Pernah Di-bully, Mahasiswi Harvard Ini Ajarkan Hijabers Bela Diri & Berbisnis
Arina Yulistara - wolipop
Senin, 04 Jan 2016 12:46 WIB
Jakarta
-
Kasus diskriminasi wanita berhijab masih sering terjadi di negara-negara bagian barat. Tidak sedikit hijabers yang pernah mendapatkan pelecehan ketika sedang berjalan di tengah kota atau naik transportasi umum hanya karena penggunaan jilbabnya. Salah satu yang pernah mengalaminya adalah Rana Abdelhamid.
Rana yang kini merupakan seorang inovator muslim mengaku pernah 'diserang' oleh orang tak dikenal ketika ia sedang berjalan di New York, Amerika. Jilbabnya berusaha dilepas paksa oleh seorang pria kala itu. Insiden tersebut terjadi ketika ia masih berusia 16 tahun dan membuatnya trauma.
Saat ini Rana menginjak usia 22 tahun dan menjadi seorang inovator muslim. Berangkat dari pengalamannya yang pernah diserang Islamophobia, wanita yang mengambil gelar masternya di Harvard Kennedy School of Government itu membentuk sebuah komunitas untuk membantu para wanita khususnya muslimah agar bisa mengembangkan diri mereka demi melawan Islamophobia.
"Banyak orang AMerika yang tidak tahu tentang Islam sehingga sebagian besar informasi yang mereka dapatkan tentang perilaku mengerikan atas nama Islam. Untuk mengubah stereotipe negatif itu kita harus membuat gerakan," jelas Rana seperti dilansir dari Bustle.
Rana kemudian mendirikan Women's Initiative for Self-Empowerment (WISE) yang menawarkan program pengembangan diri, pelatihan bela diri, kepemimpinan, dan bagaimana menjadi seorang entrepreneur sukses. Rana ingin mengajarkan kepada muslimah Amerika agar tidak takut dengan Islamophobia dengan belajar bela diri dan berwirausaha untuk meningkatkan rasa percaya diri mereka.
Wanita lulusan Vermont's Middlebury College itu memiliki kemampuan bela diri karate. Ia merupakan pemegang sabuk hitam. Oleh sebab itu, ia ingin berbagi ilmunya agar hijabers tidak lagi jadi korban bullying para Islamophobia. Selain bela diri, Rana ingin mengajarkan wanita muslim lainnya berbisnis agar tidak selalu diremehkan.
Saat menjadi relawan di beberapa rumah penampungan, Rana melihat bahwa masih banyak wanita muslim yang menjadi korban kekerasan rumah tangga karena tidak bekerja dan berpendidikan tinggi. Rana ingin memberikan ilmu kewirausahaan dan pelatihan kepemimpinan untuk setiap wanita yang bergabung ke dalam WISE.
"Aku ingin memberikan keterampilan menjadi seseorang yang profesional dan bisa memimpin untuk meningkatkan kepercayaan diri mereka," tambah Rana.
Cara ini diharapkan Rana juga bisa menghapus stereotipe negatif tentang wanita berhijab di Amerika dan Eropa. Hijab bukanlah tanda penindasan tapi juga bisa sukses dalam bidangnya. (ays/ays)
Rana yang kini merupakan seorang inovator muslim mengaku pernah 'diserang' oleh orang tak dikenal ketika ia sedang berjalan di New York, Amerika. Jilbabnya berusaha dilepas paksa oleh seorang pria kala itu. Insiden tersebut terjadi ketika ia masih berusia 16 tahun dan membuatnya trauma.
Saat ini Rana menginjak usia 22 tahun dan menjadi seorang inovator muslim. Berangkat dari pengalamannya yang pernah diserang Islamophobia, wanita yang mengambil gelar masternya di Harvard Kennedy School of Government itu membentuk sebuah komunitas untuk membantu para wanita khususnya muslimah agar bisa mengembangkan diri mereka demi melawan Islamophobia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rana kemudian mendirikan Women's Initiative for Self-Empowerment (WISE) yang menawarkan program pengembangan diri, pelatihan bela diri, kepemimpinan, dan bagaimana menjadi seorang entrepreneur sukses. Rana ingin mengajarkan kepada muslimah Amerika agar tidak takut dengan Islamophobia dengan belajar bela diri dan berwirausaha untuk meningkatkan rasa percaya diri mereka.
Wanita lulusan Vermont's Middlebury College itu memiliki kemampuan bela diri karate. Ia merupakan pemegang sabuk hitam. Oleh sebab itu, ia ingin berbagi ilmunya agar hijabers tidak lagi jadi korban bullying para Islamophobia. Selain bela diri, Rana ingin mengajarkan wanita muslim lainnya berbisnis agar tidak selalu diremehkan.
Saat menjadi relawan di beberapa rumah penampungan, Rana melihat bahwa masih banyak wanita muslim yang menjadi korban kekerasan rumah tangga karena tidak bekerja dan berpendidikan tinggi. Rana ingin memberikan ilmu kewirausahaan dan pelatihan kepemimpinan untuk setiap wanita yang bergabung ke dalam WISE.
"Aku ingin memberikan keterampilan menjadi seseorang yang profesional dan bisa memimpin untuk meningkatkan kepercayaan diri mereka," tambah Rana.
Cara ini diharapkan Rana juga bisa menghapus stereotipe negatif tentang wanita berhijab di Amerika dan Eropa. Hijab bukanlah tanda penindasan tapi juga bisa sukses dalam bidangnya. (ays/ays)











































