Diet Vegan Vs Diet Mayo
Mengenal Diet Mayo dan Diet Vegan, 2 Cara Populer untuk Turun Berat Badan
Hestianingsih - wolipop
Jumat, 22 Mei 2015 06:22 WIB
Jakarta
-
Untuk memiliki tubuh langsing dan ideal, banyak orang melakukan segala cara salah satunya dengan diet ketat. Sekitar dua tahun belakangan, pola makan untuk menurunkan berat badan yang populer dengan sebutan diet mayo mulai menjadi tren, terutama setelah 'diperkenalkan' para selebriti lewat social media.
Esensi dari diet mayo yang berkembang di Indonesia adalah mengurangi asupan karbohidrat dan memangkas habis konsumsi garam selama 14 hari berturut-turut. Pola diet ini diyakini dapat menurunkan berat badan dengan cepat, hingga lebih dari 5 kg selama periode diet. Menurut pakar gizi Jansen Ongko, Msc, RD, diet mayo mulai berkembang sekitar 3-4 tahun lalu sejak banyak bermunculan katering sehat dan masih digemari hingga kini.
Sebelum diet mayo populer, dikenal pula diet vegan atau pola makan yang hanya mengonsumsi bahan makanan yang berasal dari sumber nabati. Awalnya, paham veganism diterapkan oleh orang-orang yang peduli akan lingkungan. Peternakan hewan seperti sapi, menyumbangkan gas metan yang berasal dari kotoran hewan ternak. Gas metana inilah yang disebut-sebut sebagai salah satu penyebab pemanasan global. Dengan menjalani pola makan serba nabati, diharapkan produksi daging bisa diminimalisir dan emisi gas metana pun berkurang.
Ada pula yang menjalani diet vegan karena alasan kesehatan. Daging, telur dan segala olahan dari hewan dianggap bisa mengakibatkan kanker dan berbagai penyakit serius lainnya, sehingga cara yang efektif untuk mencegah sakit adalah dengan mengonsumsi makanan kaya serat, vitamin dan mineral dari tumbuh-tumbuhan. Namun belakangan, diet vegan ini dilakukan demi menurunkan bobot dan melangsingkan tubuh.
"Diet vegan awalnya dipakai orang-orang dengan kepercayaan tertentu, misalnya agama tertentu. Lalu berkembang dan berkembang ditambahkan dari sisi kesehatan dan pencinta binatang. Untuk lebih melindungi binatang mereka tidak makan daging. Awalnya hanya daging tapi berkembang ke (tidak makan) susu dan telur juga," terang Managing Director LAGIZI Health & Nutrition Services Dessy Aryanti Utami, S.Gz.
Pada dasarnya metode diet diciptakan untuk membuat tubuh lebih sehat yang akhirnya menciptakan kualitas hidup lebih baik. Namun karena keterbatasan pengetahuan, banyak di antara para pelaku diet salah dalam menerapkan pola diet yang sehat dan benar.
Baik diet mayo maupun diet vegan memang bisa membantu proses penurunan berat badan terlebih lagi apabila dibarengi dengan aktivitas fisik secara rutin. Pada praktiknya, tak sedikit yang justru terjebak dalam mitos-mitos seputar diet yang akhirnya justru lebih banyak menimbulkan kerugian pada kesehatan tubuh.
Diet mayo versus diet vegan, mana yang lebih sehat? Mana yang lebih efektif untuk melangsingkan tubuh? Sebelum memutuskan ingin menjalani salah satu atau keduanya, ada baiknya bila Anda mengetahui seluk beluknya terlebih dahulu. Simak ulasannya di artikel-artikel selanjutnya.
(Hestianingsih/Eny Kartikawati)
Esensi dari diet mayo yang berkembang di Indonesia adalah mengurangi asupan karbohidrat dan memangkas habis konsumsi garam selama 14 hari berturut-turut. Pola diet ini diyakini dapat menurunkan berat badan dengan cepat, hingga lebih dari 5 kg selama periode diet. Menurut pakar gizi Jansen Ongko, Msc, RD, diet mayo mulai berkembang sekitar 3-4 tahun lalu sejak banyak bermunculan katering sehat dan masih digemari hingga kini.
Sebelum diet mayo populer, dikenal pula diet vegan atau pola makan yang hanya mengonsumsi bahan makanan yang berasal dari sumber nabati. Awalnya, paham veganism diterapkan oleh orang-orang yang peduli akan lingkungan. Peternakan hewan seperti sapi, menyumbangkan gas metan yang berasal dari kotoran hewan ternak. Gas metana inilah yang disebut-sebut sebagai salah satu penyebab pemanasan global. Dengan menjalani pola makan serba nabati, diharapkan produksi daging bisa diminimalisir dan emisi gas metana pun berkurang.
Ada pula yang menjalani diet vegan karena alasan kesehatan. Daging, telur dan segala olahan dari hewan dianggap bisa mengakibatkan kanker dan berbagai penyakit serius lainnya, sehingga cara yang efektif untuk mencegah sakit adalah dengan mengonsumsi makanan kaya serat, vitamin dan mineral dari tumbuh-tumbuhan. Namun belakangan, diet vegan ini dilakukan demi menurunkan bobot dan melangsingkan tubuh.
"Diet vegan awalnya dipakai orang-orang dengan kepercayaan tertentu, misalnya agama tertentu. Lalu berkembang dan berkembang ditambahkan dari sisi kesehatan dan pencinta binatang. Untuk lebih melindungi binatang mereka tidak makan daging. Awalnya hanya daging tapi berkembang ke (tidak makan) susu dan telur juga," terang Managing Director LAGIZI Health & Nutrition Services Dessy Aryanti Utami, S.Gz.
Pada dasarnya metode diet diciptakan untuk membuat tubuh lebih sehat yang akhirnya menciptakan kualitas hidup lebih baik. Namun karena keterbatasan pengetahuan, banyak di antara para pelaku diet salah dalam menerapkan pola diet yang sehat dan benar.
Baik diet mayo maupun diet vegan memang bisa membantu proses penurunan berat badan terlebih lagi apabila dibarengi dengan aktivitas fisik secara rutin. Pada praktiknya, tak sedikit yang justru terjebak dalam mitos-mitos seputar diet yang akhirnya justru lebih banyak menimbulkan kerugian pada kesehatan tubuh.
Diet mayo versus diet vegan, mana yang lebih sehat? Mana yang lebih efektif untuk melangsingkan tubuh? Sebelum memutuskan ingin menjalani salah satu atau keduanya, ada baiknya bila Anda mengetahui seluk beluknya terlebih dahulu. Simak ulasannya di artikel-artikel selanjutnya.
(Hestianingsih/Eny Kartikawati)










































