Mengenal 'Super Shoes' Andalan Atlet Olimpiade yang Jadi Kontroversi

Rahmi Anjani - wolipop Kamis, 05 Agu 2021 09:00 WIB
TOKYO, JAPAN - AUGUST 03: Karsten Warholm of Team Norway ran a new world and Olympic record of 45.94 seconds in the mens 400m hurdles during the Athletics event on Day 11 of the Tokyo 2020 Olympic Games at the Olympic Stadium on August 03, 2021 Tokyo, Japan. (Photo by Roger Sedres/Gallo Images) Foto: Getty Images/Gallo Images
Jakarta -

Sepatu menjadi hal yang penting untuk banyak cabang olahraga, termasuk pelari. Kecanggihan teknologi pun membuat sejumlah brand mengeluarkan sepatu terbaik agar performa mereka jadi lebih baik. Belakangan muncul sepatu super yang bukan hanya nyaman dipakai tapi ekstra ringan bahkan bisa meningkatkan kekuatan dan lompatan saat berlari. Karenanya, 'super shoes' ini sempat menjadi kontroversi.

Cukup banyak kontroversi yang mewarnai penyelenggaraan Olimpiade Tokyo 2020. Salah satunya datang dari cabor lari di mana super shoes yang dipakai beberapa atlet dianggap bisa jadi menguntungkan penggunanya dibanding yang tidak mengenakan. Hal ini jadi perbincangan setelah pemenang medali emas Karsten Warholm dari Norwegia mengritik super shoes Air Zoom Maxflix usai menang pertandingan.

Ia mengaku memecahkan rekor selagi mengenakan Puma EvoSpeed Future Faster+ spikes yang didesainnya bersama tim Mercedes F1 seharga £170 (Rp 3,3 jutaan). Menurutnya sepatu tersebut punya teknologi omong kosong selagi Rai Benjamin dari AS yang mengenakan Maxflix seharga £165 (Rp 3,1 jutaan) berada di posisi kedua.

"Aku pikir itu mengambil kredibilitas dari olahraga kami. Aku tidak mengerti mengapa kamu harus memasukkan sesuatu di bawah sepatu lari," kata Warholm yang menyamakan teknologi tersebut seperti trampolin.

Super shoes memang pertama kali dikembangkan oleh Nike. Beberapa tahun ini ada kecurigaan mengenai sepatu tersebut yang disebut bisa sangat memperingan langkah. Para kritikus mengatakan jika mengenakan sepatu itu sama saja dengan memakai doping mekanis. Namun para pendukungnya melihat jika alas kaki tersebut adalah sebuah revolusi.

Dilansir The Sun, super shoes dari Nike hadir dengan plat serat-karbon yang meringankan kerja pergelangan kaki. Adapun eknologi 'atomknit' bisa mengurangi berat sepatu sedangkan 'air pod' adalah kantong di dalam sol untuk menciptakan lompatan karena itu Karsten Warholm menyebutnya sebagai trampolin. Sementara teknologi 'zoomx' disebut revolusioner yang bisa menambah pegas ketika berlari.

Meski jadi kontroversi sampai saat ini penggunaan super shoes masih diperbolehkan. Namun alas kaki super ini masih mengundang kritik bahkan dari Usain Bolt. Ia sendiri menilai jika sepatu itu pasti bisa membuatnya berlari lebih cepat. "Aku tidak tahu pasti. Tapi pasti lebih cepat. Di bawah 9,5 detik pasti," katanya kepada The Guardian.

"Ketika diberi tahu tentang itu aku tidak percaya kita sampai di sini. Bahwa kita sangat kesal dengan spikes karena memberi keuntungan untuk atlet berlari lebih cepat. Itu aneh dan tidak adil untuk banyak atlet karena aku tahu sebelumnya pembuat ingin mencoba tapi dewan berkata, Tidak kamu tidak bisa mengganti spikes. Jadi saat tahu mereka melakukan itu sekarang, itu lucu," kata Bolt.

(ami/ami)