputan Khusus <i>Big Is Beautiful</i>
Disebut KingKong Hingga Kulkas, Ini Cara Wanita Bertubuh Plus Size Hadapi Bullying
Bagi sebagian orang, bertubuh besar merupakan masalah besar yang dapat mempengaruhi rasa percaya diri. Namun memiliki tubuh besar bagi seorang Ririe Bogar adalah sebuah anugerah dari Tuhan. Tubuhnya memiliki ukuran ekstra karena faktor keturunan yang didapat dari keluarganya. Selain itu, rasa lapar yang sulit ditahan juga menjadi salah satu hal mempengaruhi bentuk tubuh Ririe.
Dengan tubuhnya yang berukuran plus size, Ririe pun kerap mendapat julukan dari orang lain. "Biasanya aku dipanggilnya 'kingkong'. Sampai sekarang juga sering dipanggil seperti itu. Tapi aku tidak masalah," ucap pendiri komunitas Xtra-Larger Indonesia dan penggagas acara Miss Big Indonesia itu ketika ditemui Wolipop, di kawasan Woltermonginsidi, Jakarta Selatan, Senin (22/09/2014).
Ririe tidak merasa panggilan kingkong itu sebagai bullying ketika diucapkan oleh teman-teman terdekatnya. Kingkong tersebut justru menjadi panggilan sayang dari mereka untuknya. Lain halnya ketika ucapan kingkong itu keluar dari bibir orang yang tidak dikenal atau tidak dekat dengannya. Wanita kelahiran 3 Juli ini menyebutkan, bentuk intimidasi yang sering dialaminya adalah ketika ia sedang di jalan, kemudian ada orang yang tidak dikenalnya memanggil dengan sebutan 'gendut' atau 'kulkas'.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kerap mendapat panggilan yang tidak menyenangkan, bagaimana Ririe yang berbobot 114 kg itu menyikapnya? Dalam situasi tertentu, ia merasa lebih baik diam daripada menimbulkan pertengkaran. "Cara menghadapinya sih aku kebanyakan diam saja. Tapi terkadang aku bicara balik kepada yang ngatain aku, kalau kelakuan dia itu nggak baik," jawabnya.
Seperti yang dilakukannya ketika disebut babon oleh pamannya, dia memilih langsung bicara. Dia mengatakan ketidaksukaannya dengan panggilan tersebut. Setelah kejadian itu anggota keluarganya tidak ada yang mengejeknya lagi. Menurutnya, apabila merasa tidak suka dipanggil dengan julukan yang kurang menyenangkan oleh keluarga atau lingkungan sekitar, tidak ada salahnya untuk berbicara langsung dan mengeluarkan isi hati .
"Sebenarnya dengan dibully itu bikin diri kita jadi lebih kuat karena sudah terbiasa mendengar panggilan-panggilan yang tidak enak. Tapi tergantung pribadi orangnya ya. Kalau orangnya mau menerima dengan lapang dada ya pasti bisa lebih kuat," tuturnya bersemangat.
Kisah lain soal bullying datang dari Fahmia Badib, seorang penari perut profesional dengan bentuk tubuh 'ekstra'. Ia menceritakan pengalaman tidak menyenangkan ketika sedang bersama rekan-rekan kerjanya. Salah satu rekannya kerap kali mengejek tubuhnya walaupun dengan nada bercanda.
"Rekan kerjaku setiap istirahat makan siang selalu bilang gini, 'makan lagi, makan lagi! kamu nggak sadar ya badanmu tuh udah gendut!'. Awalnya aku hanya tertawa aja tapi lama-lama kesel juga," ceritanya ketika ditemui Wolipop di kediamannya di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (23/09/2014).
Tidak tahan dengan perlakuan rekan kerjanya, wanita yang akrab disapa Mia ini balik menyerang dengan cara berbicara langsung. Menurutnya, apabila hinaan yang ditujukan kepadanya sudah terlalu menyakitkan hati, ia tidak segan-segan untuk membentak si pelaku yang langsung malu ketika dikonfrontasi.
Pada awalnya, Mia merasa ada yang salah dengan dirinya sehingga ia sampai mendapatkan bullying. Tetapi wanita 35 tahun ini merasa justru orang yang menghinanya lah yang sebenarnya bermasalah. Sekarang ini wanita berbobot 103 kg itu tidak terlalu merasa terintimidasi atas 'julukan' yang diberikan kepadanya.
"Aku selalu bilang sama orang-orang yang sering dibully, kalau kamu memutuskan untuk diam saja ya nggak apa-apa. Tapi kamu harus tahu, nggak ada yang salah sama tubuhmu dan dirimu, justru yang salah adalah kelakuan mereka," pungkasnya menutup perbincangan.
(eny/aln)











































