Butiknya Dijarah, Marc Jacobs: Properti Bisa Diganti Tapi Nyawa Tidak

Daniel Ngantung - wolipop Selasa, 02 Jun 2020 18:00 WIB
NEW YORK, NY - MAY 07:  Designer Marc Jacobs (L) and Lorenzo Martone attend the Marc Jacobs (Foto: Slaven Vlasic/Getty Images)
Los Angeles -

Belum pulih sepenuhnya dari imbas virus Corona, bisnis para nama besar dunia fashion di Amerika Serikat kembali terpukul setelah butik mereka menjadi korban vandalisme yang terjadi di tengah gelombang protes menyusul kematian pria kulit hitam George Floyd di tangan polisi. Marc Jacobs, desainer ternama asal AS, pun tak luput dari peristiwa tersebut.

Situs majalah 'W' menyebut butik Marc Jacobs di Los Angeles menjadi salah satu butik mewah yang dirusak akhir pekan lalu. Kabarnya, pengrusakan tersebut bahkan diikuti pula dengan aksi penjarahan.

Mendengar butiknya mengalami kerusakan, Marc Jacobs yang pernah menjabat sebagai direktur kreatif Louis Vuitton, akhirnya angkat bicara.

[Gambas:Instagram]





Terlihat dari unggahannya di Instagram, (31/5/2020), Marc justru lebih marah terhadap ketidakadilan yang terjadi ketimbang butiknya yang dirusak. "Jangan biarkan mereka meyakinkanmu bahwa kaca atau properti yang rusak adalah bentuk kekerasan. Kelaparan justru kekerasan, peperangan adalah kekerasan, rasisme adalah kekerasan..." demikian bunyi kalimat pada foto yang diunggah Marc.

Pada bagian akhir tertulis, "Properti bisa diganti, tapi nyawa manusia tidak." Marc lalu memberi tagar 'Black Lives Matter', gerakan antirasialis dan diskriminasi terhadap warga keturunan Afrika-Amerika di AS yang disuarakan dalam aksi protes itu.

Demonstrasi besar-besaran yang dipicu oleh tewasnya George Floyd terjadi di Minneapolis dan meluas ke beberapa kota metropolitan AS. Unjuk rasa yang dilakukan secara damai itu berbuntut rusuh dengan aksi vandalisme dan penjarahan.





Seperti dikabarkan Insider, beberapa video yang viral di media sosial memperlihatkan tindakan kriminal tersebut justru dilakukan oleh warga kulit putih.

Salah satu video sempat mengabadikan momen seorang perempuan kulit putih mencorat-coret pintu gerai Starbucks. Perempuan kulit hitam yang merekam kejadian tersebut terdengar mencoba menghentikannya. "Nanti kami yang akan disalahkan," kata sang perekam.

Diberitakan sebelumnya, George Floyd meninggal di Minneapolis pada Senin (25/5) malam waktu setempat saat ditangkap oleh polisi karena dicurigai bertransaksi dengan menggunakan uang kertas palsu.

Sebuah video dari insiden tersebut memperlihatkan seorang petugas berkulit putih terus menekan lehernya dengan lutut saat dia terjepit di tanah. Floyd sempat mengucapkan kata-kata 'Saya tak bisa bernapas' sebelum akhirnya meninggal.



Simak Video "Kenali Toxic Relationship, Apakah Hubungan Kamu Salah Satunya?"
[Gambas:Video 20detik]
(dtg/dtg)