Laporan dari Paris
Mengenal Paul Poiret, 'King of Fashion' Sekaligus Inovator Baju Tanpa Korset
Bicara soal sejarah fashion era modern, sulit untuk tidak berbicara tentang Paul Poiret (1879-1944). Namanya mungkin terdengar asing di telinga publik, tapi dialah yang memiliki andil besar dalam merevolusi cara perempuan berpakaian serta mendobrak industri mode di Prancis pada awal abad ke-20.
Desainer Elsa Schiaparelli (1890-1973) dalam memoirnya, menyamakan kejeniusan Poiret dengan Leonardo da Vinci. Sanjungan datang pula dari Christian Dior (1905-1957) yang menyebutnya sebagai inovator terbesar dalam sejarah fashion.
Untuk merayakan karya dan warisannya, Musee des Arts Decoratifs Paris, salah satu museum fashion terbesar di dunia, sejak Juni 2025 menggelar pameran bertajuk 'Paul Poiret Fashion is a Feast'.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wolipop bersama rombongan Pintu Incubator dari Jakarta berkesempatan menyambangi pameran tersebut baru-baru ini dan didampingi langsung oleh sang kepala kurator museum, Marie-Sophie Carron de la Carrièr.
Berlangsung hingga 11 Januari 2026, pameran ini menyuguhkan hampir 600 objek yang dibagi menjadi 11 sekuen instalasi di dua lantai museum.
Paul Poiret lahir di Paris pada 20 April 1879 dari seorang ibu yang bekerja sebagai pedagang kain. Sejak kecil, ia sudah menunjukkan ketertarikan pada seni yang kemudian ikut membentuk seleranya dalam berbusana.
Bakatnya dalam bidang desain kemudian mendapat pengakuan dari pembuat pakaian profesional di Paris. Seorang couturier bernama Madame Cheruit (1866-1955) membeli desainnya. Begitu pula Jacques Doucet (1853-1929) yang pada akhirnya merekrut Poiret pada 1898.
Pengunjung menyaksikan layar TV yang menampilkan kolase foto koleksi desainer Paul Poiret dan karyanya saat pameran 'Paul Poiret Fashion is a Feast' di Musee des Arts Decoratifs Paris. (Foto: Daniel Ngantung/detikcom) |
Tiga tahun berselang, bekerja untuk Gaston Worth, putra dari Charles Frederick Worth (1825-1895), desainer asal Inggris yang dalam sejarah fashion disebut-sebut sebagai 'Bapak Haute Couture'.
Keterampilan Poiret semakin terasah sampai akhirnya Poiret memberanikan diri untuk mendirikan rumah modenya sendiri pada 1903 dengan bermodalkan pinjaman dari uang pensiun ibunya yang sudah menjanda.
Koleksi pertamanya menawarkan inovasi yang melawan arus pada masanya, yakni busana perempuan tanpa korset.
"Anda bisa melihat ada korset di sana. Ini sebelum Paul Poiret," kata Marie-Sophie sambil menunjuk instalasi yang memperlihatkan dalaman yang umum digunakan perempuan sebelum abad 20 untuk mempertegas siluet tubuh.
Gaun 'Josephine' (kiri) menandai inovasi pakaian wanita tanpa korset yang ditawarkan oleh Poiret. (Foto: Daniel Ngantung/detikcom) |
Korset membuat tubuh perempuan lebih molek, tapi di sisi lain juga menjadi simbol pengekangan karena membatasi gerak. Tak jauh dari korset, gaun-gaun rancangan Poiret mulai ditampilkan.
Salah satunya gaun 'Josephine' yang dibuat Poiret pada 1907. Terusan tersebut hadir dalam siluet empire di mana potongan di bagian pinggul dinaikkan hingga di bawah dada. Pemakainya pun lebih nyaman bergerak.
Terdapat dekorasi berupa bordiran emas yang menghiasi keliman luaran transparannya. "Saking ringkih, kami tidak bisa memamerkannya dengan manekin," tambah Marie-Sophie.
Dalam berkarya, Poiret selalu terinspirasi oleh sang istri, Denise Boulet, yang dinikahinya pada 1905. Selain itu, ilham juga datang dari kedekatannya dengan para seniman Prancis.
Pakaian Poiret yang motifnya dicetak dengan teknik yang mirip seperti batik cap. (Foto: Daniel Ngantung/detikcom) |
Dari teman, menjadi kolaborator. Ia menggandeng Raoul Dufy (1877-1953), pelukis Prancis yang ikut mempelopori kelahiran aliran Fauvism. "Ini merupakan kolaborasi pertama dalam sejarah fashion," ungkap Marie-Sophie.
Dengan Dufy, Poiret bereksperimen dengan tekstil cetak yang kemudian mengawali kepopuleran pakaian bermotif 'printing'. Marie-Sophie cukup bersemangat saat hendak menjelaskan kreasi 'Poiret x Dufy' karena kemungkinan berkaitan dengan Indonesia. "Motifnya dicetak dengan balok yang terbuat dari kayu, seperti teknik membatik (cap)," tuturnya.
Estetika orientalisme yang berakar dari keeksotisan budaya Asia dan Afrika turut memberi inspirasi bagi Poiret. Marie-Sophie mengungkapkan, Poiret yang diketahui sebagai pencita traveling tapi tidak pernah berkesempatan mengunjungi negara-negara di kedua benua tersebut.
Imajinasi Poiret tentang orientalisme terbentuk lantaran sering menghadiri pameran kain di mana para pedagang tekstil dari seluruh penjuru dunia.
Botol parfum dari lini milik Paul Poiret. Ia menjadi couturier pertama di dunia yang merilis parfum. (Foto: Daniel Ngantung/detikcom) |
Karya-karya Poiret diminati oleh para sosialita dan selebriti Prancis yang terkenal pada masa itu. Kesuksesan tersebut memotivasi Poiret untuk mengekspansi bisnisnya, termasuk parfum. "Poiret menjadi couturier pertama yang membuat lini parfum untuk dijual," kata Marie-Sophie.
Busana rancangan Poiret akrab di kalangan selebriti hingga sosialita Prancis, dan mendunia hingga ke negara-negara tetangga. Ia pernah dijuluki sebagai 'King of Fashion' oleh pers Amerika Serikat saat memperkenalkan kerajaan bisnisnya di Negeri Paman Sam.
Selain karya Poiret, pameran ini turut menyertakan busana karya desainer lain yang terpengaruh olehnya. Dari Karl Lagerfeld, Yves Saint Laurent, hingga Rei Kawakubo (pendiri Comme des Garçons), Poiret menginspirasi desainer lintas generasi yang merupakan nama-nama besar yang kita kenal sekarang.
Hidup Poiret penuh dengan pesta pora. Marie-Sophie mengungkapkan, menggelar pesta merupakan salah satu cara Poiret untuk berjejaring sosial sekaligus memanjakan klien setianya. Itu mengapa tajuk pameran ini menyertakan kata 'feast' atau dalam bahasa Indonesia dapat dimaknai pesta besar.
Baju Rei Kawakubo yang terinspirasi oleh Poiret. (Foto: Daniel Ngantung/detikcom) |
Namun, gaya hidup tersebut justru malah menjadi bumerang yang menjatuhkan Poiret. Ia berpesta hingga melarat. Karier yang meredup karena tak mampu bersaing dengan desainer baru semakin memperburuk finansial bisnisnya sampai ia terpaksa gulung tikar.
Poiret yang telah dikaruniai lima anak semakin terpuruk hidupnya setelah istri tercinta sekaligus sang muse menceraikannya. "Ia meninggal dalam kondisi miskin, tanpa uang sepeser pun di kantong," ungkap Marie-Sophie.
(dtg/dtg)
Health & Beauty
Secret Garden Extrait de Parfum, Wangi Mewah yang Tahan Lama dan Bikin Kesan Lebih Berkelas!
Health & Beauty
Rambut Lebih Halus & Anti Ngembang, Ini 3 Hair Care Andalan untuk Rambut yang Susah Diatur!
Hobbies & Activities
Main Badminton Lebih Stabil, Ini Rekomendasi 3 Shuttlecock yang Nyaman Dipakai Latihan Rutin
Hobbies & Activities
American Tourister Argyle Cabin 20 Inch jadi Solusi Ringkas dan Aman untuk Travel Singkat
Tas Belanja Kanvas Ini Jadi Rebutan Dunia, Ada yang Dijual Rp 160 Juta
Jaket Nicolas Maduro saat Ditangkap Jadi Sorotan, Viral Diburu Netizen
Deretan Perhiasan Mewah di Karpet Merah Critics' Choice Awards 2026
5 Tren Sepatu 2026 yang Bakal Booming, Terinspirasi Runway Dunia
Kontroversi Boots Rama Duwaji di Pelantikan Mamdani, Dianggap Terlalu Mewah
7 Foto Mesra Salshabilla Adriani dan Ibrahim Risyad yang Sedang Jadi Sorotan
Gaya Ranty Maria di Pas Foto Nikah, Tampil Natural Nyaris Tanpa Makeup
Tas Belanja Kanvas Ini Jadi Rebutan Dunia, Ada yang Dijual Rp 160 Juta
Ramalan Shio 2026
Pakar Feng Shui Bongkar Kunci Cuan 2026 Satu Hal Ini Agar Emosi Tetap Stabil


















































