Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Designer Profile: Lenny Agustin

wolipop
Senin, 10 Mei 2010 17:50 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Jakarta - Siapa tak kenal Lenny Agustin? Perancang busana ternama dengan gaya rambut pendek yang selalu menjadi ciri khasnya. Tak hanya penampilannya saja yang nyentrik, desainnya yang berbeda juga selalu menjadi perhatian dan bahkan ditiru banyak orang.

Lenny, biasa ia disapa, sudah mempunyai ketertarikan dalam bidang fesyen semenjak ia masih kecil. Berawal dari membuat baju untuk bonekanya dan memperhatikan gaya modis kedua kakaknya saat beranjak remaja menginspirasi Lenny untuk belajar jahit dan membuat pola. Hasratnya terus tumbuh sehingga saat ia duduk di bangku SMP, anak ke tujuh dari sembilan bersaudara itu sangat menyukai pelajaran tata busana.

Tak hanya sekedar suka saja, Lenny ingin serius di bidang fesyen. Cukup berat baginya memutuskan untuk serius dalam bidang ini, ketidaksetujuan orang tuanya lah yang menjadi penghalang. Ayahnya yang pekerja kantoran menganggap bahwa seni itu hanya sebatas hobi saja tak bisa dijadikan pekerjaan yang menjanjikan. Akkhirnya Lenny memutuskan untuk tidak kuliah setelah lulus SMA. "Aku boikot kuliah selama dua tahun, cuma ikut kursus bahasa Inggris saja. Soalnya saya merasa yakin percuma kuliah ke jurusan yang saya enggak suka," terang Lenny.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setelah mendapatkan restu dari sang ayah, akhirnya ia memutuskan untuk kuliah di ISWI pada tahun 1992. Lenny mengakui bahwa tahun pertama ia masuk kuliah adalah tahun terberatnya selama menekuni bidang rancang busana ini. "Aku ini orang daerah, teman juga belum banyak yang kenal, aku nggak tahu tuh dimana beli kain, kancing dan lain-lain" ceritanya saat ditemui di butiknya dibilangan Setiabudi, Jakarta Pusat. Lenny pun juga pernah mengalami masalah saat kuliah karena belum mempunyai basic pendidikan fesyen. Ia sempat gagal di beberapa mata kuliah menjahit dan pola. Hal tersebut tak membuatnya putus asa, dengan mengambil kursus ia berhasil membuktikan lulus pelajaran tersebut dengan nilai yang memuaskan. Tak puas, ia pun meneruskan sekolah di Bunka School of Fashion pada tahun 1996 untuk lebih menekuni pattern maker selama satu tahun dan mengambil kursus di LaSalle College, Jakarta di tahun 2000.

Setelah lulus kuliah Lenny pun memutuskan untuk membuka butik kecil-kecilan. Saat itu pelanggannya pun tak banyak, pengahsilannya hanya berkisar 150 ribu untuk satu baju yang ia jual. Di tahun 2003 inilah awal dari perkembangan karir Lenny, ia memberanikan dirinya untuk ikut dalam lomba merancang baju pengantin di sebuah majalah. Tak disangka, Lenny berhasil menjadi juara pertama dan kebaya yang ia buat menjadi cover majalah tersebut. Inilah yang akhirnya membuat Lenny dikenal sebagai perancang baju pengantin.

Namun Lenny tak mudah puas, sebuah majalah perkawinan menatangnya untuk membuat kebaya. Tak seperti yang ia kira, kebaya yang Lenny buat menjadi booming. Dengan tiga buah bahan dasar kebaya, yakni sifon, tile dan organdi, Lenny membuat desain kebaya dengan gaya yang lebih young ditambah sebuah terobosan. "Kerut-kerut di dada itu ide saya, sekarang udah banyak yag pake gaya itu," ujarnya seraya tertawa.

Sekarang Lenny Agustin sudah memiliki empat line. Lenny Agustin, Lenny Agustin Bridal, Lennor dan Waw. Masing-masing dari clothing linenya mempunyai perbedaan namun mempunyai benang merah ala Lenny yaitu, funky.

Lennor merupakan bahasa gypsy yang berarti musim panas. "Indonesia tiap hari tuh panas kalau pun dingin juga hanya hujan. Jadi aku buat line ini dengan tema summer" jelas ibu tiga anak ini. Busana siap pakai yang ditawarkan juga sangat girly dan trendy. Lennor banyak memakai unsur budaya Indonesia dengan menggunakan bahan tradisional Indonesia. Selain batik, rancangannya juga menggunakan lurik, jumputan, tenun dan juga sarung.

Sedangkan WAW kepanjangan dari What Are you Wearing. Clothing line ini merupakan koleksi pakaian untuk kaum muda yang sangat wearable seperti kaos, topi, tas, dompet, t-shirt dan ikat pinggang. Yang jadi ciri khas desain pada koloeksi WAW ini terlihat dari grafis atau print di setiap bajunya. "Waw lebih playful dan colorful" tambahnya.

Saat ini Lenny sedang menyiapkan fashion show terbarunya. Ia akan memamerkan koleksi teranyar yang bertema 'Grandma I Miss You' di acara tahunan Jakarta Food Fashion Festival 2010. Dijadwalkan sebagai fashion show pembuka, Lenny menawarkan busana dengan sentuhan klasik ala perempuan zaman dulu.

Begitu ditanya mengenai apa lagi yang ingin dicapainya, Lenny menjawab tegas "Bisa mewakili brand-brand lokal untuk go internasional. Asia tenggara untuk lima tahun ke depan, kemudian Internasional untuk 10 tahun kedepan."

Menurut Lenny perkembangan fashion di Indonesia sudah sangat bagus, sama bagusnya dengan desain desain luar negeri. "Untuk sejajar sih belum yah, tapi perekembangannya luar biasa kok," aku Lenny. Lenny pun mengharapkan sistem pemerintahan baru bisa lebih mendukung para desainer-desainer lokal agar lebih bagus dan maju dalam berkarya.
(eya/kee)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads