Kematian Hayden Panettiere Bikin Millennial Terpukul, Ini Penjelasan Psikolog
Kematian bintang 'Heroes' Hayden Panettiere di usia 36 tahun terasa begitu menyedihkan bagi banyak generasi millennial. Tak kenal secara personal, tapi merasa kehilangan. Fenomena ini ternyata ada penjelasan ilmiahnya.
Menurut para terapis dan pakar kesehatan mental, perasaan tersebut sangat wajar dan menunjukkan bagaimana sosok yang hadir melalui layar kaca dapat menjadi bagian dari perjalanan hidup seseorang.
"Saya sering mendengar hal ini dari klien-mereka bingung mengapa bisa menangisi seseorang yang bahkan belum pernah mereka temui," ujar Gina Moffa, terapis duka sekaligus penulis buku 'Moving On Doesn't Mean Letting Go: A Modern Guide to Navigating Loss', seperti dikutip dari HuffPost.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Istilah psikologi yang dapat menjelaskan perasaan tersebut adalah hubungan parasosial, yakni ikatan satu arah yang terbentuk antara seseorang dan figur publik karena terpapar secara berulang-ulang. Meski hubungan ini tidak terjadi secara langsung, sosok tersebut dapat terasa akrab dan dekat bagi penggemarnya.
Terapis Tychelle Graham-Moskowitz menjelaskan alasan di balik terbentuknya ikatan tersebut dari sisi neurologis.
"Otak kita memproses wajah dan suara para selebriti yang sudah kita kenal dan sukai dengan cara yang sama seperti memproses teman di dunia nyata. Sebab, kita melihat mereka di layar, sering kali setiap hari, di rumah kita sendiri," jelasnya.
Hayden Panettiere. Foto: NBC/Universal |
Menurut Tychelle, hal ini sebagian berkaitan dengan neuron cermin, yaitu sel saraf yang aktif ketika seseorang mengamati emosi orang lain. Neuron tersebut memungkinkan kita secara internal meniru atau merasa terhubung dengan apa yang kita lihat, terutama ketika mengalami emosi atau peristiwa yang serupa dalam kehidupan sendiri.
"Ketika kita menonton sleebriti di televisi, neuron cermin memungkinkan kita ikut merasakan emosi mereka sehingga tercipta jembatan identifikasi," lanjutnya.
Karena itu, otak tidak membutuhkan hubungan dua arah untuk membentuk keterikatan yang bermakna. Menghabiskan masa-masa penting dalam hidup dengan mengikuti sosok tertentu dari budaya populer dapat menciptakan rasa familiar yang kemudian berkembang menjadi perasaan seolah-olah ditemani.
"Baik melalui musik, film, olahraga, televisi maupun media sosial, kita bisa merasa bahwa perjalanan hidup kita seolah berjalan beriringan dengan perjalanan sang selebriti. Kita merasa 'tumbuh bersama mereka', atau mereka menjadi representasi dari momen tertentu dalam hidup kita," ujar Dr. Jessi Gold, psikiater sekaligus kepala bagian wellness di University of Tennessee System.
Oleh karena itu, ketika selebritas tersebut meninggal, rasa duka yang muncul tidak hanya berkaitan dengan sosoknya. Kita juga bisa berduka atas masa dalam hidup yang pernah diwakilinya. Bagi generasi millennial yang sangat lekat dengan nostalgia, perasaan tersebut bisa terasa begitu menghantam.
Hayden Pannettiere. Foto: Dok. Ist |
"Rasa duka yang mereka alami sebenarnya bukan hanya tentang sosok tersebut, tetapi juga tentang versi diri mereka pada terakhir kali mereka menyaksikan sang selebriti," kata Gina.
"Mereka bukan sekadar aktor dan aktris. Mereka seolah duduk bersama kita di sofa saat masih kecil, membentuk pemahaman kita tentang seperti apa persahabatan, hubungan atau cinta," lanjutnya.
Sebagai aktris yang juga mantan bintang cilik, Hayden juga membuat banyak generasi millennial merasa benar-benar tumbuh bersamanya. Karena itu, kabar kepergiannya jadi sangat personal bagi masing-masing individu.
"Seiring bertambahnya usia sebagai generasi millennial, kematian seorang selebriti mengguncang kita dari perasaan remaja yang cenderung berpusat pada diri sendiri dan memaksa kita menghadapi kenyataan bahwa hidup kita sendiri juga memiliki batas," ujar Tychelle.
Dalam beberapa hal, generasi millennial juga melihat figur publik tertentu sebagai representasi dari generasi mereka.
"Ketika masih muda, orang-orang yang kita lihat di televisi seolah-olah tidak pernah berubah dan akan selalu ada," ujar Becca Moravec, konselor profesional berlisensi, terapis trauma, sekaligus pendiri Full Bloom Counseling.
Hayden Panettiere. Foto: Disney General Entertainment Con |
"Lalu tiba-tiba, kita melihat orang-orang yang menjadi bagian dari masa kecil dan remaja kita meninggal. Mereka bahkan belum berusia 80 tahun, melainkan baru 30-an atau 40-an. Hal ini dapat menciptakan semacam guncangan psikologis," lanjutnya.
Perkembangan teknologi juga semakin memperkuat hubungan tersebut dan membuat sejumlah selebriti terasa seperti sosok yang selalu hadir dan stabil dalam kehidupan.
"Generasi millennial adalah generasi pertama yang memiliki akses internet secara rutin di rumah. Jadi, bukan hanya melihat selebriti favorit melalui film, televisi, majalah dan sebagainya, kita juga bisa mencari lebih banyak informasi tentang mereka melalui internet, yang akhirnya bisa diakses langsung dari genggaman," kata Tychelle.
Para terapis juga melihat dimensi lain yang membuat kematian Panettiere terasa begitu menyakitkan bagi banyak orang.
"Secara khusus untuk Hayden, menurut saya yang membuat kepergiannya terasa begitu personal bagi banyak orang adalah karena dia bukan sekadar wajah yang kita saksikan sejak kecil. Dia juga menggunakan platformnya untuk berbicara secara terbuka tentang depresi pascamelahirkan, trauma, serta perjuangannya menghadapi penggunaan narkoba," jelas Gina.
Saat itu, hanya sedikit figur publik yang bersedia membicarakan hal-hal tersebut secara terbuka dan menunjukkan sisi rentan mereka.
(hst/hst)












































