Intimate Interview

Pahitnya Hidup Model Difabel Rosalina Berbuah Inspirasi di Asian Para Games

Daniel Ngantung - wolipop Selasa, 09 Okt 2018 17:10 WIB
Rosalina Oktavia (Foto: Instagram/@kazzrozza) Rosalina Oktavia (Foto: Instagram/@kazzrozza)

Jakarta - Hidup dengan satu kaki akibat malapraktik dokter tak pernah diinginkan model Rosalina Oktavia. Ikhlas menerima kenyataan pahit tersebut, ia pun bangkit sebagai sosok yang menginspirasi. Begitu inspiratifnya, ia bahkan terpilih sebagai Ikon Keberagaman Asian Para Games 2018.

Rosalina lahir di Demak, Jawa Tengah, sekitar 27 tahun lalu, dengan fisik yang lengkap laiknya manusia normal. Tumbuh sebagai perempuan yang aktif, ia senang mengisi hari-harinya dengan kegiatan outdoor seperti mendaki gunung.

Namun, kehidupan Rosalina mulai berubah setelah kecelakaan motor yang dialaminya pada 2009. Ia terjatuh dari motor saat mencoba menghindari pejalan kaki yang sedang menyeberang. Kejadian tersebut menyebabkan kaki kiri Rosalina, dari lutut ke bawah, terkilir hingga 90 derajat.

Baca Juga: Mengenal Rosalina, Model Difabel dan Ikon Keberagaman Asian Para Games 2018


Rosalina sempat mendapatkan perawatan di rumah sakit sebelum akhirnya mencoba pengobatan tradisional di Jepara, Jawa Tengah. "Di rumah sakit aku hanya tiga hari karena dokter bilang kaki hanya kesleo, tapi saat itu aku nggak bisa jalan. Orangtua lalu memutuskan untuk mengobatiku di Sangkal Putung Jepara," cerita Rosalina saat dihubungi Wolipop, Senin (8/10/2018).

Sempat lumpuh, kondisi kaki Rosalina berangsur pulih sebulan setelah diobati secara tradisional. Ia pun mulai beraktivitas normal lagi. Selain mengendarai motor, putri sulung dari pasangan Siswo dan Purhayati itu bahkan sudah bisa mendaki lagi. Hanya saja, kakinya tidak dapat berlari secepat dulu.

Pada 2015, Rosalina memutuskan untuk mencari jawaban di balik kondisi kakinya yang tidak dapat berlari cepat itu. Hasil tes pemindaian Magnetic Resonance Imaging (MRI) menunjukkan ada tendon yang terputus di kaki kiri Rosalina. Ia lalu disarankan dokter untuk menjalani operasi di sebuah rumah sakit Yogyakarta dengan menggunakan fasilitas Badan Penyelenggara Jaminan Sosial atau BPJS.

Saat hendak mengurusi dokumen rujukan di rumah sakit Demak, ia ditawari oleh seorang dokter untuk berobat dengan koleganya yang biasa menangani kasus seperti kaki Rosalina di sebuah rumah sakit di Semarang .

"Pikirku, daripada jauh-jauh ke Yogya, mending ke Semarang. Akhirnya aku janjian sama dokter tersebut di rumah sakit Semarang. Saat ketemu beliau bilang, memang tendon kaki terputus dan harus operasi yang 4-5 hari setelahnya sudah bisa pulang karena bukan operasi besar," ujar Rosalina. Tanpa berpikir panjang, ia mengiyakan saran sang dokter.

Baca Juga: Inspiratif! Wanita Indonesia Ini Buat Gerakan Lipstik untuk Difabel

Pahitnya Hidup Rosalina Oktavia Berbuah Inspirasi di Asian Para Games 2018Rosalina Oktavia jadi Ikon Keberagaman Asian Para Games 2018. (Foto: Instagram/@kazzrozza)
Di sela operasi yang hampir berlangsung selama 8 jam itu, Rosalina tanpa sengaja mendengar perkataan sang dokter yang menyebut dirinya salah memotong pembuluh vena. Dokter tersebut membenarkan hal itu setelah Rosalina menanyakan usai operasi dan mengatakan venanya sudah dijahit kembali.

Bukannya sembuh, kondisi kaki kiri Rosalina malah memburuk. Hari demi hari, kaki bawahnya terus membengkak. "Sampai hari keenam, kaki masih besar dan saat itu dokter bilang akan ditandiklanjuti dengan operasi lagi. Saat dioperasi dia buka bagian betis aku dan dibiarkan terbuka dengan alasan biar darah mengalir. Keesokannya harinya, dokter merujuk aku ke rumah sakit besar di Semarang, dan dari situ dia mulai susah dihubungi," tutur Rosalina.

Singkat cerita, kaki kirinya sudah tidak bisa dipertahankan lagi sehingga terpaksa harus diamputasi. Niat untuk sembuh malah berujung petaka bagi Rosalina. Dokter harus menunggu selama tiga hari untuk mendapat persetujuan darinya. Tentu tak mudah bagi Rosalina mengambil keputusan yang akan mengubah hidupnya secara drastis. Namun, demi kesehatan, ia merelakan kaki kirinya itu.

"Ketika itu, sangat sulit untuk menerima keadaan , tapi karena itu yang terbaik buatku, jadi aku memutuskan diamputasi. Dokter yang salah operasi itu hanya datang saat operasi kedua di rumah sakit rujukan, setelah itu hilang tanpa kabar," terang Rosalina. Ia dan keluarganya sempat mengambil langkah hukum untuk meminta pertanggungjawaban sang dokter.

Pada akhirnya, kedua belah pihak sepakat untuk mengakhiri masalah ini secara kekeluargaan. Namun belakangan diketahui, dokter pelaku malapraktik itu menghilang kembali sehingga tak memenuhi tanggung jawabnya yang telah disepakati.

Dari pengalaman pahit itu, Rosalina memetik pelajaran akan sebuah keikhlasan. Ia yakin, Tuhan memiliki rencana yang baik untuknya. Aku mencoba untuk positive thinking. Saat Tuhan mengambil sesuatu dari kita, Dia pasti akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik nantinya," kata dia.

Membuka lembaran hidup yang baru sebagai difabel tentu tak mudah bagi Rosalina. Bukan cuma harus beradaptasi lagi dengan kondisi fisik yang berbeda, ia juga harus menanggung beban psikis akibat stigma orang di sekitar terhadap penyandang disabilitas.

Baca Juga: Potret Rosalina, Model Berkaki Satu Ikon Keberagaman di Asian Para Games



Dengan dukungan kedua orangtua dan keluarga, ia mencoba bangkit dari keterpurukan. Ia tidak mau lagi ambil pusing pikiran dan perkataan orang lain yang mendiskriminasi karena fisik yang berbeda. Ia ingin membuktikan bahwa kondisi fisik bukan batasan untuk menjadi manusia seutuhnya. Cerita hidup Rosalina itu sempat sampai ke program televisi Kick Andy yang memberikannya kaki palsu prostetic.

Hidup Rosalina berangsur membaik dengan banyaknya kejutan-kejutan baik yang menghampirinya. Termasuk untuk urusan jodoh. Cinta sejati tak mengenal fisik ternyata benar adanya seperti yang dirasakan Rosalina. Pada 2016, ia berkenalan dengan seorang pria asal Singapura bernama Don Kasunjith lewat media sosial.

"Sejak dari awal aku sudah bilang, aku pakai kaki prostetic. Tapi ternyata, dia masih tetap mau ngobrol bahkan mengajakku ketemuan. Hubungan tersebut berlanjut sampai akhirnya kami menikah tahun lalu," kenang perempuan yang hobi bernyanyi itu.

Berdomisili di Singapura bersama sang suami, Rosalina menyibukkan diri dengan merintis karier sebagai model untuk sebuah perusahaan produsen prostetic. Ia bahkan sempat terpilih menjadi duta Singapore Fashion Runway, ajang fashion yang mendukung orang-orang berkebutuhan khusus. Pengalaman tersebut yang akhirnya mengantar Rosalina ke ajang Asian Para Games 2018.

"Waktu dikasih tahu sama mentorku tiga bulan lalu untuk tampil di Asian Para Games 2018, aku benar-benar terkejut dan nggak percaya, iya atau enggak, karena saking senangnya," ujar Rosalina yang ditunjuk sebagai Ikon Keberagaman Asian Games 2018 itu.

Baca Juga: Kaum Difabel Jadi Desainer Hingga Model di Jakarta Modest Fashion Week



Dengan waktu persiapan singkat, sekitar sebulan, ia tampil di acara pembukaan Asian Para Games 2018 di Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (6/10/2018). Meski kaki kirinya sudah teramputasi, Rosalina memberikan penampilan terbaiknya. Dalam balutan busana khas Nusa Tenggara Timur berwarna merah keemasan, ia berjalan sambil membawa lentera kecil dari belakang hingga depan panggung yang hampir memenuhi lapangan bola GBK itu. Kaki kiri Rosalina ditopang kaki prostetic berwarna emas, yang seolah senada dengan kostum rancangan Citra Subyakto.

Disaksikan jutaan pasang mata, penampilan Rosalina menjadi pengantar parade kebhinekaan yang ada di Indonesia di mana ratusan penari tampil sambil mengarak simbol budaya dan agama.

"Momen yang paling mengesankan itu saat aku melihat Pak Jokowi. Meski nggak bisa ketemu langsung dan melihatnya dari jauh, dalam hati ngomong, 'Oh my God, Pak Jokowi juga melihatku.' Padahal, belum tentu beliau lihat soalnya jauh. Tapi buatku, itu spesial banget," ungkap penggemar model difabel Paola Antonini itu.

Ia bangga bisa menjadi bagian dari pesta olahraga terbesar se-Asia bagi kaum difabel itu. Rosalina berharap, penampilannya dapat menginspirasi mereka yang berkebutuhan khusus untuk terus bersemangat mengejar impian. "Semua keterbatasan kita hanyalah sudut pandang dari orang lain, berkaryalah sesuai dengan kemampuan kita. Hilangkan rasa tak percaya diri meskipun kita tahu ada keterbatasan fisik dari diri kita. Jangan pernah memperlihatkan keterbatasan kita, tunjukkan bahwa kita spesial dan kita pasti bisa," tutup dia.
(dtg/dtg)