Viral Wanita Idap Hoarding Disorder Ekstrem, Rumah Penuh Gunungan Sampah
Berawal dari kesulitan masa kecil untuk membuang barang, wanita ini tidak pernah menyangka obsesinya akan berujung petaka.
Kebiasaannya menimbun barang bermula ketika karantina akibat pandemi Covid-19 melanda. Dorongan untuk menimbun segala jenis benda mulai dari pakaian hingga peralatan dapur muncul.
Kini kebiasannya itu telah mencapai titik ekstrem yang mengancam kepemilikannya atas tempat tinggal sendiri. Kondisi ini diperparah oleh apa yang disebut para ahli sebagai wet hoarding, di mana sampah sisa makanan dibiarkan membusuk hingga mengundang hama.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi dalam rumah Ruth yang mengalami wet hoarding; tumpukan barang dan sampah makanan dibiarkan membusuk hingga memenuhi seluruh sudut ruangan apartemen. Foto: Dok. BBC. |
Wanita yang diketahui berama Ruth Cookson ini mengaku tidak bisa lepas dari kebiasaan menimbun barang. "Buku mewarnai, peralatan dapur, pakaian, mantel, apa saja yang bisa Anda pikirkan, semuanya saya timbun. Dan saya tidak cuma punya satu, bisa dua, tiga, bahkan empat buah untuk barang yang sama," kata Ruth saat diwawancarai oleh BBC.
Kondisi apartemen satu kamar miliknya yang terletak di Leasowe, Merseyside, Inggris, perlahan berubah menjadi lingkungan yang sama sekali tidak layak huni. Rumahnya dipenuhi gunungan barang yang menutup seluruh akses jalan. Ruth bahkan harus benar-benar memanjat tumpukan sampah hanya untuk melewati lorong, menuju dapur, kamar mandi, atau pun kamar tidurnya.
Kondisi dalam rumah Ruth yang mengalami wet hoarding; tumpukan barang dan sampah makanan dibiarkan membusuk hingga memenuhi seluruh sudut ruangan apartemen. Foto: Dok. BBC. |
Lantai ruang tamunya bahkan nyaris tidak terlihat lagi, tenggelam di bawah gundukan kotak kardus, kantong plastik, wadah bekas, serta berbagai barang baru yang ia beli hanya untuk menggantikan benda-benda lama yang terselip di bawah timbunan barangnya.
"Dengan banyaknya barang yang saya miliki, setiap kali saya tidak bisa menemukan sesuatu, saya akan pergi keluar dan membeli yang baru. Lalu, ketika saya tidak bisa menemukannya lagi, saya akan keluar lagi dan membelinya lagi. Begitu seterusnya sampai saya bisa menjamin bahwa saya punya tiga, empat, atau lima barang yang persis sama," tutur wanita berusia 53 tahun tersebut.
Kondisi dalam rumah Ruth yang mengalami wet hoarding; tumpukan barang dan sampah makanan dibiarkan membusuk hingga memenuhi seluruh sudut ruangan apartemen. Foto: Dok. BBC. |
Apa yang dialami oleh Ruth bukan sekadar apa yang dikategorikan oleh para ahli sebagai "dry hoarding", yakni kondisi di mana seseorang mengumpulkan barang-barang kering seperti kardus, alat tulis, tagihan lama, dan surat kabar. Ruth telah melangkah jauh ke dalam kondisi berbahaya yang dikenal sebagai "wet hoarding".
Pada tahap ini, sampah sisa makanan tidak lagi dibuang, melainkan dibiarkan begitu saja hingga membusuk di dalam rumah, menimbulkan bau menyengat, serta mengundang hama dan hewan pengerat.
Ruth sendiri tidak tahu secara pasti mengapa ia mulai mengembangkan kebiasaan menimbun ini. Meski demikian, berbagai penelitian ilmiah telah menunjukkan bahwa trauma mendalam dan rasa kehilangan yang hebat sering kali menjadi pemantik utama dari hoarding disorder, sebuah kondisi yang kini telah diakui secara resmi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai gangguan kesehatan mental.
Kondisi dalam rumah Ruth yang mengalami wet hoarding; tumpukan barang dan sampah makanan dibiarkan membusuk hingga memenuhi seluruh sudut ruangan apartemen. Foto: Dok. BBC. |
Saat menengok kembali perjalanan hidupnya, Ruth menyadari ada serangkaian peristiwa traumatis yang kemungkinan besar menjadi pemicunya. Ketika ia baru berusia lima tahun, sebuah insiden kebakaran rumah tragis merenggut nyawa dua kerabat dekatnya yang masih sangat muda. Beranjak dewasa, ia juga harus melewati hubungan toxic.
Bagi Ruth, tumpukan barang tersebut secara tidak sadar berfungsi sebagai mekanisme pertahanan diri, sebuah benteng fisik untuk menutup diri dan mengisolasi jiwanya dari dunia luar yang dianggapnya menyakitkan. Namun, benteng itu pula yang akhirnya berbalik menjadi penjara sosial yang menyiksa dirinya sendiri.
"Rasanya sangat memalukan. Jika ada petugas yang datang untuk memeriksa meteran listrik, saya tidak akan membiarkan mereka masuk karena melihat kondisi apartemen yang hancur berantakan. Saya hanya merasa sangat malu dan bersalah," curhatnya.
(gaf/eny)
















































