Hijabers Ini Ajak Muslimah Amerika Terlibat Dalam Politik
Arina Yulistara - wolipop
Rabu, 03 Agu 2016 13:07 WIB
Jakarta
-
Beberapa wanita yang mengenakan jilbab di negara bagian barat masih merasa terkucilkan. Bahkan sebagian di antaranya jarang bergaul apalagi sampai mengikuti perkembangan politik di negaranya. Ketika ada pemilu pun, sejumlah hijabers lebih memilih diam di rumah daripada memberikan hak suaranya. Hal tersebut terjadi juga disebabkan karena adanya kelompok haters Islam atau biasa disebut Islamophobia.
Melihat banyaknya muslimah yang takut untuk berkembang karena khawatir penyerangan Islamophobia, hijabers asal Minnesota, Nausheena Hussain mendirikan sebuah komunitas dengan tujuan membantu wanita muslim di Amerika lebih maju terutama dalam lingkungan sosial. Hussain ingin mengajak para hijabers juga terlibat dalam sistem politik di Amerika, salah satunya dengan menggunakan hak pilih mereka.
Melalui komunitas yang dinamakan RISE (Reviving the Islamic Sisterhood for Empowerment) itu, Hussain berharap para wanita muslim Amerika mengerti sistem politik dan bisa membuat perbedaan di dalamnya. Tidak harus bekerja di dunia politik tapi bagaimana mereka bisa menjadi warga negara yang turut berpartisipasi dalam setiap kegiataan di negaranya termasuk saat pemilu.
"Saya di sini bukan mendorong wanita untuk mencalonkan diri menjadi pelaku politik tapi mengajak mereka untuk menggunakan hak suara masing-masing sebagai bagian dari masyarakat Amerika agar mereka tidak merasa terkucilkan," jelas Hussain.
Ibu dua anak itu juga ingin meningkatkan 'kekuatan' wanita muslim melalui pengembangan diri dan keterlibatan dalam masyarakat. Dalam komunitas tersebut, ia bersama rekan-rekannya yang salah satunya adalah pemilik toko buku Islam Tamara Gray, berharap mampu membekali para wanita muslim untuk mengembangkan potensi diri masing-masing.
"Kami melatih dan membekali wanita dengan keterampilan yang diperlukan untuk terlibat dalam lingkungan masyarakat. Mereka perlu menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan dalam negara demi meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan," ujar wanita lulusan Universitas Minnesota itu.
Hussain menambahkan, ia benci mendengar kata-kata kalau wanita berhijab itu tertindas padahal tidak demikian. Ia menegaskan kalau wanita berhijab juga bisa menyeimbangkan iman mereka dengan keluarga dan berkontribusi dalam proses politik.
Untuk itu muslimah Amerika diharapkan selalu aktif dalam kegiatan politik yang terjadi di negaranya termasuk urusan pemilu. Tidak hanya memberikan hak suara tapi juga membawa anggota keluarga dan tetangganya untuk bisa berpartisipasi dalam pemilu.
(ays/ays)
Melihat banyaknya muslimah yang takut untuk berkembang karena khawatir penyerangan Islamophobia, hijabers asal Minnesota, Nausheena Hussain mendirikan sebuah komunitas dengan tujuan membantu wanita muslim di Amerika lebih maju terutama dalam lingkungan sosial. Hussain ingin mengajak para hijabers juga terlibat dalam sistem politik di Amerika, salah satunya dengan menggunakan hak pilih mereka.
Melalui komunitas yang dinamakan RISE (Reviving the Islamic Sisterhood for Empowerment) itu, Hussain berharap para wanita muslim Amerika mengerti sistem politik dan bisa membuat perbedaan di dalamnya. Tidak harus bekerja di dunia politik tapi bagaimana mereka bisa menjadi warga negara yang turut berpartisipasi dalam setiap kegiataan di negaranya termasuk saat pemilu.
![]() |
"Saya di sini bukan mendorong wanita untuk mencalonkan diri menjadi pelaku politik tapi mengajak mereka untuk menggunakan hak suara masing-masing sebagai bagian dari masyarakat Amerika agar mereka tidak merasa terkucilkan," jelas Hussain.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami melatih dan membekali wanita dengan keterampilan yang diperlukan untuk terlibat dalam lingkungan masyarakat. Mereka perlu menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan dalam negara demi meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan," ujar wanita lulusan Universitas Minnesota itu.
Hussain menambahkan, ia benci mendengar kata-kata kalau wanita berhijab itu tertindas padahal tidak demikian. Ia menegaskan kalau wanita berhijab juga bisa menyeimbangkan iman mereka dengan keluarga dan berkontribusi dalam proses politik.
Untuk itu muslimah Amerika diharapkan selalu aktif dalam kegiatan politik yang terjadi di negaranya termasuk urusan pemilu. Tidak hanya memberikan hak suara tapi juga membawa anggota keluarga dan tetangganya untuk bisa berpartisipasi dalam pemilu.
(ays/ays)












































