Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Gen Z Pakai Istilah 'Lifestyle Incompatibility' untuk Putus Cinta, Ini Artinya

Kiki Oktaviani - wolipop
Selasa, 03 Feb 2026 12:02 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Ilustrasi pasangan
Foto: Getty Images/MTStock Studio
Jakarta -

Dunia percintaan modern terus melahirkan istilah baru. Belakangan, Gen Z ramai menggunakan frasa lifestyle incompatibility sebagai alasan mengakhiri hubungan. Sebenarnya, apa arti istilah tersebut?

Lifestyle incompatibility merujuk pada ketidakcocokan gaya hidup, yakni perbedaan dalam kebiasaan sehari-hari. Mulai dari jam bangun tidur, rutinitas olahraga, pilihan makanan, hingga cara mengelola dan menghabiskan uang untuk hiburan.

Banyak gen z merasa perbedaan ini terlalu merepotkan untuk dipertahankan dalam hubungan jangka panjang. Mereka beranggapan tidak seharusnya mengorbankan rutinitas pribadi demi pasangan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Putus karena ketidakcocokan gaya hidup terdengar masuk akal dan dewasa. Namun, menurut pakar hubungan Dr. Elizabeth Fedrick, istilah ini kerap dijadikan "alasan aman" atau jalan pintas untuk menghindari masalah yang lebih dalam. Ia menilai, meski ada perbedaan gaya hidup yang nyata dan penting, tak sedikit orang memakainya untuk menghindari usaha dan komunikasi yang seharusnya hadir dalam hubungan yang sehat.

"Lebih mudah mengatakan hidup kita tidak sejalan daripada belajar berkomunikasi dan menyelesaikan konflik," ujar Dr. Elizabeth, seperti dikutip dari Teia Collier.

ADVERTISEMENT

Media sosial juga dianggap ikut berperan dalam perubahan cara pandang terhadap kompromi dan pengorbanan dalam hubungan
Gen z setiap hari disuguhi gambaran pasangan 'sempurna' yang terlihat selalu sefrekuensi dalam segala hal. Akibatnya, perbedaan kecil pun terasa seperti tanda kegagalan besar. Banyak yang berpikir hubungan ideal seharusnya berjalan mulus tanpa perlu banyak penyesuaian.

Padahal, para ahli menilai frasa ketidakcocokan gaya hidup sering menjadi tameng untuk menghindari kejujuran emosional. Dengan menyalahkan jadwal atau hobi, seseorang tak perlu mengakui bahwa ia sebenarnya sudah tidak cukup terikat secara emosional.

Budaya individualisme yang semakin kuat juga turut mendorong tren ini. Banyak orang kini sangat fokus pada pengembangan diri dan rencana hidup personal. Ketika pasangan tidak cocok dengan jalur hidup tersebut, mereka dianggap penghalang. Padahal, membangun kehidupan bersama berarti terus bernegosiasi dan menyesuaikan diri.

Masalahnya sering kali bukan soal jam ke gym atau perbedaan diet, melainkan ke arah yang lebih dalam seperti perbedaan nilai, prioritas, atau kurangnya komitmen. Hubungan yang sehat biasanya bertahan karena kedua pihak mau saling menyesuaikan.

(kik/kik)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads