Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Produksi Masih 90% Impor Jadi Tantangan Elzatta Bangun Brand Hijab Global

Anggi Mayasari - wolipop
Kamis, 19 Okt 2017 16:01 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Foto: Intan Kemalasari/Wolipop
Jakarta - Nama Elzatta mungkin sudah tak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Brand hijab ini bisa dibilang cukup berkembang pesat seiring banyaknya konsumen yang memakai produk mereka. Meski memiliki ekspansi bisnis fashion hijab yang maju, Elzatta masih memiliki tantangan tersendiri.

Bagi pendiri brand hijab Elzatta, Elidawati, dirinya masih memiliki kesulitan untuk menjadi global brand yang kuat dan menjadi brand kebanggaan Indonesia. Hal itu disebabkan karena produksi hijab dan scarfnya masih sangat mengandalkan produk luar.
Produksi Masih 90% Impor Jadi Tantangan Elzatta Bangun Brand Hijab GlobalPendiri brand hijab Elzatta, Elidawati. Foto: Niken Widya Yunita

Berdiri pada 2012, produksi Elzatta didukung 100 persen oleh bahan impor. Ya, untuk produksi scarf, Elzatta mengimpor dari Turki dan China. Namun kini sudah 10 persen produknya seperti printing diambil dari produksi lokal.

"Kesana kemari kami cari pabrik di Indonesia, mana yang bisa produksi scarf. Dua tahun ini kami terus menggali lokal dan di tahun 2017 ini sudah kurang lebih 10 persen kontribusi lokal, kualitasnya baik dan harganya bisa bersaing. Tapi ini penuh perjuangan karena memang mereka nggak fokus di produsen scarf," tutur Elidawati pada acara Indonesia International Halal Lifestyle di Balai kartini, Jakarta Selatan, Kamis (19/10/2017)

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Elidawati, untuk bisa menjadi global brand harus kuat disegala sektor mulai dari kualitas produk, branding dan promosi, hingga harga yang mampu bersaing. Dan itu bisa tercapai dengan dukungan-dukungan dari pengusaha lokal.

"Kalau membrandingkan saja kuat tapi dari sisi kualitas produknya nggak, ya nggak akan jadi kuat. Tapi kalau dari kualitasnya bagus dan harga tidak bersaing, maka tidak akan kuat juga. Harga bersaing dan kualitas kuat ini harus disupport disisi hulunya oleh pengusaha yang bergerak di bidang printing, gerainya, yang melahirkan koleksi-koleksi untuk scarf," jelas Elidawati.

"Inilah yang jadi fokus kami, dan saya targetin di tahun depan 25 persen produksinya harus dari lokal, dan itu kalau kita taruh di toko diminati juga. Produk-produk yang kami develop dari lokal ini tidak kalah dari luar," tambahnya.

Aga menjadi brand fashion hijab kebanggaan Indonesia, Elzatta juga mengharapkan bantuan pemerintah. Elidawati pun setuju dengan peraturan pemerintah yang menerapkan biaya bahan-bahan import harus lebih mahal, sehingga mendorong pengusaha lokal untuk kreatif dan tumbuh.

"Mungkin ada skema pembiayaan, skema dalam pembayaran peminjaman modal kerja, dan ada keberpihakan kalau nggak nanti kita nggak tau deh cuma mimpi doang buka toko di London dan Paris," pungkas Elidawati. (agm/agm)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads