Teman Curhat Mantan Toksik tapi Balikan Lagi? Ini Cara Tetap Waras Tanpa Emosi
Salah satu hal yang paling menyebalkan dalam persahabatan adalah ketika temanmu curhat soal mantan yang buruk, tetapi akhirnya malah balikan lagi dengannya. Padahal kamu sudah memberi nasihat panjang lebar, namun seolah hanya masuk telinga kanan, keluar telinga kiri.
Hubungan yang toksik atau tidak sehat memang sering kali sulit dilepaskan. Ada banyak alasan seseorang bertahan, mulai dari keterikatan emosional hingga ketergantungan finansial.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai teman, kita memang tidak pernah benar-benar tahu apa yang terjadi di balik hubungan tersebut. Namun, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh mereka yang menjalaninya.
Bukan sekali dua kali kita menyaksikan hubungan yang selalu di ambang putus, bahkan ikut membantu menyusun pesan perpisahan agar teman bisa lepas dari hubungan yang buruk. Sayangnya, semua itu kerap berujung pada keputusan untuk kembali ke mantan yang sama. Tak jarang, kita justru dicap sebagai orang yang terlalu ikut campur dalam urusan hubungan orang lain.
Menurut psikolog Dr. Christie Ferrari, kondisi seperti ini bisa memicu apa yang disebut sebagai kelelahan empati. Ini bukan berarti kamu menjadi tidak peduli atau kejam.
"Sangat wajar jika merasa frustrasi dalam situasi seperti ini," ujar psikolog asal Miami, AS itu seperti dikutip Self.
Persahabatan seharusnya didasari oleh rasa saling menghormati. Namun rasa ini bisa perlahan memudar jika nasihat yang diminta terus-menerus diabaikan.
"Mendampingi seseorang yang terus putus-nyambung dalam hubungan jelas menguras energi dan melelahkan. Seolah-olah temannya yang bertanggung jawab atas proses pemulihannya," tambah Dr. Ferrari.
Lalu, bagaimana cara tetap mendukung teman tanpa kehilangan kewarasan?
Kuncinya adalah menjaga batasan tanpa terkesan tidak peduli. Tujuannya agar tidak ada emosi negatif atau dendam yang menumpuk.
Kamu bisa mulai dengan menanyakan hal-hal sederhana seperti:
- "Kamu butuh saran atau hanya ingin melampiaskan perasaan?"
Pertanyaan tersebut diajukan karena kadang kamu langsung ingin memberi solusi, padahal teman hanya butuh didengarkan. Dengan mengklarifikasi hal ini, kamu bisa lebih menghemat energi.
- "Mungkin kita bisa berhenti membahas hal ini dan mencoba mengalihkan pikiran kamu?"
Pertanyaan tersebut bisa kamu ajukan karena menjadi teman yang suportif bukan berarti harus selalu tersedia tanpa batas. Menjaga kesehatan emosional diri sendiri juga sama pentingnya.
(eny/eny)












































