Strategi Brand Hijab Ekspansi Toko Offline di Mall di Tengah Perubahan Pasar
Saat penurunan daya beli membayangi dan adanya ketidakpastian ekonomi, industri modest fashion dan hijab lokal di Indonesia justru terus menunjukkan resiliensi yang tinggi. Alih-alih meredup atau sekadar bertahan secara online, sejumlah merek lokal justru melintasi tantangan pasar dengan strategi ekspansi gerai fisik.
Salah satu bukti geliat tersebut datang dari label hijab dan busana lokal naPocut. Merek yang didirikan oleh Amanda Zada, Cut Dila, dan Dina Fadila ini baru saja meresmikan gerai terbarunya di Mall Kota Kasablanka (Kokas), Jakarta Selatan, Minggu (27/9/2026).
Brand hijab naPocut resmi membuka gerai terbarunya di Kota Kasablanka. Ekspansi ini respons atas permintaan pasar sekaligus strategi gaet konsumen offline. Foto: Dok. Gresnia/Wolipop. |
Pembukaan gerai ke-17 ini bukan sekadar upaya memanjakan pelanggan, melainkan cerminan bagaimana bisnis hijab lokal beradaptasi dengan pergeseran gaya hidup konsumen pascapandemi. Saat ditemui Wolipop di sela-sela peresmian pembukaan gerai Kota Kasablanka, Co-Founder naPocut, Amanda Zada, membeberkan alasan di balik pemilihan lokasi ekspansi tersebut yang berawal dari tingginya permintaan pelanggan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kenapa kita milih Kokas? Karena memang sebenarnya dari awal itu naPocut banyaknya memang yang minta untuk buka di Kokas. Jadi itu berdasarkan permintaan dari customer," ujar Amanda kepada Wolipop.
Strategi Bertahap: Dari Pop-Up Booth hingga Gerai Permanen
Brand hijab naPocut resmi membuka gerai terbarunya di Kota Kasablanka. Ekspansi ini respons atas permintaan pasar sekaligus strategi gaet konsumen offline. Foto: Dok. Gresnia/Wolipop. |
Meski antusiasme tinggi, Napocut memilih untuk tidak terburu-buru. Menurut Amanda, dalam kondisi ekonomi saat ini, mengeksekusi ekspansi gerai butuh kehati-hatian serta pengujian pasar yang matang.
"Kalau strateginya Napocut itu memang lebih ke pelan-pelan sih. Jadi kita melihat, berusaha coba ngerti pasarnya dulu. Terus udah gitu kita coba, biasanya kita buka booth yang kayak pop-up dulu di situ. Nah, gimana feedback dari customer di situ, terus apakah awareness-nya juga ada di daerah situ," papar Amanda.
Ia menekankan bahwa pembukaan gerai fisik tidak boleh hanya bertumpu pada permintaan visual semata. "Setelah itu baru kita masuk ke 'oke nih kayaknya di-consider untuk dibuka di daerah situ'. Jadi nggak hanya cuman dari data customer minta, tapi kita juga coba hal lainnya. Karena kan pasti kan harus didukung juga sama ekonominya di daerah situ," jelasnya.
Brand hijab naPocut resmi membuka gerai terbarunya di Kota Kasablanka. Ekspansi ini respons atas permintaan pasar sekaligus strategi gaet konsumen offline. Foto: Dok. Gresnia/Wolipop. |
Langkah naPocut yang konsisten membuka toko offline di tengah iklim ekonomi yang dinilai penuh tantangan sering kali memicu tanda tanya. Namun, Amanda menggarisbawahi bahwa strategi ini didasari oleh analisis roadmap jangka panjang serta kebutuhan psikologis konsumen yang merindukan pengalaman langsung.
"Nah, kalau misalnya in this economy, mungkin orang kan pada mikir kok malah buka-buka offline store terus sih, gitu kan. Jadi sebenarnya itu udah ada di roadmap-nya Napocut dari lima tahun yang lalu ya. Jadi secara cash flow dan budget dan lain-lainnya memang sudah diperhitungkan," tegasnya.
Amanda mengamati adanya transisi minat belanja pascapandemi. "Kita melihat sebenarnya setelah Covid berlalu tuh sebenarnya customer behavior tuh berubah, shifting. Yang tadinya mungkin kalau beli dari online tuh terbiasa, cuman akhirnya pasti mereka pengen hadir, pengen experience something, gitu kan. Jadi kita mencoba di setiap store yang Napocut punya, itu tuh kita sesuaiin experience apa yang bisa ditampilin," tuturnya.
Napocut menghadirkan konsep visual berupa jajaran hijab paris-produk signature mereka-dengan gradasi warna lengkap di area tengah toko di Kokas. Konsumen bisa merasakan langsung dari segi visual dan merasakan tekstur bahan hijab.
Brand hijab naPocut resmi membuka gerai terbarunya di Kota Kasablanka. Ekspansi ini respons atas permintaan pasar sekaligus strategi gaet konsumen offline. Foto: Dok. Gresnia/Wolipop. |
Menanggapi lesunya daya beli masyarakat belakangan ini, naPocut enggan terjebak dalam perang harga atau diskon besar-besaran. Pihaknya justru memilih membangun komunikasi yang lebih erat dengan menyerap kebutuhan gaya hidup customer.
"Kalau tantangan pasti ada ya setiap tahunnya, karena kan karakter setiap mall itu pasti beda-beda... Nah paling ya challenge-nya kalau sekarang kan in this economy mungkin daya beli juga semakin berkurang. Tapi instead of giving discount, kita coba alternatif yang lain," ungkapnya.
Bentuk alternatif tersebut diwujudkan dengan mendengar tren pasar yang sedang berkembang, seperti maraknya aktivitas olahraga di kalangan perempuan hijab. Napocut pun merilis produk yang mengakomodir kebutuhan hijabers yang suka berolahraga.
Amanda pun membagikan tiga saran krusial bagi sesama pelaku industri kreatif dan brand lokal yang ingin membangun fondasi bisnis yang kuat di tengah fluktuasi ekonomi. Pertama menurutnya jangan terlalu terburu-buru dalam melihat pasar.
"Karena ini kan sebuah investment ya, jadi pasti harus dikaji dalam waktu yang panjang. Terus kadang-kadang yang salah dari sebuah brand itu ketika membuka banyak cabang tapi dalamnya nggak kuat. Jadi maksudnya secara kapasitas produknya, secara sumber daya manusianya. Jadi mungkin bersabar itu juga lebih baik kok," saran Amanda.
Ia menekankan pentingnya introspeksi internal sebelum melangkah lebih jauh. "Jadi bukan harus ikutin tren lagi buka-buka semua, tapi kita lebih coba lihat dan evaluasi diri kita sendiri sih. Sebenarnya secara manajemen kita udah oke belum, secara cash flow udah baik belum. Kalau itu semua poin-poin itu sebenarnya sudah oke, nah itu nggak apa-apa jadi consideration untuk memang mantap buka," pungkasnya.
(gaf/eny)















































