Liputan Khusus
Tindakan yang Harus Dilakukan Setelah Memaafkan Kesalahan Pasangan
Arina Yulistara - wolipop
Jumat, 16 Agu 2013 17:14 WIB
Jakarta
-
Perlu jiwa ksatria dan hati ikhlas untuk bisa memaafkan. Sudah seyogyanya kita memberi maaf pada orang yang telah meminta maaf dengan tulus, apapun kesalahan yang telah dia perbuat. Namun sejauh mana seseorang bisa dimaafkan kesalahannya, dan perlukah menolak memberi maaf jika pasangan sudah melakukan kesalahan berat?
Menurut psikolog Rosdiana Setyaningrum, MPsi, MHPEd, semua tingkat kesalahan bisa dimaafkan. Terlebih lagi, di dalam dunia ini tidak ada tingkah laku yang tidak bisa dimaafkan. Tapi memaafkan saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah tindakan setelah kesalahan dimaafkan agar tidak terulang lagi dan itu tergantung pada kesepakatan Anda dan pasangan.
"Memaafkan itu hati, kebersediaan kita, memaafkan ya meaafkan. Cuma masalahnya adalah setelah itu, maunya apa?" tutur psikolog klinis dewasa yang akrab disapa Diana, saat berbincang dengan wolipop di kawasan Artha Gading, Jakarta Utara, beberapa waktu lalu.
Misalnya dalam hal perselingkuhan. Ketika si dia mengaku atau kepergok menjalin hubungan dengan wanita lain, dan meminta maaf atas kesalahannya, sudah keharusan kita untuk memaafkannya walaupun mungkin terasa berat. Tapi setelah itu, apa yang sebaiknya dilakukan? Sebab ketika kata maaf terucap, bukan berarti masalah selesai begitu saja. Tapi menjadi 'pembuka' untuk memikirkan tindakan selanjutnya.
"Kenapa selingkuh itu salah karena dia mengkhianati kepercayaan. Oke dia selingkuh, selingkuh pertama kali dimaafkan. Kalau selingkuh lagi dimaafkan atau tidak? Ya maafkan saja tapi jangan sekadar memaafkan lalu nggak berusaha memperbaiki," tutur psikolog yang sehari-harinya berpraktek di Heartsprings Therapy Center, Kelapa Gading, Jakarta Utara itu.
Setelah memaafkan harus ada keputusan dari dua belah pihak untuk memperbaiki hubungan, atau mengakhirinya saja. Itu pun perlu melewati sejumlah pertimbangan yang dipikirkan matang-matang. Ketika memutuskan melanjutkan jalinan asmara, apakah nantinya akan menuju sebuah perbaikan atau justru menambah konflik dalam hubungan.
Jika akhirnya putus, bukan berarti kesalahan itu tidak dimaafkan. Perbuatan si dia tetap mendapat maaf hanya saja hubungan tidak mungkin dilanjutkan lagi karena beberapa alasan.
"Memaafkan tetap, tapi (mungkin) tidak mau lagi diperlakukan seperti itu. Itu beda urusan. Jadi sebenarnya meaafkan tidak ada hubungannya dengan tindakan selanjutnya," ujar Diana menambahkan.
(hst/hst)
Menurut psikolog Rosdiana Setyaningrum, MPsi, MHPEd, semua tingkat kesalahan bisa dimaafkan. Terlebih lagi, di dalam dunia ini tidak ada tingkah laku yang tidak bisa dimaafkan. Tapi memaafkan saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah tindakan setelah kesalahan dimaafkan agar tidak terulang lagi dan itu tergantung pada kesepakatan Anda dan pasangan.
"Memaafkan itu hati, kebersediaan kita, memaafkan ya meaafkan. Cuma masalahnya adalah setelah itu, maunya apa?" tutur psikolog klinis dewasa yang akrab disapa Diana, saat berbincang dengan wolipop di kawasan Artha Gading, Jakarta Utara, beberapa waktu lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kenapa selingkuh itu salah karena dia mengkhianati kepercayaan. Oke dia selingkuh, selingkuh pertama kali dimaafkan. Kalau selingkuh lagi dimaafkan atau tidak? Ya maafkan saja tapi jangan sekadar memaafkan lalu nggak berusaha memperbaiki," tutur psikolog yang sehari-harinya berpraktek di Heartsprings Therapy Center, Kelapa Gading, Jakarta Utara itu.
Setelah memaafkan harus ada keputusan dari dua belah pihak untuk memperbaiki hubungan, atau mengakhirinya saja. Itu pun perlu melewati sejumlah pertimbangan yang dipikirkan matang-matang. Ketika memutuskan melanjutkan jalinan asmara, apakah nantinya akan menuju sebuah perbaikan atau justru menambah konflik dalam hubungan.
Jika akhirnya putus, bukan berarti kesalahan itu tidak dimaafkan. Perbuatan si dia tetap mendapat maaf hanya saja hubungan tidak mungkin dilanjutkan lagi karena beberapa alasan.
"Memaafkan tetap, tapi (mungkin) tidak mau lagi diperlakukan seperti itu. Itu beda urusan. Jadi sebenarnya meaafkan tidak ada hubungannya dengan tindakan selanjutnya," ujar Diana menambahkan.
(hst/hst)











































