Viral Tren AI Mantan Virtual, Bikin Baper Atau Lebih Mudah Move On?
Tren baru di China memungkinkan seseorang membuat versi digital dari mantan pasangan menggunakan teknologi AI. 'Mantan virtual' ini bisa meniru cara bicara, kebiasaan, hingga kepribadian, sehingga terasa seperti berinteraksi dengan orang aslinya.
Melansir SCMP, tren ini populer di kalangan anak muda China, terutama mereka yang sedang putus cinta. Teknologi ini sendiri dikembangkan dari proyek AI oleh insinyur asal Shanghai, Zhou Tianyi, yang awalnya ditujukan untuk membantu tim kerja menyimpan dan memanfaatkan pengetahuan kolektif, seperti gaya komunikasi, dokumen, dan pengalaman kolaborasi antar karyawan. Tujuannya adalah agar informasi penting tetap bisa digunakan kembali, bahkan ketika anggota tim sudah tidak lagi bekerja di tempat tersebut.
Seiring viralnya proyek ini di internet, para pengembang mulai mengadaptasikannya ke ranah yang lebih personal. Dari sinilah muncul fitur Ex-partner.skill, yang memungkinkan pengguna menciptakan versi digital dari mantan pasangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk membuat mantan virtual, pengguna bisa mengunggah data seperti riwayat chat, unggahan media sosial, dan foto. AI kemudian mempelajari pola komunikasi, pilihan kata, hingga kebiasaan kecil dari mantan tersebut.
Pengguna juga dapat menambahkan detail personal seperti kenangan bersama, perjalanan, kebiasaan makan, hingga konflik masa lalu. Dengan data ini, AI mampu membangun karakter yang terasa semakin nyata. Hasilnya, mantan digital ini bisa diajak mengobrol seperti manusia, bahkan dengan gaya komunikasi yang terasa familiar.
Banyak pengguna merasa teknologi ini membantu proses move on. Mereka bisa mengungkapkan hal-hal yang dulu belum sempat disampaikan, sehingga memberikan rasa lega secara emosional.
Ada juga yang mengaku setelah chat dengan mantan virtual, mereka jadi lebih sadar bahwa hubungan masa lalu tidak seindah yang dibayangkan. Hal ini justru membantu mereka melihat hubungan secara lebih rasional dan melanjutkan hidup.
Di sisi lain, tren ini juga menuai kritik. Sebagian orang menilai interaksi dengan mantan virtual bisa menjadi bentuk ketergantungan emosional yang tidak sehat.
Bahkan, ada kekhawatiran bahwa hal ini bisa dianggap sebagai perselingkuhan emosional, terutama jika seseorang masih 'berhubungan' dengan mantan digital saat sudah memiliki pasangan baru. Meski begitu, beberapa ahli menilai kerinduan terhadap masa lalu adalah hal yang wajar, selama tidak merusak hubungan yang sedang dijalani.
Isu privasi juga menjadi sorotan penting. Menggunakan data pribadi seperti chat dan unggahan tanpa izin bisa berpotensi melanggar hukum perlindungan data. Apalagi, data tersebut sering kali bersifat sensitif dan melibatkan dua pihak, bukan hanya pengguna.
(vio/vio)










































