Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Kisah Mualaf Samanta Elsener, Adik Darius Sinathrya Temukan Damai Lewat Islam

Gresnia Arela Febriani - wolipop
Kamis, 12 Mar 2026 07:00 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Samanta Elsener, adik Darius Sinathrya, mualaf usai cari ketenangan batin. Sempat riset berbagai agama, ia temukan damai lewat Islam sebagai proses healing.
Foto keluarga Darius dan Samanta. Foto: Dok. Instagram @samanta.elsener.
Jakarta -

Sosok Samanta Elsener, adik dari pembawa acara Darius Sinathrya membagikan kisah personal mengenai keputusan untuk memeluk agama Islam. Kisah mualaf psikolog dan penulis ini langsung mencuri atensi publik di jagat maya.

Melalui obrolan mendalam di kanal YouTube bersama Melaney Ricardo, Samanta secara terbuka membedah perjalanan batinnya yang penuh liku. Mulai dari dukanya kehilangan ibu di usia balita hingga pencarian intelektual terhadap berbagai agama sebelum akhirnya mantap memeluk Islam.

Samanta Elsener, adik Darius Sinathrya, mualaf usai cari ketenangan batin. Sempat riset berbagai agama, ia temukan damai lewat Islam sebagai proses healing.Samanta Elsener, adik Darius Sinathrya, mualaf usai cari ketenangan batin. Sempat riset berbagai agama, ia temukan damai lewat Islam sebagai proses healing. Foto: Dok. Instagram @samanta.elsener.

"Jadi, ada empat bersaudara. Yang pertama wanita, Darius yang kedua, saya yang ketiga, dan di bawah saya ada satu lagi. Saya 37 tahun tahun ini. (Dulu Katolik) ibu saya Katolik. Ayah dulu seorang Muslim, lalu ketika kami semua dibaptis Katolik, ayah juga ikut menjadi Katolik. Ayah datang dari keluarga yang sangat multikultural dengan toleransi agama yang tinggi, sementara ibu adalah penganut Katolik Roma," ungkap Samanta.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lahir dalam keluarga Katolik yang taat, psikolog dan penulis ini mengungkapkan menyimpan luka batin sejak usia tiga setengah tahun ketika sang ibu meninggal dunia. Kehilangan figur ibu di usia yang sangat dini memicu perasaan hampa dan sendirian yang terus membekas hingga ia dewasa.

Samanta Elsener, adik Darius Sinathrya, mualaf usai cari ketenangan batin. Sempat riset berbagai agama, ia temukan damai lewat Islam sebagai proses healing.Samanta Elsener, adik Darius Sinathrya, mualaf usai cari ketenangan batin. Sempat riset berbagai agama, ia temukan damai lewat Islam sebagai proses healing. Foto: Dok. Instagram @samanta.elsener.

"Ibu saya orang Swiss asli dan ayah saya blasteran. Ayah orang Jawa. Ibu saya benar-benar kulit putih. Mereka bertemu di Swiss saat ayah sedang bermain band di sebuah kafe. Mereka akhirnya menikah meski berbeda keyakinan," jelasnya.

ADVERTISEMENT

Sampai akhirnya saat Samanta dan keluarga tinggal di Yogyakarta, ketika ia berumur dua tahun, mereka semua dibaptis. Dan tidak lama setelah itu ayahnya berpindah keyakinan.

Beberapa bulan kemudian ibunya meninggal. Ia tidak terlalu ingat kejadiannya karena saat itu masih berumur tiga setengah tahun. Lima tahun setelah ibu tiada, ayahnya menikah lagi.

"Tetapi kami tidak tinggal di rumah yang sama. Kami tinggal di rumah sendiri bersama saudara-saudara, termasuk Darius. Ada pengasuh yang menjaga kami. Sampai akhirnya di masa sekolah menengah, saya mulai menyadari banyak hal. Ayah memiliki yayasan di Yogyakarta dan kami tinggal di lingkungan yang beragam. Dari situ muncul banyak diskusi. Saya mulai kritis dan bertanya hal-hal yang mungkin terdengar konyol, seperti mengapa Adam memakan buah terlarang," lanjutnya.

Samanta Elsener, adik Darius Sinathrya, mualaf usai cari ketenangan batin. Sempat riset berbagai agama, ia temukan damai lewat Islam sebagai proses healing.Samanta Elsener, adik Darius Sinathrya, mualaf usai cari ketenangan batin. Sempat riset berbagai agama, ia temukan damai lewat Islam sebagai proses healing. Foto: Dok. Instagram @samanta.elsener.

Meski tumbuh dalam lingkungan religius yang kuat bahkan memiliki kapel pribadi di rumah dan rutin berdoa setiap malam, Samanta mengaku sulit menemukan jawaban atas dukanya. Ia mulai bersikap kritis sejak remaja, sering kali melontarkan pertanyaan-pertanyaan teologis yang dianggap "menjengkelkan" oleh orang-orang di sekitarnya karena ia membutuhkan jawaban yang logis.

"Bukan kemarahan kepada Tuhan, tapi kesedihan yang mendalam. Mengapa ibu harus meninggalkanku? Mengapa dia yang dipanggil? Saya merasa tidak nyaman hidup sendirian," ungkap Samanta saat mengenang masa kecilnya.

Samanta Elsener, adik Darius Sinathrya, mualaf usai cari ketenangan batin. Sempat riset berbagai agama, ia temukan damai lewat Islam sebagai proses healing.Samanta Elsener, adik Darius Sinathrya, mualaf usai cari ketenangan batin. Sempat riset berbagai agama, ia temukan damai lewat Islam sebagai proses healing. Foto: Dok. Instagram @samanta.elsener.

Sebelum menemukan pelabuhannya di Islam, Samanta melakukan riset mendalam terhadap berbagai keyakinan. Sebagai sosok yang haus akan pengetahuan spiritual, ia sempat mempelajari Buddhisme karena tertarik pada pola hidup sehatnya, hingga mendalami Hinduisme dan Yudaisme.

Menariknya, Islam justru menjadi agama terakhir yang ia pelajari. Hal ini dikarenakan tingginya isu Islamofobia pada masa itu, yang sempat membuatnya menaruh prasangka. Namun, semua berubah ketika ia menempuh pendidikan tinggi di kawasan Grogol, Jakarta Barat.

Reaksi Darius Sinathrya dan Keluarga

Samanta Elsener, adik Darius Sinathrya, mualaf usai cari ketenangan batin. Sempat riset berbagai agama, ia temukan damai lewat Islam sebagai proses healing.Samanta Elsener, adik Darius Sinathrya, mualaf usai cari ketenangan batin. Sempat riset berbagai agama, ia temukan damai lewat Islam sebagai proses healing. Foto: Dok. Instagram @samanta.elsener.


Berbincang dengan Melaney Ricardo, titik balik spiritual Samanta terjadi secara organik. Setiap kali berangkat ke kampus, ia selalu melewati sebuah masjid yang memberikan sensasi ketenangan yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.

"Apa yang mengejutkan saya adalah hanya melakukan pergerakan itu (gerakan salat) membuat saya merasa tenang. Padahal saat itu saya belum mualaf. Atmosfer positif itu yang menarik saya," kenang Samanta mengenai awal mula ketertarikannya pada Islam.

Melalui interaksi dengan teman-teman Muslim di sekolah negeri dan lingkungan kampus, Samanta menyadari bahwa Islam jauh dari citra negatif yang selama ini ia dengar. Ia menemukan bahwa Islam menawarkan kedamaian batin dan jawaban atas kegelisahan jiwanya selama ini.

Meskipun memutuskan untuk berpindah keyakinan, Samanta tetap menjaga hubungan baik dengan keluarganya. Ayahnya, yang sempat berpindah dari Islam ke Katolik demi pernikahan, memiliki tingkat toleransi yang tinggi. Dukunga juga datang dari sang kakak, Darius Sinathrya, dan iparnya, Donna Agnesia.

Bagi Samanta, menjadi mualaf bukanlah tentang memberontak, melainkan sebuah proses penyembuhan diri dan menemukan jalan yang paling "pas" untuk jiwanya. Ia kini merasa lebih damai dan mampu berdamai dengan masa lalunya yang penuh duka.

(gaf/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads