Cerita di Balik Sneakers Putih Andalan Pasukan Taliban saat Perang

Daniel Ngantung - wolipop Selasa, 24 Agu 2021 06:00 WIB
A Taliban fighter stands guard at a checkpoint in the Wazir Akbar Khan neighborhood in the city of Kabul, Afghanistan, Sunday, Aug. 22, 2021. A panicked crush of people trying to enter Kabuls international airport killed several Afghan civilians in the crowds, the British military said Sunday, showing the danger still posed to those trying to flee the Talibans takeover of the country. (AP Photo/Rahmat Gul) Penampilan anggota Taliban saat berpatroli di jalanan kota Kabul, Afghanistan, Minggu (22/8/2021). (Foto: AP/Rahmat Gul)
Kabul -

Meski dikenal sangat konservatif, pasukan Taliban ternyata lebih 'terbuka' untuk urusan alas kaki. Sneakers atau sepatu olahraga, yang merupakan produk budaya Barat, menjadi bagian dari perlengkapan wajib mereka saat berperang.

Dari sekian banyak model dan brand sneakers yang bermunculan, ada satu yang jamak dipakai pasukan Taliban. Saat menduduki Kabul, ibukota Afghanistan, baru-baru ini, banyak anggota Taliban berpatroli dengan memakai sneakers putih bersiluet high-top yang dihiasi aksen hijau-kuning pada sisi kiri dan kanan.

A Taliban fighter stands guard at a checkpoint in the Wazir Akbar Khan neighborhood in the city of Kabul, Afghanistan, Sunday, Aug. 22, 2021. A panicked crush of people trying to enter Kabul's international airport killed several Afghan civilians in the crowds, the British military said Sunday, showing the danger still posed to those trying to flee the Taliban's takeover of the country. (AP Photo/Rahmat Gul)Penampilan anggota Taliban saat berpatroli di jalanan kota Kabul, Afghanistan, Minggu (22/8/2021). Tampak sneakers 'Cheetah' menjadi alas kaki andalan.(Foto: AP/Rahmat Gul)

Sepintas, sneakers tersebut mirip sepatu-sepatu keluaran merek yang namanya telah mendunia seperti Nike atau Adidas. Menurut laporan New York Times, pembuatnya adalah Servis Shoes, salah satu pabrikan sepatu terbesar di negara tetangga, Pakistan.

Adapun model yang menjadi andalan pasukan Taliban itu dikenal dengan nama Cheetah. Servis Shoes diketahui telah memproduksi seri Cheetah sejak 1980-an dan langsung populer di Afghanistan. Saat ini, seri Cheetah yang dibuat di Gujarat termasuk salah satu produk best-seller dari Servis.

Sneakers Cheetah dapat ditemui dengan mudah karena hampir setiap toko sepatu, khususnya di Kabul, menjualnya. Ada yang orisinal, tapi ada pula versi palsunya dari China. Harganya berkisar dari US$ 13 hingga US$ 25 (Rp 187 ribu - Rp 360 ribu).

Taliban fighters patrol as two Traffic policemen stand, left, in Kabul, Afghanistan, Thursday, Aug. 19, 2021. The Taliban celebrated Afghanistan's Independence Day on Thursday by declaring they beat the United States, but challenges to their rule ranging from running a country severely short on cash and bureaucrats to potentially facing an armed opposition began to emerge. (AP Photo/Rahmat Gul) (AP Photo/Rahmat Gul)

Terlepas dari popularitasnya, sneakers tersebut meninggalkan trauma tersendiri bagi orang-orang Afghanistan. Ada rasa takut yang muncul muncul ketika melihatnya karena mengingatkan mereka pada Taliban, kelompok yang mengekang kebebasan rakyat Afghanistan sejak mulai berkuasa pada 1996.

"Aku sering melihat sepatu ini dipakai Taliban," kata Mar Jan, warga Khost, sebuah kota di pegunungan Afghanistan Selatan. Anggota milisi pemerintahan, pasukan pengaman, kriminal dan warga di kawasan kumuh juga disebut memakainya.

Pamor sneakers ini kian meningkat di kalangan Taliban menyusul invasi pasukan AS pada 2001. "Hampir setiap saat, kami memakai sepatu putih dan warna tersebut seperti menjadi simbol perdamaian," ungkap Najibullah Aqtash, seorang komandan lokal Taliban untuk Provinsi Kunduz. Ia menambahkan, putih merupakan warna bendera Taliban.

Taliban fighters patrol as two Traffic policemen stand, left, in Kabul, Afghanistan, Thursday, Aug. 19, 2021. The Taliban celebrated Afghanistan's Independence Day on Thursday by declaring they beat the United States, but challenges to their rule ranging from running a country severely short on cash and bureaucrats to potentially facing an armed opposition began to emerge. (AP Photo/Rahmat Gul)(Foto: AP/Rahmat Gul)

Para komandan Taliban di utara, selatan dan timur biasanya mengirim taksi untuk mengambil sneakers Cheetah yang sudah dipesan.

Hashim Shingal, salah seorang pedagang sepatu di Kabul, mengatakan, bisa menjual hingga 300 pasang sneakers Cheetah dalam sebulan, khususnya saat musim dingin. Kliennya, tambah pria 36 tahun itu, ada yang berasal dari sekitaran Mazar-i-Sharif di mana konflik antara Taliban dan pemerintah Afghanistan masih berlangsung.


Selain putih, Cheetah versi hitam juga tenar di kalangan Taliban. Ketenarannya terungkap di buku 'No Easy Day: The Firsthand Account of the Mission That Killed Osama Bin Laden' karya Matt Bissonette.

"Para lawan yang tewas terlihat memakai baju dan celana longgar, dengan Cheetah hitam, semacam sneakers yang mirip high-top Puma, yang biasa dipakai Taliban," tulis eks anggota Angkatan Laut AS itu.

Saking identiknya dengan Taliban, tulis Matt, muncul candaan di kalangan pasukan AS bahwa siapa saja di antara mereka yang memakai Cheetah hitam otomatis patut dicurigai.

397670 02: Taliban fighters look out from their jeep November 24 2001 as several hundred Taliban led by Commander Amidullah Khan defect to the Northern Alliance on the frontline outside the city of Kunduz, Afghanistan. As Taliban defections to the Alliance continue, it's forces move to occupy more abandoned villages close to Kunduz. (Photo by Sion Touhig/Getty Images)(Foto: Getty Images/Sion Touhig)



Simak Video "Charlotte Bellis, Jurnalis Wanita yang Curi Perhatian di Preskon Taliban"
[Gambas:Video 20detik]
(dtg/dtg)