Intimate Interview

Kisah Sarah dari Sarah The Label yang Baju Batiknya Diantre Ratusan Pembeli

Gresnia Arela Febriani - wolipop Senin, 25 Apr 2022 09:17 WIB
Foto Sarah Syatha. Foto: Dok. Instagram @sarah_thelabel. Foto Sarah Syatha. Foto: Dok. Instagram @sarah_thelabel.
Jakarta -

Wanita ini berhasil membuat busana batik khas Indonesia menjadi berbeda dengan sentuhan warna pastel. Setiap mengeluarkan koleksi terbaru, karyanya selalu diburu oleh pembeli setia.

Ialah Sarah Syatha, pemilik brand Sarah The Label. Akun Instagram Sarah The Label saat ini memiliki lebih dari 371 ribu followers. Setiap merilis koleksi melalui unggahan di Instagram, langsung mendapat ratusan komentar dari mereka yang ingin membeli baju tersebut.

Busana buatan Sarah begitu laris manis sampai-sampai pembeli mengeluh emosi di kolom komentar Instagramnya karena sulitnya mendapatkan koleksi terbaru Sarah The Label. Bahkan ada juga yang sudah menghubungi jasa titip atau jastip tetap tidak mendapatkan koleksi Sarah The Label.

Ciri khas rancangan Sarah The Label adalah bahan batik viscose dan bernuansa pastel. Motif batik buatannya disesuaikan dengan selera generasi milenial.

Bagaimana kisah di balik kesuksesan Sarah membangun bisnis batik lewat brand Sarah The Label?

Foto Sarah Syatha, pemilik Sarah The Label.Foto Sarah Syatha, pemilik Sarah The Label. Foto: Gresnia/Wolipop.

Wolipop berbincang dengan pemilik Sarah The Label, Sarah Syatha, belum lama ini. Dia menceritakan awal mula membangun bisnisnya melalui jualan online. Saat itu dia justru bukan menjual busana muslim batik.

"Awal mulanya jualan online dari awal kuliah, tapi produknya malah baju renang. Justru bukan busana Muslim. Dulu aku masih belum berhijab. Kenapa baju renang? Karena mulai keresahan diri sendiri mau liburan cari baju renang kok susah gitu kan? Akhirnya aku jualan baju renang," ungkap Sarah Syatha ketika ditemui Wolipop di Kota Kasablanka, Jakarta Selatan.

Sarah menjual koleksi baju renang sekitar enam tahun. Seiring berjalannya waktu, Sarah memutuskan untuk berhijab sekitar tahun 2017.

Foto Sarah Syatha, pemilik Sarah The Label.Foto Sarah Syatha, pemilik Sarah The Label. Foto: Dok. Instagram @sarah_thelabel.

Setelah mantap berhijab, Sarah sering menemukan kendala jika ingin menentukan busana untuk ke acara pernikahan. Batik selalu menjadi andalannya ketika ingin ke acara pernikahan. Namun dia merasa tidak menemukan model batik yang kekinian.

"Aku merasa batik modelnya terlalu tua nggak modern, dari situ tercetus ide untuk menjual batik dengan sentuhan modern yang bisa cocok dipakai oleh anak muda," ucap Sarah.

Sarah saat itu berjualan online sambil sibuk kuliah. Ia dibantu sang ibu ketika memulai bisnis menjual baju batik. Mereka menghampiri pengrajin batik, mempelajari batik, mulai dari tahap pemilihan bahan dan proses produksi.

"Kita mencoba produksi kecil-kecilan, alhamdulillah walaupun masih merintis tapi peminatnya langsung ada. Walaupun kita produksi sedikit langsung habis. Kita tambah produksi langsung habis lagi," kenang Sarah.

Pada 2015, koleksi Sarah The Label awalnya didominasi pembeli dari Malaysia. Setiap Sarah mengeluarkan koleksi terbaru, pembeli setia dari Malaysia langsung membeli produk.

"Dia beli terus sepertinya dia jual lagi di sana. Aku nggak ngerti juga karena saat itu belum ada pembatasan order. Kita berjalan terus semakin banyak peminatnya, kita mulai bazar juga," ucap Sarah.

Sarah kelahiran 10 Oktober 1994 itu mengaku rutin menggelar bazar secara offline, agar pembeli bisa melihat langsung koleksinya. Perlahan pelanggannya semakin bertambah.

Produk Sarah semakin dikenal karena rutin membuat konten di media sosial. Seperti apa kisahnya?

Selanjutnya
Halaman
1 2