Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Bukan Asal Pajang, Ini Trik Brand Fashion Biar Nggak Boncos Saat Ikut Bazar

Gresnia Arela Febriani - wolipop
Rabu, 15 Jul 2026 19:30 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Acara talkshow Glamlocal Meetup di Aston Priority Simatupang & Conference Center, Rabu (15/7/2026).
Acara talkshow Glamlocal Meetup di Aston Priority Simatupang & Conference Center, Rabu (15/7/2026). Foto: Dok. Gresnia/Wolipop
Jakarta -

Saat belanja online makin digemari, bazaar offline hadir sebagai wadah interaksi tatap muka bagi brand dan konsumen. Bazar bisa menjadi ladang cuan bagi brand, yang lebih besar dari penjualan di ecommerce. Lantas, apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh sebuah brand fashion saat memutuskan untuk ikut bazar?

Kunci utamanya terletak pada kecermatan membaca data market dan kesiapan operasional agar investasi slot booth tidak berujung sia-sia. Hal ini diakui oleh Meta Handayani, pemilik brand Himeca Daily asal Depok, Jawa Barat.

Brand yang telah sukses membangun jaringan lebih dari 350 reseller aktif, 1.300 jastipers, serta 58 ribu pengikut di Instagram ini menekankan pentingnya kurasi penyelenggara acara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Acara talkshow Glamlocal Meetup di Aston Priority Simatupang & Conference Center, Rabu (15/7/2026).Acara talkshow Glamlocal Meetup di Aston Priority Simatupang & Conference Center, Rabu (15/7/2026). Foto: Dok. Gresnia/Wolipop.

"Kalau mau ikut bazar lihat dulu EO-nya (Event Organizer), target marketnya cocok atau tidak, biaya booth, dan operasional juga. Masuk atau tidak cost-nya dengan hasil bazarnya itu sendiri," kata Meta di acara Glamlocal Meetup, di Aston Simatupang Priority & Cobference Center, Jakarta Selatan, Rabu (15/7/2026).

Meta menambahkan bahwa saat memutuskan mengikuti bazar luar kota, efisiensi biaya operasional harus beriringan dengan tujuan branding. Persiapan produk pun harus berbasis riset lokasi yang mendalam karena setiap daerah memiliki preferensi gaya yang unik.

ADVERTISEMENT

"Event di Jakarta beda mall itu beda juga produk yang lakunya apa saja. Di Bekasi itu panas biasanya yang pendek-pendek, kalau Bandung kan laku yang panjang," jelas Meta.

Acara talkshow Glamlocal Meetup di Aston Priority Simatupang & Conference Center, Rabu (15/7/2026).Acara talkshow Glamlocal Meetup di Aston Priority Simatupang & Conference Center, Rabu (15/7/2026). Foto: Dok. Gresnia/Wolipop.

Oleh karena itu, ia menyarankan pelaku usaha untuk menyiapkan stok yang relevan, mengukur luas booth untuk pengaturan display, serta mematikan pembagian tugas tim. Untuk mengantisipasi kehabisan stok, Himeca Daily menerapkan evaluasi harian secara ketat.

"Biasanya admin itu evaluasi barang mana yang restock, produk habis, dan tidak laku. Kita putar display setiap malam evaluasi," ujarnya.

Dalam menentukan target penjualan dan harga, Meta menyarankan angka yang realistis dengan tetap memberi ruang bagi tim untuk mengejar bonus. Strategi harga yang ditawarkan pun sebaiknya tidak menyulitkan calon pembeli.

"Kalau Himeca itu bundling, jangan bikin pelanggan terlalu effort. Ibu-ibu biasanya kan suka diskon. Jadi kalau promo yang sederhana saja," tambahnya.

Meta juga mengingatkan pentingnya kolaborasi dengan influencer (KOL) yang satu niche dan merangkul komunitas jastip yang terbukti memberikan banyak insight serta volume orderan yang besar.

Tantangan serupa juga dirasakan oleh Kipty Ayu, pendiri brand Yeppu Outfit dan Yeppu Shop. Berdiri sejak tahun 2017 di Surabaya, Yeppu Outfit konsisten memproduksi hijab instan dan one set berbahan linen dengan target pasar milenial serta Gen Z.

Kipty mengatakan Jarak geografis sempat menjadi kendala operasional baginya saat pertama kali merambah pasar ibu kota. "Apapun itu ujung-ujungnya sales. Brand aku kan dari Surabaya, kesempatan kami untuk buka booth di sini itu sangat besar. Awal-awal semua barang dikirim dari Surabaya nah itu setelah dihitung-hitung kok boncos juga. Kita jadinya punya warehouse kedua yang ada di Jabodetabek untuk menekan biaya operasional," ungkap Kipty.

Bagi Kipty, bazar bukan hanya tempat berjualan, melainkan ruang untuk networking dan mengumpulkan data perilaku konsumen. Ia menegaskan agar brand tidak asal memajang seluruh koleksi tanpa strategi visual yang matang. Yeppu Outfit sendiri lebih menyukai penataan booth berbasis koordinasi warna seperti cokelat dan hitam agar menarik mata.

"Pemilihan produknya yang mau di-display apa saja, tidak usah display semua produk. Itu gunanya data. Di Glamlocal ini kan kamu punya data kalau di sini Jakarta adalah milenial, maka size ukuran besar ditambah. Pemilihan produk dan market itu harus base on data," ucap Kipty.

Ia juga menyarankan agar proses pengisian kembali produk (restock) dilakukan pada malam hari. "Jangan sampai restock di pagi hari, karena peluru SPG itu kan stok, jadi gampang jualan stoknya. Jadi nambah stok itu malam hari saja," sarannya.

Terkait strategi harga untuk memicu keputusan belanja yang cepat, Yeppu Outfit memilih menyederhanakan rentang harga. "Semua barang Rp 199 ribu misalnya, atau Rp 149 ribu. Kalau harganya berbeda (terlalu banyak variasi) itu mengurangi kebingungan pelanggan dan cepat belinya," paparnya.

Menjawab fenomena bazar yang kerap terlihat ramai pengunjung namun sepi transaksi di booth, Kipty membagikan trik pemasaran darurat di lapangan.

"Biasanya yang paling standar dan paling kena itu adain flash sale. Aku ke SPG kasih keleluasaan, kalau ramai flash sale diskonnya bisa Rp 10.000. Di sini mereka yang cuma pegang-pegang itu bisa langsung beli. SPG itu diberikan kebebasan untuk menentukan keramaian pengunjung," kata Kipty.

Kehadiran para jastipers di area bazar juga dinilai membantu mengurai penumpukan antrean sekaligus mendongkrak omzet karena satu orang bisa memborong hingga 10 koleksi sekaligus.

Mengalami kerugian atau tidak mencapai target di awal keikutsertaan bazar adalah hal yang wajar dalam proses adaptasi brand. Baik Meta maupun Kipty sepakat bahwa kegagalan awal harus dijadikan investasi pembelajaran berharga, asalkan dievaluasi agar tidak berulang.

"Yang paling aku pegang ketika bazar itu jangan takut rugi untuk mencoba, karena anggap semua yang kita lakukan itu mencari data, pengalaman, ataupun networking," ucap Kipty.

Selain mengandalkan komunitas jastip dan keandalan SPG di lapangan, pemilihan Key Opinion Leader (KOL) atau influencer juga menjadi penentu keberhasilan traffic datang ke booth. Namun, kedua pemilik brand sepakat bahwa jumlah followers bukan lagi penentu utama. Keselarasan karakter jauh lebih penting.

(gaf/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads