Mengenal Wearing Klamby, Olshop yang Sering Sold Out dalam Hitungan Detik

Silmia Putri - wolipop Selasa, 30 Apr 2019 11:07 WIB
Koleksi Wearing Klamby. Foto: Instagram/WearingKlamby Koleksi Wearing Klamby. Foto: Instagram/WearingKlamby

Jakarta - Seiring berkembangnya industri digital, ada fenomena baru dalam aksi jual beli di media sosial. Sejumlah online shop berhasil melakukan pemasaran yang tepat sehingga menggaet banyak pelanggan setia.

Salah satunya adalah Wearing Klamby, brand busana muslim besutan suami istri Nadine Gaus dan Muhammad Ridho. Popularitas Wearing Klamby meningkat pesat di tahun 2016, setelah keduanya memutuskan untuk fokus menjalankan bisnis.

Keduanya masih terbilang sangat muda. Di tahun 2019 saja, Ridho dan Nadine baru menginjak usia 26 tahun. Namun, kini mereka sudah memiliki sekitar 100 karyawan termasuk penjahit sendiri. Mereka juga memberdayakan anak-anak muda untuk menjadi tim mereka.

Mengenal Wearing Klamby, Olshop yang Sering Sold Out dalam Hitungan DetikPemilik Wearing Klamby, Nadine Gaus dan Muhammad Ridho. Foto: Instagram/WearingKlamby


"Sebenarnya yang mulai itu istriku Nadine di tahun 2013. Cuma kita mulai fokus setelah menikah tahun 2015, dan melesat di tahun 2016" ungkap Muhammad Ridho selaku CEO Wearing Klamby kepada Wolipop di acara HC Day, Kota Kasablanka, Sabtu (27/04/2019).

Konsisten merilis produk yang sesuai dengan taste dan idealisme mereka, Wearing Klamby memperoleh pelanggan yang membludak. Instagram-nya kini memiliki 935 ribu followers. Di setiap peluncuran koleksi baru, ada ribuan baju terjual dalam hitungan detik saja. Tak jarang, website Wearing Klamby mengalami 'down' karena banyaknya visitor yang datang.

"Bahkan kita upload (koleksi baru) diem-dieman, nggak info ke customer. Karena kalau enggak website kita sampai down. Kita lagi building website baru. Selesai habis lebaran, jadi mau nggak mau kita kucing-kucingan," tutur lulusan Teknik Mesin ini.

Mengenal Wearing Klamby, Olshop yang Sering Sold Out dalam Hitungan DetikKoleksi Lebaran Wearing Klamby. Foto: Silmia Putri/Wolipop


Ada banyak faktor yang membuat brand tersebut merebut hati banyak hijabers. Yang paling kuat adalah menurut Ridho adalah kualitas produk. Ia mengungkap istrinya sangat detail dan idealis dalam meluncurkan koleksi busana.

"Untuk harga segini dengan kualitas segini itu affordable. Saya nggak bilang murah. Untuk desain, kita memang benar-benar mengeluarkan yang baru. Kita sampai punya mesin printing sendiri, biar lebih bebas nyoba-nyoba print kain," tutur pria asal Jakarta ini.

Harga yang dibandrol untuk setiap koleksinya memang bisa dibilang affordable. Dengan harga Rp 400 ribuan, pelanggan sudah bisa mendapatkan dress dengan exclusive printed fabric. Harga tunik basic juga dijual di bawah Rp 200.000. Hal ini yang membuat para pelanggan merasa 'worth it' untuk berebut produk di website Wearing Klamby.

Salah satu koleksi fenomenal yang menarik ratusan hingga ribuan pasang mata adalah koleksi Lebaran yang sudah diluncurkan sebelum Ramadan. Koleksi tersebut terdiri dari lima batch dan baru dikeluarkan dua batch. Pada peluncuran batch kedua di HC Day, pada Sabtu (27/04/2019) kemarin, ada ratusan orang siap mengantre untuk membeli produk tersebut.

Mengenal Wearing Klamby, Olshop yang Sering Sold Out dalam Hitungan DetikAntrian Wearing Klamby di HC Day. Foto: Instagram/WearingKlamby

Bahkan, Ridho harus membatasi nomor antrian hingga 500 orang saja. Para pelanggan datang dari berbagai daerah, dari Bekasi hingga Jambi. Antrian panjang tersebut membuat mereka harus menunggu 10-12 jam.

"Sebenernya kita juga nggak mau ya pelanggan kita repot-repot, kecapean kayak gini. Tapi kita sudah mempersiapkan semaksimal yang kita bisa. Mungkin karena ini juga kali pertama kita buka offline dan ready stock, jadi animonya luar biasa," tutur Ridho.

Rencananya, masih akan ada tiga koleksi Lebaran yang siap diluncurkan. Dua koleksi sebelumnya sudah sold out sebelum Ramadan tiba. Ridho berharap Wearing Klamby bisa terus memberikan produk terbaik untuk pelanggannya. (sil/sil)