Hijabers Ini Akhirnya Bertemu Obama Pasca Kirim Surat karena Islamophobia
Arina Yulistara - wolipop
Rabu, 31 Agu 2016 16:08 WIB
Jakarta
-
Wanita berhijab di dunia masih banyak yang menjadi korban Islamophobia hanya karena menggunakan jilbab. Beberapa wanita yang tinggal di kawasan Amerika Serikat pun pernah mengalaminya.
Tak sedikit wanita yang mengungkapkan perasaan sedih dan kecewanya lewat media sosial setelah mendapatkan perlakuan tak menyenangkan dari orang lain hanya karena ia berhijab. Begitu pula dengan Aisha Osman yang mengaku sering diejek karena hijab serta warna kulitnya.
Curahan hati wanita berkulit hitam tersebut tidak hanya dilontarkan melalui media sosial miliknya tapi juga sebuah surat untuk Presiden Amerika Serikat, Barack Obama. Beberapa bulan yang lalu masih di 2016, Osman mengetik surat untuk Obama mengenai pengalamannya menjadi warga muslim di Amerika.
Remaja 15 tahun itu bercerita melalui suratnya kalau ia sering diintimidasi karena berhijab. Osman menuturkan seringkali beberapa temannya serta orang lain memberikan tatapan penuh tanya mengenai ras, agama, dan identitas wanita yang menempuh pendidikan di Aloha High School, Oregon, Amerika Serikat itu.
Osman juga pernah disebut teroris oleh beberapa temannya. Ejekan tersebut membuatnya sedih karena teman-teman yang memanggil ia teroris melihat dari penampilannya saja. Bahkan ia sampai ingin melepas jilbabnya. Tidak tahan dengan perasaan tak nyaman karena sikap diskriminasi yang terjadi terhadap Osman, ia pun nekad menulis surat untuk Obama.
"Ada saat-saat di mana aku ingin melepas jilbabku dan meninggalkan identitasku sehingga aku bisa merasa cocok dengan teman-temanku. Tapi sekarang aku lega karena sudah bisa mengirimkannya," ujar Osman dilansir dari USA Today.
Setelah mengirimkan surat kepada Obama, Osman awalnya berpikir karena ia seorang remaja maka suaranya tidak akan didengar. Namun ternyata tidak, surat Osman sampai di tangan Obama dan ia pun diundang untuk bertemu dengan orang nomor satu di Amerika itu.
Pada Juli lalu dalam perayaan Idul Fitri, Osman berjalan ke White House dan berjabat tangan dengan Obama. Remaja berdarah Afrika-Amerika itu merasa senang dan bangga terlebih lagi ketika Obama memperkenalkannya di depan orang-orang yang hadir di White House kala itu.
"Dia adalah warga Amerika muda, penuh impian, penuh tanggung jawab, tapi ia ketakutan karena imannya. Kita sudah lihat lonjakan masyarakat muslim di Amerika termasuk anak-anak, mereka diserang, masjid menjadi sasaran terutama di penghujung Ramadan. Ini seharusnya tidak terjadi di Amerika," papar Obama saat berpidato di atas podium.
Osman lahir pada 2001 lalu. Ayahnya berimigrasi ke Amerika Serikat pada 1996. Sejak kejadian teror pesawat menghancurkan menara kembar Amerika WTC pada tahun yang sama dengan kelahiran Osman, keluarga mereka dikucilkan di Oregon.
Osman dan dua adiknya sering diberitahu tetangga untuk kembali ke negara mereka. Tapi ia bertahan karena menurutnya, Oregon adalah tempat kelahirannya. Hingga saat ini Osman sudah kebal dengan ejekan yang ia dapat hanya karena hijab dan imannya.
Osman pun berharap setelah bertemu Obama ia bisa menunjukkan bahwa Islam bukanlah agama yang berbahaya. Ia pun memiliki cita-cita ingin menjadi aktivitas terkait hak asasi manusia untuk membantu meredakan Islamophobia. (aln/dng)
Tak sedikit wanita yang mengungkapkan perasaan sedih dan kecewanya lewat media sosial setelah mendapatkan perlakuan tak menyenangkan dari orang lain hanya karena ia berhijab. Begitu pula dengan Aisha Osman yang mengaku sering diejek karena hijab serta warna kulitnya.
Curahan hati wanita berkulit hitam tersebut tidak hanya dilontarkan melalui media sosial miliknya tapi juga sebuah surat untuk Presiden Amerika Serikat, Barack Obama. Beberapa bulan yang lalu masih di 2016, Osman mengetik surat untuk Obama mengenai pengalamannya menjadi warga muslim di Amerika.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
![]() |
Osman juga pernah disebut teroris oleh beberapa temannya. Ejekan tersebut membuatnya sedih karena teman-teman yang memanggil ia teroris melihat dari penampilannya saja. Bahkan ia sampai ingin melepas jilbabnya. Tidak tahan dengan perasaan tak nyaman karena sikap diskriminasi yang terjadi terhadap Osman, ia pun nekad menulis surat untuk Obama.
"Ada saat-saat di mana aku ingin melepas jilbabku dan meninggalkan identitasku sehingga aku bisa merasa cocok dengan teman-temanku. Tapi sekarang aku lega karena sudah bisa mengirimkannya," ujar Osman dilansir dari USA Today.
Setelah mengirimkan surat kepada Obama, Osman awalnya berpikir karena ia seorang remaja maka suaranya tidak akan didengar. Namun ternyata tidak, surat Osman sampai di tangan Obama dan ia pun diundang untuk bertemu dengan orang nomor satu di Amerika itu.
Pada Juli lalu dalam perayaan Idul Fitri, Osman berjalan ke White House dan berjabat tangan dengan Obama. Remaja berdarah Afrika-Amerika itu merasa senang dan bangga terlebih lagi ketika Obama memperkenalkannya di depan orang-orang yang hadir di White House kala itu.
"Dia adalah warga Amerika muda, penuh impian, penuh tanggung jawab, tapi ia ketakutan karena imannya. Kita sudah lihat lonjakan masyarakat muslim di Amerika termasuk anak-anak, mereka diserang, masjid menjadi sasaran terutama di penghujung Ramadan. Ini seharusnya tidak terjadi di Amerika," papar Obama saat berpidato di atas podium.
![]() |
Osman lahir pada 2001 lalu. Ayahnya berimigrasi ke Amerika Serikat pada 1996. Sejak kejadian teror pesawat menghancurkan menara kembar Amerika WTC pada tahun yang sama dengan kelahiran Osman, keluarga mereka dikucilkan di Oregon.
Osman dan dua adiknya sering diberitahu tetangga untuk kembali ke negara mereka. Tapi ia bertahan karena menurutnya, Oregon adalah tempat kelahirannya. Hingga saat ini Osman sudah kebal dengan ejekan yang ia dapat hanya karena hijab dan imannya.
Osman pun berharap setelah bertemu Obama ia bisa menunjukkan bahwa Islam bukanlah agama yang berbahaya. Ia pun memiliki cita-cita ingin menjadi aktivitas terkait hak asasi manusia untuk membantu meredakan Islamophobia. (aln/dng)












































