#MalamPertamaRaisa Bukti Kesalahan Sistem Pendidikan di Indonesia

Daniel Ngantung - wolipop Jumat, 08 Sep 2017 19:15 WIB
Foto: Dok. Instagram @lovebynpm
Jakarta - Tagar #MalamPertamaRaisa yang sempat meramaikan lini masa berbagai media sosial menimbulkan keprihatinan tersendiri di benak aktivis perempuan Tunggal Pawestri.

Penuh dengan guyonan yang berbau seksis dan menyudutkan kaum hawa, tagar tersebut merefleksikan adanya kesalahan pada sistem pendidikan di Tanah Air.

"Ini bukti bahwa kita tidak mempunyai sistem pendidikan yang mengajarkan kesetaraan gender, bagaimana perempuan memiliki peran yang sederajat dengan pria sehingga harus sama-sama dihormati," ucap Tunggal kepada Wolipop melalui telepon, Jumat (8/9/2017).

#MalamPertamaRaisa Bukti Kesalahan Sistem Pendidikan di IndonesiaRaisa dan Hamish Daud memamerkan cincin pernikahan. (Foto: Asep Syaifullah/ detikHOT)
Menurut Tunggal, kesetaraan gender perlu diajarkan sedari anak duduk di bangku taman kanak-kanak. Tidak kalah pentingnya juga, pelajaran tentang berbagai bentuk kekerasan seksual serta cara menghadapinya.

"Selama ini bentuk kekerasan seksual yang disampaikan hanya hal-hal berbau pornografi. Sementara mitigasi atau cara melawannya malah tidak ada," ungkap Tunggal.

Peran pemuka agama tidak kalah pentingnya dalam menggaungkan pesan kesetaraan gender dan memerangi kekerasan seksual pada perempuan. "Tapi yang harus ditekankan adalah bagaimana mengimbau para pria harus berperilaku terhadap wanita," terang dia.

#MalamPertamaRaisa muncul menyusul pernikahan fenomenal pasangan selebriti Raisa dan Hamish Daud pada Minggu (3/9/2017). Menurut Tunggal, tagar tersebut sangat merendahkan derajat kaum perempuan karena berisikan candaan yang berbau seksis, misoginis, dan patriakis.

"Hal tersebut menunjukkan bahwa perempuan hanyalah objek, subordinat dan tidak punya otoritas atas tubuhnya sendiri. Sungguh memprihatinkan," kata alumnus jurusan komunikasi politik sebuah perguruan tinggi swasta Jakarta itu.

(dtg/dtg)