Metode Pelangsingan Masa Depan: Chip Komputer untuk Tahan Hasrat Makan
Hestianingsih Hestianingsih - wolipop
Rabu, 27 Nov 2013 12:00 WIB
Jakarta
-
Di masa depan, solusi mengatasi obesitas dan kegemukan mungkin bisa dilakukan dengan cara yang lebih praktis. Para peneliti di Swiss sedang mengembangkan chip komputer yang bisa ditanamkan ke pasien obesitas atau kegemukan untuk bantu turunkan berat badan.
Chip tersebut diklaim bisa memeriksa kadar lemak di dalam darah, memberi peringatan saat seseorang makan terlalu banyak dan melepaskan hormon yang membuat perut terasa kenyang. Alat ini telah diujicoba pada tikus dan hasilnya menunjukkan tanda-tanda positif. Tikus percobaan yang obesitas jadi lebih sedikit mengonsumsi makanan berlemak dan beratnya turun. Ketika berat badan sudah normal, chip tersebut akan berhenti bekerja.
Jurnal Nature Communications melaporkan bahwa chip tersebut mengandung dua gen yang bekerja bersama untuk mengontrol hasrat makan. Gen yang pertama bertugas memonitor kadar lemak dalam darah. Ketika lemak terlalu tinggi, gen tersebut akan memberi sinyal pada gen yang kedua untuk memproduksi hormon penahan hasrat makan.
Adalah Professor Martin Fussenegger, orang di balik penemuan canggih ini. Ia mengatakan chip tersebut juga mengandung kombinasi gen lainnya yang jika dikembangkan juga bisa berfungsi mencegah datangnya penyakit.
Jika bekerja efektif, chip ini bisa menjadi solusi alternatif penggunaan pil diet yang harus dikonsumsi beberapa kali sehari. Chip ini juga diharapkan bisa menggantikan prosedur tummy tuck, gastric bypass atau liposuction pada penderita obesitas.
Sampai saat ini, bentuk chip tersebut masih belum diperlihatkan namun seperti dikutip dari Daily Mail, chip akan dibentuk sekecil dan senyaman mungkin saat digunakan (seukuran koin yang bisa dimasukkan di bawah kulit). Dalam tiga tahun ke depan, chip ini akan diujicoba pada manusia dan diharapkan bisa segera digunakan secara global beberapa tahun kemudian.
(hst/hst)
Chip tersebut diklaim bisa memeriksa kadar lemak di dalam darah, memberi peringatan saat seseorang makan terlalu banyak dan melepaskan hormon yang membuat perut terasa kenyang. Alat ini telah diujicoba pada tikus dan hasilnya menunjukkan tanda-tanda positif. Tikus percobaan yang obesitas jadi lebih sedikit mengonsumsi makanan berlemak dan beratnya turun. Ketika berat badan sudah normal, chip tersebut akan berhenti bekerja.
Jurnal Nature Communications melaporkan bahwa chip tersebut mengandung dua gen yang bekerja bersama untuk mengontrol hasrat makan. Gen yang pertama bertugas memonitor kadar lemak dalam darah. Ketika lemak terlalu tinggi, gen tersebut akan memberi sinyal pada gen yang kedua untuk memproduksi hormon penahan hasrat makan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika bekerja efektif, chip ini bisa menjadi solusi alternatif penggunaan pil diet yang harus dikonsumsi beberapa kali sehari. Chip ini juga diharapkan bisa menggantikan prosedur tummy tuck, gastric bypass atau liposuction pada penderita obesitas.
Sampai saat ini, bentuk chip tersebut masih belum diperlihatkan namun seperti dikutip dari Daily Mail, chip akan dibentuk sekecil dan senyaman mungkin saat digunakan (seukuran koin yang bisa dimasukkan di bawah kulit). Dalam tiga tahun ke depan, chip ini akan diujicoba pada manusia dan diharapkan bisa segera digunakan secara global beberapa tahun kemudian.
(hst/hst)











































