Studi: Jalan Cepat Lebih Melelahkan daripada Jogging
wolipop
Selasa, 10 Jan 2012 10:08 WIB
Jakarta
-
Mana yang lebih melelahkan, berlari atau berjalan? Sebagian besar dari kita mungkin akan menjawab, berlari. Tapi jika mengaitkannya dengan olahraga, berjalan ternyata lebih melelahkan daripada berlari.
Sebuah studi terbaru telah menemukan bahwa berlari-lari kecil (jogging) sebenarnya tidak lebih melelahkan daripada jalan cepat. Jogging juga lebih efektif untuk melatih otot dibandingkan berjalan.
Sebabnya, berlari sekitar dua meter per detik bisa membantu otot pada betis untuk bekerja lebih efisien dibandingkan ketika kita berjalan cepat. Gerakan ini akan membantu otot melepaskan pemicu energi alami pada tubuh, sehingga stamina pun meningkat.
Teori ini didapatkan setelah para peneliti di Amerika Serikat melakukan pengujian. Mereka menggunakan ultrasound untuk memindai pergerakan otot pada beberapa orang di atas treadmill untuk melihat perbedaannya saat berjalan atau berlari.
Dari pemindaian, terlihat bahwa otot pada betis bekerja layaknya kopling yang memungkinkan Anda mengganti persneling. Otot ini akan bersiap ketika kita tubuh mulai bergerak, menahan tendon (struktur dalam tubuh yang menghubungkan otot ke tulang) sementara energi tubuh ditransfer ke otot untuk meregangkannya. Lalu para peneliti menemukan bahwa Achilles (otot tendon panjang dan elastis pada belakang kaki bagian bawah) akan bergerak seperti pegas, melepaskan energi yang tersimpan di otot untuk membuat kita terus bergerak.
Tim peneliti yang berasal dari North Carolina State University tersebut menyimpulkan, jalan cepat membuat otot bekerja lebih keras tapi tidak menyediakan energi cukup besar, sehingga mengurangi stamina. Sedangkan jogging pada kecepatan tak lebih dari dua meter per detik, memicu otot untuk mengubah ukurannya secara perlahan sehingga menyediakan lebih banyak energi meskipun tidak bekerja terlalu keras.
"Otot bekerja tak efisien saat jalan cepat, jadi tubuh akan berlari untuk meningkatkan efisiensi dan kenyamanan, dengan tujuan menyimpan tenaga," ujar penulis penelitian Dr Gregory Sawicki, menjelaskan mengapa orang lebih suka jogging daripada jalan cepat.
Dr Gregory juga menambahkan, "Umumnya, orang merasa lebih nyaman berlari daripada berjalan saat mereka mulai bergerak pada kecepatan dua meter per detik --sekitar 4,5 mil per jam. Otot pun tidak bisa mengimbangi saat Anda mempercepat langkah."
(hst/kik)
Sebuah studi terbaru telah menemukan bahwa berlari-lari kecil (jogging) sebenarnya tidak lebih melelahkan daripada jalan cepat. Jogging juga lebih efektif untuk melatih otot dibandingkan berjalan.
Sebabnya, berlari sekitar dua meter per detik bisa membantu otot pada betis untuk bekerja lebih efisien dibandingkan ketika kita berjalan cepat. Gerakan ini akan membantu otot melepaskan pemicu energi alami pada tubuh, sehingga stamina pun meningkat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari pemindaian, terlihat bahwa otot pada betis bekerja layaknya kopling yang memungkinkan Anda mengganti persneling. Otot ini akan bersiap ketika kita tubuh mulai bergerak, menahan tendon (struktur dalam tubuh yang menghubungkan otot ke tulang) sementara energi tubuh ditransfer ke otot untuk meregangkannya. Lalu para peneliti menemukan bahwa Achilles (otot tendon panjang dan elastis pada belakang kaki bagian bawah) akan bergerak seperti pegas, melepaskan energi yang tersimpan di otot untuk membuat kita terus bergerak.
Tim peneliti yang berasal dari North Carolina State University tersebut menyimpulkan, jalan cepat membuat otot bekerja lebih keras tapi tidak menyediakan energi cukup besar, sehingga mengurangi stamina. Sedangkan jogging pada kecepatan tak lebih dari dua meter per detik, memicu otot untuk mengubah ukurannya secara perlahan sehingga menyediakan lebih banyak energi meskipun tidak bekerja terlalu keras.
"Otot bekerja tak efisien saat jalan cepat, jadi tubuh akan berlari untuk meningkatkan efisiensi dan kenyamanan, dengan tujuan menyimpan tenaga," ujar penulis penelitian Dr Gregory Sawicki, menjelaskan mengapa orang lebih suka jogging daripada jalan cepat.
Dr Gregory juga menambahkan, "Umumnya, orang merasa lebih nyaman berlari daripada berjalan saat mereka mulai bergerak pada kecepatan dua meter per detik --sekitar 4,5 mil per jam. Otot pun tidak bisa mengimbangi saat Anda mempercepat langkah."
(hst/kik)
Pakaian Wanita
3Second Kaos Wanita Berbahan Katun yang Lembut, Anti Gerah Dipakai Sepanjang Hari!
Makanan & Minuman
Dukung Nutrisi Harian Anak, Ini yang Ditawarkan Pediasure Vanila
Elektronik & Gadget
POCO C71, Smartphone Serba Bisa untuk Kerja, Belajar, dan Hiburan
Elektronik & Gadget
3 Produk yang Wajib Masuk Keranjang Saat Blibli Ramadhan THR Sale
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
Kenapa Puasa Bikin Cepat Lemas? Ini Kesalahan Makan yang Sering Dilakukan
7 Alasan Makan Kurma Saat Sahur Bikin Nggak Mudah Lemas
Sering Gelisah Saat Mau Tidur? Kenali Sleep Anxiety dan Cara Mengatasinya
Begadang dan Telat Makan, Ini Dampaknya ke Jam Biologis Hati Kamu!
5 Manfaat Puasa bagi Kesehatan Perempuan, Panjang Umur hingga BB Turun
Most Popular
1
Gaya Glamor Berkerudung Istri Gubernur Kaltim Sarifah Suraidah, Viral Disorot
2
Han So Hee Eksis di Milan, Ngemil Bareng Barbara Palvin & Dylan Sprouse
3
Ramalan Zodiak 3 Maret: Libra Pengeluaran Bengkak, Scorpio Tetap Sabar
4
Viral Facelift Instan Pakai Karet Gelang di Telinga, Ini Kata Pakar
5
Yerin Ha 7 Jam Syuting Adegan Panas 'Bridgerton 4', Dampaknya Tak Terduga
MOST COMMENTED











































