Daftar Brand Fashion Prancis yang Ikut Tersenggol Seruan Boikot Presiden Turki

Daniel Ngantung - wolipop Jumat, 30 Okt 2020 14:31 WIB
Butik Dior (Foto: Getty Images/Chris McGrath) Butik Dior (Foto: Getty Images/Chris McGrath)
Paris -

Deretan brand fashion asal Prancis sedang disorot menyusul seruan pemboikotan dari Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Ajakan ini muncul sebagai bentuk protes terhadap Presiden Prancis Emmanuel Macron yang dinilai telah menghina Islam.

Pernyataan kontroversial Macron tersebut dilontarkan untuk menanggapi kematian seorang guru Prancis yang memperlihatkan kartun Nabi Muhammad SAW kepada muridnya. Dalam pidatonya, ia menyebut korban bernama Samuel Paty tersebut dibunuh karena "Para Islamis menginginkan masa depan kami".

Atas ucapan Macron, Erdogan pun tak tinggal diam dengan menyerukan pemboikotan terhadap produk-produk bikinan perusahaan Prancis.

"Kini saya menyerukan kepada bangsa kita, sebagaimana yang telah terjadi di Perancis untuk tak membeli merek-merek Turki, maka saya menyerukan kepada bangsa saya di sini dan mulai sekarang: jangan perhatikan barang-barang berlabel Perancis, jangan beli barang-barang itu," katanya dalam sebuah pidato di televisi, Senin (26/10/2020).



Hanya dalam hitungan jam, Turkish Youth Foundation (TÜGVA), sebuah organisasi yang erat kaitannya dengan pemerintah, mengunggah foto berisi daftar merek Prancis untuk diboikot. Foto tersebut langsung marak beredar di media sosial.

Selain merek otomotif seperti Renault dan Peugeot, terdapat pula nama-nama besar dari dunia fashion. Berikut enam di antaranya:

1. Christian Dior

PARIS, FRANCE - SEPTEMBER 29: A model walks the runway during the Dior Womenswear Spring/Summer 2021 show as part of Paris Fashion Week on September 29, 2020 in Paris, France. (Photo by Pascal Le Segretain/Getty Images)(Foto: Getty Images/Pascal Le Segretain)

Sesuai namanya, jenama yang satu ini didirikan oleh Christian Dior dan telah eksis sejak 8 Oktober 1946. Di bawah arahan sang pendiri, Dior merebut perhatian dunia dengan desainnya yang dianggap inovatif karena berbeda dari kebanyakan busana perempuan saat itu.

Bar jacket menjadi salah satu tawaran Dior yang menggebrak dunia fashion sehingga mendapat julukan New Look. Seiring berjalan waktu, Dior sebagai sebuah perusahaan terus berkembang dengan merambah ke produk parfum hingga busana pria.

Saat ini, Dior dipayungi oleh grup LVMH dengan Maria Grazia Chiuri sebagai direktur kreatif untuk koleksi busana wanita. Menurut Forbes, nilai merek ini sudah menyentuh angka US$ 89,6 miliar.


2. Louis Vuitton

Milan, Italy - December 15, 2015: Louis Vuitton luxury leather bag in the shop window in Milan's fashion district Via Monte Napoleone showcasing the latest fashion news in an original way.Tas Louis Vuitton (Foto: Getty Images)

Meski tergolong merek high-end, awal-mula Louis Vuitton justru jauh dari kesan glamor. Sang pendiri, Louis Vuitton diketahui sebagai seorang pria miskin dari Anchay, sebuah desa kecil di Prancis.

Demi bertahan hidup, Louis Vuitton memulai usaha kecil-kecilan. Ia membuat peti dan koper yang pada akhirnya diminati kaum elite. Toko pertamanya buka pada 1854 sebelum akhirnya berkembang menjadi pembuat tas dan busana ready to wear.

Di era modern, Louis Vuitton yang saat ini dimiliki oleh LVMH telah melalui banyak pergantian kepala kreatif busana wanita dan pria yang hampir semuanya merupakan desainer ternama. Sebut saja Marc Jacobs, Nicolas Ghesquière dan Virgil Abloh. Forbes mencatat, valuasi Louis Vuitton pada 2020 mencapai US$ 47,2 miliar.

3. Yves Saint Laurent (YSL)

Yves Saint-Laurent mendandani model di butiknya, Paris, Prancis, pada 7 April 1965.Yves Saint-Laurent mendandani model di butiknya, Paris, Prancis, pada 7 April 1965. (Foto: Getty Images/Reg Lancaster)

Eksis sejak 59 tahun lalu, Yves Saint Laurent membuat label ini setelah bekerja untu Dior. Salah satu karyanya, setelan Le Smoking, disebut-sebut sebagai salah satu revolusi terbesar di dunia fashion.

Nama YSL sebagai sebuah brand sempat berganti menjadi Saint Laurent ketika berada di bawah pimpinan desainer Hedi Slimane sebagai direktur kreatif. Pendapatan merek ini diperkirakan mencapai US$ 1,2 miliar.

Selanjutnya
Halaman
1 2