Liputan Khusus Hobi Tanaman Hias

Kisah Eka Dulu Jual Tanaman Hias Cuma dari Kostan, Kini Beromzet Rp 100 Juta

Gresnia Arela Febriani - wolipop Minggu, 25 Okt 2020 18:32 WIB
Ekawati pemilik bisnis tanaman hias Airy Garden Ekawati yang mempunyai bisnis tanaman hias di Subang. Foto: Dok. pribadi Ekawati.
Jakarta -

Tanaman hias menjadi laris manis semenjak pandemi. Selain bisa menjadi kegiatan yang positif #dirumahaja, merawat tanaman hias juga memberikan kepuasan tersendiri dan membuat udara di rumah menjadi lebih segar.

Begitu trennya hobi tanaman hias selama pandemi ini pun membuat penjualan tanaman hias meningkat. Salah satu penjual tanaman hias yang ketiban rezeki adalah Ekawati. Eka demikian dia biasa disapa sudah berbisnis sejak 2018, sebelum hobi tanaman hias jadi tren.

Eka mengaku mengawali usaha tanaman hiasnya dari garasi kost yang kecil. Kini usaha tanaman hiasnya laris manis diburu oleh pecinta tanaman hingga beromzet Rp 100 juta per bulannya. Seperti apa kisah suksesnya?

Awal Mula Bisnis Tanaman Hias

Eka mendirikan usaha jual beli tanaman hias secara online pada 1 Juli 2018. Usaha tanaman hias dengan nama Airy Garden itu dimulainya di salah satu garasi kost wanita di Rawamangun, Jakarta Timur.

"Dulu saya iseng-iseng awalnya. Awalnya hobi tanaman, suka eksperimen-eksperimen nanam-nanam tanaman sayuran di kostan. Mulai dari bawang merah, biji alpukat, bayam, kangkung dan lain-lain. Nah lama-lama saya suka koleksi tanaman hias. Saya mulai deh mengumpulkan satu per satu," kata Eka saat diwawancara oleh Wolipop, Jumat (23/10/2020).

Tanaman hias pertama yang membuatnya merasa jatuh cinta yaitu Caladium Gingerland. Awalnya membeli satu jenis tanaman, lama kelamaan dia ketagihan membeli tanaman dari lapak pinggir jalan sampai lapak online.

Ekawati pemilik bisnis tanaman hias Airy Garden Pekerja di Airy Garden (Foto: Dok. pribadi Ekawati)

"Lama-lama kok di kostan jadi penuh tanaman. Dari situlah, ide saya muncul, kenapa nggak jualan aja. Tapi saya masih dilema dan nggak percaya diri banget. Karena kan belum ada pengalaman packing-packing tanaman," kenangnya saat mulai usaha tanaman hias.

Wanita 39 tahun ini pun belajar bagaimana cara membungkus paket tanaman jika hendak dikirim ke luar kota. Dia kemudian mulai mengunggah foto-foto tanamannya ke Instagram Airy Garden.

"Pelan-pelan saya menjalankan bisnis dari sebuah garasi kostan. Waktu itu masih part time seller, karena saya masih kerja sebagai karyawan swasta. Kadang pagi-pagi saya berangkat kerja bawa-bawa paket. Terus pulang kerja, sebelum pulang ke kostan saya mampir belanja ke supplier, tiba di kosan lanjut packing buat kiriman besok," jelasnya.

Awalnya Eka mengerjakan semua usahanya sendirian. Terkadang dia dibantu oleh teman satu kostannya. Ia juga menerima plant styling atau membuat taman kecil-kecilan.

Hingga pada awal 2019, Eka menikah dan pindah dari kostannya di Rawamangun ke sebuah kontrakan di daerah Bintara, Bekasi Barat. Dia pun menyewa lahan kecil di depan kontrakannya dengan harga Rp 1,25 juta per tahun.

Resign Jadi Pekerja Kantoran

Pada Mei 2019 Eka membulatkan tekadnya untuk serius mengelola bisnis tanaman hiasnya. Dia pun memutuskan untuk berhenti bekerja sebagai pegawai swasta.

"Selain dikarenakan saya hamil juga saya ingin fokus mengurus bisnis. Di Bintara, Airy Garden merekrut satu orang karyawan tukang packing. Bisnis saya jalani sambil mabok awal kehamilan, masa-masa cukup berat saat itu, karena mood juga naik turun, customer semakin bertambah, perut besar harus belanja ke supplier, nyetir sendiri, anter paket ke ekspedisi, dan kadang-kadang juga ikut packing," kenangnya mengenai perjuangannya merintis Airy Garden.

Oktober 2019, Eka memutuskan untuk pindah ke kampung halamannya di Subang, Jawa Barat. Dia pun membawa satu mobil truk yang isi tanaman. Di Subang, Eka memulai bisnis tanaman hiasnya dari nol lagi. Karena dia kehilangan customer-customer yang biasa belanja melalui aplikasi ojek online ketika dia tinggal di Bekasi.

"Saya agak ciut saat itu. Apa bisa saya bisnis tanaman online di Subang, yang notabene kota kecil. Karena awal bisnis di Jakarta dan Bekasi, 90% customer saya adalah customer via ojek online. Tapi saya teringat akan satu kalimat: Bumi Allah itu luas, rejeki selalu ada disana, Allah sudah jamin," tambahnya.

Pelan-pelan Eka melanjutkan bisnis di Subang, sambil menunggu kelahiran bayinya. Ia pun merekrut saudara sepupunya untuk membantunya packing. Dia kemudian berusaha meyakinkan konsumen-konsumen lamanya untuk kembali berbelanja tanaman hias padanya.

"Kadang beberapa hari nggak ada orderan. Karena nggak mudah juga meyakinkan customer-customer lama saya di Jabodetabek untuk belanja kembali dengan posisi saya di Subang. Setelah kelahiran bayi saya, alhamdulillah pelan-pelan bisnis mulai ramai," ucapnya bahagia.

Eka memanfaatkan halaman depan dan kebun belakang rumah untuk usaha tanaman hiasnya. Dan seiring semakin ramainya hobi tanaman hias, konsumennya yang berada di Jabodetabek mulai belanja kembali padanya. Dan dia juga banyak mendapatkan konsumen baru dari seluruh wilayah Indonesia.

"Kita sudah pernah kirim tanaman mulai dari pulau Batam hingga ke Papua, bahkan banyak sekali buyer-buyer luar negeri yang DM atau WhatsApp ingin beli tanaman dari Airy. Cuma sayang, kita belum punya izin untuk ekspor tanaman ke luar negeri. Dan sementara masih kita jadikan next goal di masa mendatang," harapnya.

Modal Awal Rp 100 ribu

Eka mengaku memulai bisnisnya dengan modal yang kecil yaitu Rp 100 ribu. Karena dulu harga tanaman hias masih murah belum meroket seperti sekarang.

"Saya awalnya beli jenis caladium. Dulu kan harga tanaman murah-murah, dengan Rp 100 ribu bisa mendapatkan 5-10 tanaman," ujarnya.

Saat baru merintis usaha tanaman hias, Eka tak langsung menjual tanaman yang dibelinya. Dia merawat dulu tanaman-tanaman tersebut hingga beranak-pinak.

"Nah anak-anaknya saya jualin, indukannya pelihara. Tapi ada juga tanaman saya beli langsung jual lagi. Saya beli tanaman yang cepat perputarannya," kata Eka yang kini sudah memiliki delapan orang karyawan.

Ekawati pemilik bisnis tanaman hias Airy GardenEkawati pemilik bisnis tanaman hias Airy Garden (Foto: Dok. pribadi Ekawati)

Eka menuturkan sebelum pandemi Corona, omzet usaha tanaman hiasnya berkisar Rp 20 juta per bulan. Dan setelah pandemi di mana hobi tanaman hias menjadi tren, omzetnya pun melonjak bisa mencapai sekitar Rp 100-120 juta per bulan.

"Kita juga sekarang sedang expand bisnis. Kita mau membibitkan sendiri tanaman-tanaman yang biasanya kita beli dari para supplier. Alhamdulillah Oktober ini, sudah terbangun green house seluas 72 m² untuk penyimpanan dan perawatan tanaman hias. Dan beberapa hari lalu Airy Garden membeli lahan seluas 311m² untuk area pembibitan atau nursery. Dan masih ada dua ongoing project untuk tahun 2021, yaitu membuka tropical garden dan Offline plantshop Airy Garden," tuturnya mengenai pencapaian Airy Garden.

(dtg/dtg)