Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Weekend Lover, Tren Hubungan Viral di TikTok yang Dinilai Merendahkan Diri

Kiki Oktaviani - wolipop
Selasa, 24 Feb 2026 09:00 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Sad asian woman complaining hugging pillow at home
Ilustrasi Foto: Getty Images/AntonioGuillem
Jakarta -

Sebuah tren hubungan asmara di TikTok tengah menuai perhatian sekaligus kritik. Disebut sebagai tren weekend lover, fenomena ini menampilkan sejumlah perempuan Gen Z yang secara terbuka mengakui bahwa mereka hanya menjadi "cinta akhir pekan" bagi pria. Istilah ini merujuk pada sosok yang hanya dicari saat Sabtu dan Minggu, tetapi nyaris tak mendapat perhatian di hari-hari lainnya. Tak heran jika banyak yang menilai tren ini terasa menyedihkan.

Video-video tersebut umumnya diiringi lagu Purple Rain milik Prince, terutama pada lirik, "I never wanted to be your weekend lover." Sambil lagu itu mengalun, para kreator membagikan potongan kisah mereka, mulai dari tangkapan layar pesan yang menyakitkan, foto pasangan yang diambil diam-diam dari belakang, hingga momen kebersamaan yang terasa timpang.

Salah satu wanita menulis dalam keterangan videonya, "A weekend lover is all I've ever been to anyone," sembari menatap kamera dengan wajah sendu dalam balutan piyama. Pengakuan itu terasa jujur sekaligus getir. Tren ini pun menjadi cerminan bagaimana sebagian wanita muda merasa direndahkan dalam dinamika hubungan modern.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Aplikasi kencan kerap dituding turut berperan. Platform ini dianggap mengubah orang menjadi komoditas dan menciptakan ilusi bahwa selalu ada pilihan yang lebih baik hanya dengan satu gesekan layar.

Young asian women lying in bed texting and checking social apps in smartphone on bed before after she sleeping at night. Mobile addict concept.Ilustrasi Foto: Getty Images/iStockphoto/TheerapolP

"Aplikasi kencan online telah menciptakan paradoks pilihan ini. Kita memiliki begitu banyak pilihan, sulit untuk berkomitmen pada orang di depan kita karena ketika mereka pergi ke kamar mandi, kita bisa langsung menggeser layar," kata Christie Tcharkhoutian, PhD, LMFT, mak comblang senior di Three Day Rule, Los Angeles, seperti dikutip dari Women's Health Magazine.

ADVERTISEMENT

Media sosial pun dinilai memperkeruh situasi. Banyak wanita dengan berani mengunggah pengalaman saat dijadikan backburner atau cadangan, seolah itu hal yang lumrah, bukan sesuatu yang merendahkan diri.

Selama ini, wanita kerap diyakinkan bahwa hubungan kasual sama-sama menguntungkan, seakan tak ada perbedaan dampak emosional antara laki-laki dan perempuan. Namun, tak sedikit yang mengaku belajar bahwa menjadi 'weekend lover' terasa jauh lebih menyakitkan.

Fenomena situationship, yakni relasi yang menggantung di antara sekadar hookup dan pacaran, memang semakin umum di kalangan Gen Z. Seorang TikToker bahkan mengaku nomor teleponnya diblokir oleh pria yang rutin menemuinya setiap akhir pekan, lalu dibuka kembali menjelang Jumat. Di tengah tren ini, muncul pula suara-suara yang mengajak perempuan berhenti meromantisasi relasi yang tak sehat. Terapis hubungan Sara Harouni Lurie mengingatkan tentang kerugiannya.

"Dalam hubungan tanpa status, kamu mungkin mengalami beberapa emosi yang menantang jika hubungan tersebut tidak selaras dengan nilai-nilaimu atau kebutuhan dan keinginanmu," ungkapnya.

"Berada dalam hubungan tanpa status yang tidak jelas dapat mendorong beberapa individu untuk meragukan dan mempertanyakan diri mereka sendiri, dan ketidakpastian ini dapat meluas ke area kehidupan lainnya," tambahnya lagi.

(kik/kik)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads