ADVERTISEMENT

Brand Hijab Rabbani Salahkan Korban Pelecehan, Komnas Perempuan Sebut Sesat

Gresnia Arela Febriani - wolipop Rabu, 11 Jan 2023 06:00 WIB
Konten Instagram brand hijab dan busana muslim, Rabbani kembali menjadi kontroversi di media sosial. Foto: Dok. Instagram @rabbaniprofesorkerudung.
Jakarta -

Direktur Marketing Rabbani, Ridwanul Karim memberikan klarifikasi usai brandnya dikritik karena berpromosi dengan menyampaikan sederet kalimat yang menyudutkan wanita terkait pelecehan seks. Dalam konten promosinya Rabbani menyebutkan wanita yang berpakaian terbuka itu bodoh dan mengundang pria untuk berpikiran buruk.

"Ketika perempuan berpakaian minim. Jika terjadi pelecehan. Siapakah yang salah? Posisi wanita tidak salah jika dilihat dari sudut wanita karena setiap wanita berhak menggunakan pakaian apapun. Jadi laki-lakinya aja yang mesum. Namun jika dilihat dari sudut pandangan pria. Wanita yang berpakaian terbuka itu bodoh. Tidak ada asap tidak ada api. Wanita yang berpakaian terbuka akan mengundang seorang pria yang berniat berpikiran buruk," tulis dalam keterangan video Rabbani.

Saat menyampaikan klarifikasi, Ridwanul mengatakan konten yang sedang ramai menjadi perbincangan di Instagram Rabbani adalah jenis konten edukasi yang memang sering dibuat oleh Rabbani.

"Itu postingan di IG (instagram) kita, itu bervariatif ada yang sifatnya edukasi, kajian dan memang produk. Kalau postingan ini masuknya ke postingan edukasi, makanya bentuknya pertanyaan kan," kata Karim saat dikonfirmasi detikJabar di Trans Luxury Hotel Bandung, Jumat (30/12/2022). KLIK DI SINI untuk membaca penjelasan dari Rabbani.

Ridwanul Karim kemudian juga memberikan klarifikasi saat menjadi bintang tamu channel YouTube Kasisolusi. Saat diwawancara itu, dia menggunakan data statistik Komnas Perempuan. Dia mengatakan berdasarkan data tersebut pakaian yang terbuka menjadi salah satu penyebab pelecehan seksual.

Lembaganya disebut dan digunakan Rabbani untuk membenarkan iklan promosi mereka yang menyalahkan korban pelecehan seks, Komnas Perempuan angkat bicara. Komisioner Komnas Perempuan Siti Aminah Tardi menegaskan Komnas Perempuan selama 20 tahun (2003 - 2022) tidak pernah menyebutkan bahwa pakaian perempuan yang terbuka menjadi pemicu terjadinya kekerasan seksual.

Komnas Perempuan Sebut Klaim Rabbani Menyesatkan

Siti Aminah Tardi mengatakan pernyataan dari Direktur Marketing Rabbani, Ridwanul Karim yang disampaikan pada menit 02.05 - 02.25 YouTube Kasisolusi menyesatkan. Sebab, Ridwanul menyebutkan menggunakan data dari Komnas HAM Perempuan.

"Berkali-kali narasumber dan host menyebutkan nama "Komnas Perempuan" sebagai rujukan data yang dibahas, termasuk menyebutkan faktor-faktor terjadinya kekerasan, termasuk cara berpakaian perempuan," jelas Siti Aminah Tardi .

"Berdasarkan pengaduan yang datang langsung ke Komnas Perempuan, pakaian perempuan tidak signifikan sebagai penyebab kekerasan seksual, semua dapat terjadi pada perempuan berpakaian terbuka hingga pakaian yang tertutup. Demikian pula dalam hal usia, perempuan korban kekerasan seksual terentang mulai dari anak perempuan berusia 8 tahun sampai perempuan lansia," lanjut Siti Aminah Tardi.

Sekadar informasi, Komnas Perempuan sebagai Lembaga Negara Hak Asasi Manusia setiap tahun meluncurkan catatan tahunan (catahu), yang merupakan kompilasi data kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia. Dalam catahu Komnas Perempuan 2022 tercatat jumlah kekerasan seksual sebanyak 4.660 kasus, dengan pelakunya mayoritas orang-orang yang dikenal atau dekat dengan korban, bukan orang tak dikenal yang tertuju pada busana tertentu.

"Oleh karena itu, penggunaan data Komnas Perempuan bahwa kekerasan seksual disebabkan oleh pakaian yang terbuka tidak benar, dan merupakan disinformasi atau menyebarkan informasi menyesatkan, hal yang dapat melanggar peraturan perundang-undangan," tegas Siti.

Pandangan tersebut juga menggambarkan rape culture yang menempatkan perempuan sebagai penyebab terjadinya pelecehan seksual atau kekerasan seksual. Komnas Perempuan menyatakan dengan tegas menolak penyebutan data Komnas Perempuan untuk mendukung iklan yang disampaikan oleh Rabbani.

"Penyataan dalam iklan Rabbani merupakan tindakan misoginis dan melekatkan stigma bahwa perempuan adalah penyebab terjadinya kekerasan seksual. Rabbani dan Kasisolusi agar menarik iklan tersebut dan meminta maaf atas kesengajaan termasuk penyebutan menyesatkan pemirsa seolah informasi iklan tersebut berasal dari 'data Komnas Perempuan'," tutur Siti.

Komnas Perempuan meminta Youtuber atau influencer dalam mengutip data kekerasan terhadap perempuan mengacu pada sumber resmi Komnas Perempuan melalui www.komnasperempuan.go.id.

Siti Aminah Tardi pun mengajak dunia usaha, seperti Rabbani, terlibat dalam upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Seharusnya para pelaku usaha tidak menjadikan kekerasan terhadap perempuan sebagai komoditi iklan, terutama dengan menyampaikan informasi yang tidak benar.

Komnas Perempuan menegaskan cara berpakaian wanita bukanlah penyebab terjadinya kekerasan seksual. Oleh karena itu, Siti Aminah Tardi menegaskan, para wanita seharusnya mengabaikan saja iklan Rabbani dan klarifikasinya yang viral di YouTube.

"Perempuan berhak mengekspresikan cara berpakaiannya. Berpakaian dengan berjilbab ataupun tidak berjilbab, berjilbab dengan berbagai bentuk jilbab maupun merk adalah sama baiknya dan tidak memiliki hubungan dengan kekerasan yang dialami korban kekerasan," pungkas Siti kepada Wolipop.

(gaf/eny)