Liputan Khusus Toxic Relationship
Kenali Apa Itu Toxic Relationship, Tanda Hubungan Tidak Sehat Menurut Psikolog
Kehidupan percintaan tak selamanya mulus yang dibayangkan. Ketika kamu terus menerus mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkan dalam sebuah hubungan hingga menerima tekanan mental atau fisik, kamu perlu waspada. Perilaku tersebut termasuk dalam kategori hubungan tidak sehat atau toxic relationship.
Apa itu toxic relationship? Wolipop berbincang dengan Psikolog Klinis Dewasa Alfath Hanifah Megawati, M.Psi. untuk membahas tentang pengertian toxic relationship dan hal-hal yang perlu kamu pahami mengenai hubungan membahayakan ini.
Menurut psikolog yang akrab disapa Ega itu, toxic relationship adalah kebalikan dari relasi yang sehat. Relasi adalah salah satu media yang dapat membantu seseorang bertumbuh ke arah yang positif, menjadi sumber dukungan, atau menyuplai energi diri dengan kebahagiaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Namun, pada toxic relationship, relasi bukan lagi media yang membuat seseorang bertumbuh, tapi justru membuat kita merasa terkekang, lelah, tidak berharga, dan tersakiti secara berulang. Bisa dikatakan bahwa toxic relationship berbeda dengan abusive relationship, tapi toxic relationship sangat mungkin berkembang menjadi abusive relationship. Pertanyaan yang muncul seringnya adalah perbedaan keduanya," Ega saat berbincang dengan Wolipop baru-baru ini.
Ega menjelaskan dalam toxic relationship, perilaku yang tidak sehat itu masih mungkin untuk dimaklumi kemunculannya, karena dianggap umum terjadi dalam relasi. Misalnya adalah kecemburuan. Bahkan pasangan dalam relasi sehat sangat mungkin merasakan cemburu. Ia pun merinci perbedaan toxic relationship dan abusive relationship.
"Namun, pada toxic relationship, kemunculannya berulang (misalnya: cemburu terus menerus) dan reaksi yang berlebihan (misalnya: karena cemburu, kita tidak diperbolehkan berteman dengan siapapun). Kemungkinan untuk memaklumi perilaku karena dianggap umum terjadi pada relasi, yang membuat toxic relationship menjadi sulit untuk dikenali, bahkan untuk ditinggalkan. Sedangkan, abusive relationship mempunyai perilaku tidak sehat yang lebih ekstrem dan tidak umum ditemui pada relasi yang sehat. Misalnya adalah melarang pasangan untuk keluar rumah tanpa dirinya dan menguncinya di rumah," tambahnya.
Psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia itu menegaskan jika toxic relationship tidak hanya terjadi dalam hubungan romantis atau lawan jenis, tetapi juga bisa ada di hubungan anak-orang tua, pertemanan, pekerjaan dan masih banyak lagi. Dan Ega mengatakan sebaiknya kamu jangan terburu-buru untuk memberikan label 'toxic' dalam sebuah hubungan.
"Maka mungkin saja kamu tidak sedang menjalani toxic relationship tapi masalah dalam relasi saja. Gunakan label 'toxic' bukan pada orangnya, tapi pada perilaku atau relasi yang dijalani. Melabelkan 'toxic' pada orang, akan membuat kita mengeneralisasi keburukan pada orang tersebut dan membuat kita menolak pengalaman baik yang ternyata karena perilaku yang lain. Lalu, perbanyak mengecek diri sendiri, apakah perilaku toxic tersebut muncul karena kita melakukan perilaku toxic itu terlebih dahulu atau ikut membalas perilaku toxic dengan perilaku toxic? Jika iya, maka kita ikut andil dalam terciptanya toxic relationship ini," tegasnya.
Lalu apa kategori dan tanda-tanda toxic relationship ?
Ega menjelaskan toxic relationship adalah relasi yang dikarakteristikan dengan pola yang saling merusak dan saling menyakiti pasangan. Pola yang paling sering terlihat dari toxic relationship adalah merendahkan pasangan, mengontrol atau memanipulasi, passive-aggressive, tidak mengapresiasi, kecurigaan berlebihan, tidak memberikan ruang bagi pasangan untuk menjalin relasi diluar dengan orang di sekitarnya, dan self-centered (hanya peduli pada kebutuhan diri sendiri saja.
"Poinnya di 'pola', jadi hal-hal d iatas bukan hanya terjadi 1-2 kali saja, tetapi hampir setiap saat selama kita menjalani relasi. Alasan dari perilaku tersebut, tidak jarang berlandasan pada 'terlalu mencintai pasangan.' Ketakutan untuk kehilangan, membuat perilaku yang muncul menjadi tidak rasional dan menyakiti pasangan," pungkasnya.
(gaf/eny)
Home & Living
Bingung Simpan Sepatu yang Numpuk? Cek Rekomendasi Rak Sepatu Anti Debu & Hemat Tempat di Sini!
Pakaian Wanita
Nggak Perlu Mahal-Mahal Nails Art! Pakai Fake Nails Ini untuk Tampilan Kuku Lebih Cantik
Olahraga
Latihan Harian atau Game Akhir Pekan, Ini 3 Bola Voli yang Tetap Nyaman di Lapangan
Hobi dan Mainan
Commuting Tiap Hari atau Sering Butuh Fokus? Soundcore by Anker Q20i Bisa Redam Bising dan Nyaman Dipakai Seharian
Ramalan Shio 2026
Hoki! 5 Shio Ini Diprediksi Sukses di Tahun Kuda Api 2026, Cek Peruntunganmu
Ramalan Zodiak Cinta 9 Januari: Scorpio Makin Romantis, Aries Jaga Jarak
Ramalan Zodiak 9 Januari: Aries Tetap Waspada, Taurus Banyak Tekanan
Ramalan Zodiak 9 Januari: Capricorn Harus Sabar, Aquarius Lebih Teliti
Ramalan Zodiak 9 Januari: Libra Pemasukan Stabil, Scorpio Kerja Keras
Foto Cantik BCL-Alyssa Daguise Hadiri Pernikahan 'Pangeran Jaksel' di Maroko
7 Gaya TWICE Jadi Model Victoria's Secret Usai Viral Istilah 'Tzuyu Bra'
Foto Vidi Aldiano Tampil Berkumis Jadi Groomsman Pernikahan Sahabat di Maroko
Tak Terduga, Ternyata Ini Inspirasi di Balik Nama Blue Ivy Putri Beyonce











































