Wanita Bercadar Jadi Teroris, Pendiri Niqab Squad: Kami Jadi Ikut Terfitnah

Gresnia Arela Febriani - wolipop Kamis, 01 Apr 2021 12:45 WIB
niqab squad Diana Nurliana (kiri) dan Indadari Mindrayanti (kanan). Foto: Gresnia Arela/Wolipop.
Jakarta -

Wanita bercadar kembali menjadi perbincangan warganet, usai terjadi penyerangan di Markas Besar Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta Selatan, Rabu (31/3/2021). Pelakunya yang diketahui bernama Zakiah Aini masuk ke Mabes Polri, menodongkan senjata api, hingga akhirnya ditembak mati di lokasi.

Sebelumnya pasutri berinisial L (suami) dan YSF (istri), melakukan serangan bom bunuh diri ke Gereja Katedral Makassar pada Minggu (28/3) pagi. Saat itu, misa di Gereja telah selesai. Sang istri menggunnakan cadar dan gamis warna hitam. Stigma negatif pun kembali dialami oleh wanita bercadar.

Indadari Mindrayanti sebagai pendiri komunitas untuk wanita bercadar, Niqab Squad Indonesia mengungkapkan kesedihan dan keprihatinannya atas kejadian tersebut. Dia mengatakan kini wanita bercadar jadi ikut terfitnah akibat tindakan oknum yang melakukan teror dengan menggunakan cadar.

"Dampak bagi teman-teman Niqab Squad dan lainnya tentu saja besar ya. Kami jadi ikut terfitnah dengan pemikiran cadar itu teroris. Kamu jadi ikut terkena dampak buruknya dengan pandangan negatif," ujar Indadari Mindrayanti saat dihubungi Wolipop, Kamis (1/4/2021).

Indadari mengutarakan dia dan anggota Niqab Squad menggunakan cadar karena ingin menjalankan sunnah Nabi Muhammad SAW. Pemakaian cadar bukanlah dilakukan untuk kejahatan.

"Menggunakan cadar karena ingin menjalankan Sunnah, mencontoh Istri Nabi bukan untuk berbuat jahat apalagi sampai menggunakan cadar untuk melakukan teror, cadarnya digunakan untuk menutupi wajahnya bukan untuk menggugurkan dosanya," tegas Indadari.

Wanita berniqab ingin menjalankan sunnah Nabi.Wanita berniqab ingin menjalankan sunnah Nabi. Foto: Dok. Instagram @by_indadari.

Komunitas Wanita Bercadar, Niqab Squad

Indadari sebagai pendiri komunitas bercadar yang bernama Niqab Squad pernah mengungkapkan komunitas tersebut dibuatnya untuk membuktikan cadar bukan halangan untuk bekerja.

Niqab Squad adalah komunitas yang terdiri dari kumpulan wanita mengenakan niqab atau cadar dari berbagai macam latar belakang dan profesi. Ada yang bekerja sebagai kepala sekolah, fotografer, perancang busana hingga dokter.

Indadari yang akrab disapa Inda itu menceritakan ide awal membentuk komunitas Niqab Squad terjadi pada 2016 saat sedang mengobrol dengan desainer bercadar Diana Nurliana. Mereka merasa perlu ada wadah untuk silaturahmi wanita bercadar yang kini jumlahnya semakin banyak.

Wanita 38 tahun itu menjelaskan tujuannya membentuk komunitas bercadar atau niqab untuk merangkul wanita-wanita berniqab maupun yang belum berniqab. "Namanya hijrah itu kan susah, jadi kita kalau bareng-bareng itu kan lebih mudah dan kami menfasilitasi," jelas Indadari.

Pemilihan nama Niqab Squad yang lebih kekinian sengaja dipilih Indadari. Selain itu, pada saat itu komunitas dengan nama depan hijab sudah banyak digunakan.

"Karena aku berniqab ya sudah aku pilih namanya niqab aja. Nama itu kita sering dibully karena memang lebih diterima masyarakat di luar dan orang awam sekalipun. Biar lebih ear catchy, lebih beda aja gitu," ucap ibu dua anak ini.

Sejak berdiri pada 2016 hingga kini, Niqab Squad semakin berkembang. Menuru istri dari Andre Saddam ini, anggota Niqab Squad jumlahnya sudah hampir 5.000 orang yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Ada juga anggota yang tinggal di Malaysia dan Taiwan.

niqab squadKomunitas Niqab Squad. Foto: Gresnia Arela/Wolipop.

Saat gathering anggota Niqab Squad digelar, para anggota akan mendengarkan kajian. Selain itu momen tersebut juga menjadi ajang untuk saling menyemangati satu sama lain untuk konsisten berhijrah.

Desainer Diana Nurliana yang juga pendiri Niqab Squad menambahkan, tujuan gathering adalah agar para anggota yang sudah berhijrah selalu semangat menjalankan hijrahnya.

"Ada banyak cerita yang lucu dan menyedihkan. Ternyata kita nggak sendiri. Kita suka merasa kita sendiri akhirnya patah semangat. Kalau ketemu gitu akhirnya lebih semangat. Kita juga ada divisi kajian, keterampilan, karena ada yang jago masak, ada yang anak SMA," cerita wanita lulusan Jurusan Psikologi Pendidikan Universitas Islam As-Syafiiyah itu.

Diana berharap dengan hadirnya Niqab Squad juga bisa membuka pikiran orang lain. Wanita bercadar tidak selalu kaum ekstrimis atau istri teroris tapi sama seperti wanita lainnya.

(gaf/eny)