Jarang Kena Sinar Matahari Bikin Susah Bangun Pagi
Nurul Ulfah - wolipop
Kamis, 05 Jan 2012 17:37 WIB
Jakarta
-
Bagi sebagian orang, bangu tidur di pagi hari merupakan hal yang sulit. Apakah Anda termasuk salah satunya? Jika ya, mungkin saja karena Anda jarang terkena sinar matahari.
Menurut penelitian yang dilakukan di Inggris, banyak orang dewasa ang lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan. Mereka juga jarang terkena sinar alami dari matahari terutama di pagi hari.
Hal itu membuat jam biologis tubuh terganggu dan akhirnya memicu perasaan belum ngantuk ketika malam tiba, kebiasaan menunda tidur yang akhirnya membuat rasa lelah dan malas bangun keesokan harinya. Gejala ini umumnya terjadi pada remaja sehingga peneliti menyebutnya sebagai 'teenage night owl syndrome'.
"Kurang kena sinar matahari akan membuat seseorang tidur lebih larut, tidak cukup tidur dan akhirnya merasa malas," ujar Dr Mariana Figueiro dari the Rensselaer Polytechnic Institute's Lighting Research Centre, New York seperti dilansir dari detikhealth.
Figueiro juga menyebutkan, kurang sinar matahari akan membuat performa seseorang menurun. Ia dan rekannya pernah melakukan tes terhadap dua jenis kelompok remaja, yaitu kelompok yang sering kena sinar matahari dan kelompok yang jarang kena matahari.
Hasilnya menunjukkan remaja yang lebih banyak kena sinar matahari menghasilkan skor tes yang lebih baik ketimbang remaja yang jarang kena sinar matahari. "Sinar matahari di pagi hari sangat penting untuk kebutuhan jam biologis seseorang, terutama remaja," kata Figueiro.
Cahaya matahari akan membantu tubuh melepaskan hormon melatonin, yaitu hormon yang membuat tidur. Kekurangan cahaya, berarti hormon melatonin tidak akan terlepas dari tubuh yang membuat orang jadi ingin tidur terus. Artinya ketika waktunya bangun pagi tubuh seperti dipaksa untuk bangun yang membuat tubuh terasa capek dan berat untuk beraktivitas.
Cahaya biru dengan panjang gelombang pendek adalah cahaya yang paling bagus untuk melepaskan hormon melatonin. Jenis cahaya tersebut umumnya berasal dari cahaya matahari di pagi hari.
"Jika seseorang melewatkan cahaya itu di pagi hari maka hormon melatonin akan terlambat dilepaskan dan akhirnya waktu tidur juga akan mengalami kemunduran," jelas Figueiro.
Studi yang dipublikasikan dalam Journal Neuroendocrinology Letters ini menyarankan pentingnya terkena sinar matahari di pagi hari. Peneliti juga menyarankan agar desain bangunan dirancang sedemikian rupa agar sinar matahari bisa masuk ke dalam ruangan meski seseorang berada di dalam ruangan.
(eya/eya)
Menurut penelitian yang dilakukan di Inggris, banyak orang dewasa ang lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan. Mereka juga jarang terkena sinar alami dari matahari terutama di pagi hari.
Hal itu membuat jam biologis tubuh terganggu dan akhirnya memicu perasaan belum ngantuk ketika malam tiba, kebiasaan menunda tidur yang akhirnya membuat rasa lelah dan malas bangun keesokan harinya. Gejala ini umumnya terjadi pada remaja sehingga peneliti menyebutnya sebagai 'teenage night owl syndrome'.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Figueiro juga menyebutkan, kurang sinar matahari akan membuat performa seseorang menurun. Ia dan rekannya pernah melakukan tes terhadap dua jenis kelompok remaja, yaitu kelompok yang sering kena sinar matahari dan kelompok yang jarang kena matahari.
Hasilnya menunjukkan remaja yang lebih banyak kena sinar matahari menghasilkan skor tes yang lebih baik ketimbang remaja yang jarang kena sinar matahari. "Sinar matahari di pagi hari sangat penting untuk kebutuhan jam biologis seseorang, terutama remaja," kata Figueiro.
Cahaya matahari akan membantu tubuh melepaskan hormon melatonin, yaitu hormon yang membuat tidur. Kekurangan cahaya, berarti hormon melatonin tidak akan terlepas dari tubuh yang membuat orang jadi ingin tidur terus. Artinya ketika waktunya bangun pagi tubuh seperti dipaksa untuk bangun yang membuat tubuh terasa capek dan berat untuk beraktivitas.
Cahaya biru dengan panjang gelombang pendek adalah cahaya yang paling bagus untuk melepaskan hormon melatonin. Jenis cahaya tersebut umumnya berasal dari cahaya matahari di pagi hari.
"Jika seseorang melewatkan cahaya itu di pagi hari maka hormon melatonin akan terlambat dilepaskan dan akhirnya waktu tidur juga akan mengalami kemunduran," jelas Figueiro.
Studi yang dipublikasikan dalam Journal Neuroendocrinology Letters ini menyarankan pentingnya terkena sinar matahari di pagi hari. Peneliti juga menyarankan agar desain bangunan dirancang sedemikian rupa agar sinar matahari bisa masuk ke dalam ruangan meski seseorang berada di dalam ruangan.
(eya/eya)
Home & Living
Sekali Coba Susah Balik! Handuk Premium Ini Harus Kamu Punya, Cek Alasannya
Home & Living
Satu Set Alat Ini Memudahkan Pekerjaan Kamu! TEKIRO Socket Set Harus Kamu Miliki di Rumah
Home & Living
Nggak Perlu Capek Bersihin WC! Notale Spin Scrubber Ini Memudahkan Pekerjaan, Harus Ada di Rumah
Home & Living
Cari Dudukan Santai yang Empuk dan Estetik? Pilihan Bean Bag Ini Layak Jadi Andalan
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
Tak Hanya Minyak Berlebih, Ini Penyebab Jerawat di Wajah
Kenali Jenis-Jenis Jerawat dan Cara Merawatnya dengan Tepat
Tren 'Ozempic Body' Makin Ekstrem, Kini Beralih ke Pengangkatan Tulang Rusuk
6 Tren Diet yang Viral dan Populer Sepanjang 2025
6 Bulan Diet Ayam Rebus, Influencer Ini Nyaris Kehilangan Nyawa
Most Popular
1
Desta Remake Foto Keluarga di Korea, Kompak Bareng Natasha Rizki & 3 Anak
2
Potret Jisoo BLACKPINK Ultah, Traktir 103 Fans Makan Hingga Bagi-bagi iPhone
3
8 Foto Pernikahan Putri Gordon Ramsay, Terungkap Pakai Gaun Pengantin Elie Saab
4
Viral Verificator
Viral Pengantin Curhat Pakai Makeup Artist Pilihan Keluarga Mertua, Bikin Nangis
5
Sosok Alix Earle, Influencer Viral yang Disebut Pacar Baru Tom Brady
MOST COMMENTED











































