Bernyanyi, Cara Baru Hilangkan Kebiasaan Mendengkur
Hestianingsih Hestianingsih - wolipop
Sabtu, 17 Agu 2013 13:30 WIB
Jakarta
-
Mendengkur ternyata bisa diatasi dengan cara yang mudah dan menyenangkan, yaitu bernyanyi. Latihan vokal ringan setiap hari, bisa menguatkan otot pada tenggorokan dan langit-langit mulut yang lemah, yang kuat diduga jadi penyebab utama kebiasaan mendengkur atau ngorok.
Penemuan ini didapat setelah seorang guru vokal mencari cara untuk membantu temannya berhenti mendengkur. Alise Ojay nama guru tersebut. Ia merancang program latihan menyanyi yang ditargetkan pada tenggorokan dan berhasil membuat dengkuran serta sleep apnea temannya itu berhenti.
Temuannya itu pun mendorong para peneliti di Exeter University dan Royal Devon & Exeter NHS Foundation Trust untuk melakukan studi lebih lanjut dan dalam skala besar. Penelitian tersebut melibatkan 30 responden yang punya gangguan mendengkur. Mereka diminta latihan vokal selama dua menit setiap hari dalam waktu tiga bulan.
Di akhir percobaan, dengkuran responden berkurang secara signifikan, dibandingkan dengan 30 partisipan lainnya yang tidak melakukan terapi bernyanyi. "Alise memberitahu saya sudah ada banyak orang yang merasakan keuntungan dengan mengikuti program latihan menyanyi ini. Latihan yang dia kembangkan membantu memperkuat otot tenggorokan," ujar Malcolm Hilton, spesialis THT yang memimpin penelitian, seperti dikutip dari Daily Mail.
Dia menambahkan, "Aku kemudian membuat percobaan ini dan hasilnya sangat menarik. Dalam program latihan menyanyi selama tiga bulan itu kita mendapati, frekuensi dan intensitas mendengkur berkurang dan kualitas tidur secara keseluruhan pun membaik."
Malcolm juga mengatakan tidak ada keluhan dari responden selama percobaan. Mereka merasa latihan menyanyi ini mudah dilakukan dan tidak membosankan. Penemuan ini tentunya bisa jadi awal untuk dikembangkannya metode perawatan untuk sembuhkan ngorok tanpa harus operasi.
"Tapi tetap harus dikombinasikan dengan perubahan gaya hidup yang lebih sehat. Berat badan berlebih misalnya, adalah faktor utama penyebab orang mendengkur," ucap Malcolm.
Belum diketahui secara detail, bentuk latihan dan teknik vokal seperti apa yang bisa menyembuhkan gangguan tidur itu, atau perlukah ada instruktur untuk mengajarkan caranya terlebih dahulu. Penelitian pun masih dikembangkan, namun hasil studi pertama ini sudah dipublikasikan di International Journal of Otolaryngology and Head and Neck Surgery.
(hst/hst)
Penemuan ini didapat setelah seorang guru vokal mencari cara untuk membantu temannya berhenti mendengkur. Alise Ojay nama guru tersebut. Ia merancang program latihan menyanyi yang ditargetkan pada tenggorokan dan berhasil membuat dengkuran serta sleep apnea temannya itu berhenti.
Temuannya itu pun mendorong para peneliti di Exeter University dan Royal Devon & Exeter NHS Foundation Trust untuk melakukan studi lebih lanjut dan dalam skala besar. Penelitian tersebut melibatkan 30 responden yang punya gangguan mendengkur. Mereka diminta latihan vokal selama dua menit setiap hari dalam waktu tiga bulan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menambahkan, "Aku kemudian membuat percobaan ini dan hasilnya sangat menarik. Dalam program latihan menyanyi selama tiga bulan itu kita mendapati, frekuensi dan intensitas mendengkur berkurang dan kualitas tidur secara keseluruhan pun membaik."
Malcolm juga mengatakan tidak ada keluhan dari responden selama percobaan. Mereka merasa latihan menyanyi ini mudah dilakukan dan tidak membosankan. Penemuan ini tentunya bisa jadi awal untuk dikembangkannya metode perawatan untuk sembuhkan ngorok tanpa harus operasi.
"Tapi tetap harus dikombinasikan dengan perubahan gaya hidup yang lebih sehat. Berat badan berlebih misalnya, adalah faktor utama penyebab orang mendengkur," ucap Malcolm.
Belum diketahui secara detail, bentuk latihan dan teknik vokal seperti apa yang bisa menyembuhkan gangguan tidur itu, atau perlukah ada instruktur untuk mengajarkan caranya terlebih dahulu. Penelitian pun masih dikembangkan, namun hasil studi pertama ini sudah dipublikasikan di International Journal of Otolaryngology and Head and Neck Surgery.
(hst/hst)










































