Kisah Wanita Mualaf dari Prancis yang Menemukan Cinta di Bandung

Gresnia Arela Febriani - wolipop Kamis, 30 Apr 2020 08:00 WIB
maria mualaf Maria, wanita Prancis yang menjadi mualaf dan menemukan cinta di Bandung. Foto: instagram @muslimaria1
Jakarta -

Maria berbagi kisah inspiratifnya menemukan keindahan Islam saat usianya remaja. Kini tinggal di Indonesia, siapa sangka Maria menemukan cintanya di Bandung.

Pada bagian pertama (bisa dibaca di sini), Wolipop sudah berbagi kisah Maria, seorang hijabers cantik dari Prancis yang memutuskan memeluk Islam setelah orangtuanya menjadi atheis. Kini di bagian kedua cerita Maria, wanita 24 tahun itu menceritakan perjalanannya ke Indonesia.

Maria mengaku selain membaca, nonton film animasi Jepang dan memasak, hobinya yang lain adalah travelling. Dia pun memutuskan melakukan perjalanan ke Indonesia pada Agustus 2019 sekaligus untuk menimba ilmu.

maria mualafMaria, wanita Prancis yang menjadi mualaf dan menemukan cinta di Bandung. Foto: instagram @muslimaria1


"Aku belajar di University of Burgundy, Dijon, Prancis. Aku sedang mempersiapkan diri menjadi sarjana bahasa Spanyol dan Inggris. Aku tiba di Indonesia pada akhir Agustus 2019. Aku kini tinggal di Bandung dan belajar bahasa Indonesia di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung," ceritanya saat diwawancara Wolipop melalui WhatsApp pada Senin (27/4/2020).

Sebelumnya, Maria pernah berkunjung ke negara tetangga Indonesia yaitu Malaysia. Dia dan keluarganya travelling ke Kuala Lumpur dan Kuala Terengganu beberapa tahun lalu.

"Ini adalah pertama kalinya aku datang ke Indonesia. Saat tiba, aku langsung menuju kota Bandung dan aku belum bisa mengunjungi kota lain selain Bandung," tuturnya.

Wanita yang menjadi mualaf di usia hampir 15 tahun itu memilih tinggal di Bandung, karena ada pujaan hatinya. Dia dan pria Bandung itu sudah lebih dari setahun menjalin cinta. Keduanya berencana menikah namun karena ada Corona, keinginan tersebut harus tertunda.

maria mualafMaria, wanita Prancis yang menjadi mualaf dan menemukan cinta di Bandung. Foto: instagram @muslimaria1


Tinggal di Indonesia setelah sebelumnya menetap di Prancis di mana dia merasa ruang geraknya sebagai muslim sangat terbatas, Maria mengaku sangat menikmati hari-harinya. Adanya pandemi Corona di Indonesia menurutnya juga menjadi hikmah tersendiri.

"Ramadhan kali ini khusus karena ada dua alasan, secara global semua orang harus karantina mandiri karena untuk mencegah penyebaran COVID-19. Dan akhirnya aku bisa menikmatinya dan belajar lebih bebas untuk memperdalam agama Islam," ujarnya.

Maria yang tidak bisa berbahasa Indonesia dengan baik kesulitan mengikuti ceramah dari ulama di Tanah Air. Akhirnya kini dia memilih mendengarkan tausyiah dari tokoh dan lembaga Amerika Serikat yang berbahasa Inggris.

"Selain itu, aku juga mengikuti cerita inspiratif dari beberapa orang di jejaring sosial, mereka sering memberikan nasihat yang baik. Biasanya aku berbagi tentang hal itu di Instagram," kata pemilik akun Instagram @muslimmaria1 itu.


Setelah memeluk Islam dan tinggal di Indonesia di mana sebagian besar penduduknya adalah muslim, Maria semakin merasakan indahnya agama Allah SWT ini. Berikut kesannya mengenai Islam.

"Islam adalah satu-satunya caraku untuk menemukan bahwa wanita akhirnya dianggap, dihormati dan dirawat (dihargai). Ini bukan agama yang rumit tetapi lengkap, semuanya ada di sana. Kita hanya perlu meluangkan waktu untuk mempelajarinya dan kemudian secara bertahap meningkatkannya," kata Maria.

Dia melanjutkan, "Di negaraku sering dikatakan bahwa seseorang harus 'menikmati hidup' (Il faut "profiter de La Vie") yang berarti bahwa seseorang harus melakukan hidup mewah, sebelum tidak bisa melakukannya (karena usia tua, sakit atau kemiskinan). Dalam Islam, "menikmati hidup" adalah kesopanan, moderasi dan di atas semua itu adalah ketulusan. Jadi apakah kamu tulus dengan dirimu sendiri? Siapakah yang akan kamu sembah? Bagaimana kamu menikmati saat ini (kehidupan) dari Allah SWT."



Simak Video "LDR sama Keluarga, Bikin Hampers Sendiri Yuk! "
[Gambas:Video 20detik]
(gaf/hst)