Hari Batik Nasional

Gabungkan Desain Batik Indonesia dan Jepang, Putri Raup Omzet Puluhan Juta

Gresnia Arela Febriani - wolipop Rabu, 02 Okt 2019 15:30 WIB
Putri Urfanny Nadhiroh. Foto: instagram @putrikomar Putri Urfanny Nadhiroh. Foto: instagram @putrikomar

Jakarta - Mari berkenalan dengan perancang batik muda Putri Urfanny Nadhiroh S.Ds., M.A atau dikenal dengan nama Putri Komar. Putri dikenal sebagai pencipta Shibotik, busana yang menggabungkan motif batik Indonesia dengan Shibori yang populer sebagai 'batik' asal Jepang.

Sejak kecil Putri sudah terpapar dengan dunia batik. Ayahnya adalah pendiri brand Rumah Batik Komar, Komarudin Kudiya, yang cukup populer di Bandung. Sebelum ayahnya, kakek dan neneknya pun dikenal sebagai pengrajin batik.

"Kedua orangtuaku bisnis rumahan, jadi awalnya di garasi rumah bikinnya. Setiap hari aku melihat caranya bikin batik, terus lama-lama terbentuk passionnya sama," jelas Putri saat dihubungi oleh Wolipop, Senin (30/9/2019).

Gabungkan Desain Batik Indonesia dan Jepang, Putri Raup Omzet Puluhan JutaFoto: Instagram @shibotik

Sebelum kini dikenal sebagai pendiri batik Shibotik, Putri mengisahkan bagaimana dia bisa menggapai mimpinya sebagai pengusaha batik seperti ayahnya. Putri mengaku sudah jatuh cinta dengan dunia desain, khususnya batik sejak kecil.
"Dari SMP sudah ikutan lomba desain batik juara dua, SMA ikutan lagi," katanya.

Jatuh cinta pada dunia desain, Putri menempuh pendidikan di ITB jurusan kriya tekstil. Setelah lulus kuliah pada 2015 baru dia mendirikan Shibotik, yang menjadi anak perusahaan dari Batik Komar milik orangtuanya.

"Shibotik itu memadukan motif Shibori dan batik jadi tetap ada unsur batiknya tapi lebih modern karena digabungin dengan shibori. Ciri khasnya ada perpaduan kain shibori dan batik, biasanya mereka nggak digabungin satu kain. Kalau shibotik itu tanpa sambungan jadi shibori dan batiknya ngeblend di dalam satu kain," kata Putri.

Gabungkan Desain Batik Indonesia dan Jepang, Putri Raup Omzet Puluhan JutaFoto: instagram @putrikomar
Shibotik yang unik ini menurut Putri pertamakali diciptakan olehnya. Ayahnya pun memutuskan untuk mendaftarkan motif karyanya itu ke Kantor Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) untuk mendapatkan hak paten.

"Takutnya sudah launching, orang banyak yang meniru karena belum ada yang bikin sebelumnya. Jadi sudah ada hak patennya shibotik ini," tambahnya.

Putri meraih sejumlah prestasi berkat inovasinya dengan Shibotik ini di mana dia menggabungkan motif batik khas Indonesia dengan Shibori, teknik pewarnaan yang populer di Jepang dan kerap disebut sebagai 'batik' asal Negeri Matahari Terbit. Dia pernah terpilih sebagai pembantik muda berkarya dan pembatik inspiratif dari Yayasan Batik Indonesia.

Gabungkan Desain Batik Indonesia dan Jepang, Putri Raup Omzet Puluhan JutaShibotik saat ikut pameran. Foto: instagram @shibotik


Gelar dari YBI itu juga yang membawanya meraih beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan). "Akhirnya dapat itu aku langsung kuliah di Inggris ambil Fashion Design di University of Southampton, Winchester School of Art, S-2 selama satu tahun," katanya.

Setelah lulus S-2 Putri semakin serius menjalani bisnis batik Shibotik. Dia pun mengikuti berbagai pameran fashion besar di Jakarta untuk semakin mengenalkan Shibotik. Memiliki motif yang unik, karyanya dilirik banyak orang.

Putri mengungkapkan dia bisa mendapatkan omzet sekitar Rp 60 - 80 juta dari mengikuti pameran besar di Jakarta selama empat hari. Dan di showroom Batik Komar di Bandung, batik karyanya mendapatkan omzet sekitar Rp 10 - 20 juta.

Gabungkan Desain Batik Indonesia dan Jepang, Putri Raup Omzet Puluhan JutaDesain Shibotik. Foto: instagram @shibotik


"Marketnya itu aku masuknya di Jakarta banyak peminatnya. Makanya sering ikut pameran JCC, kayak Inacraft, JBN, IFW dll. Pokoknya kita juga selektif sih yang acaranya memang bagus. Udah event yang bertahun-tahun dan besar," jelasnya lagi.

Tentu saja seperti bisnis pada umumnya, perjalanan Putri dan Shibotik tak selalu mulus. Kendalan dihadapi wanita kelahiran 1993 itu saat mencoba berjualan online.

"Kemarin aku sempat membuat website, itu kan nggak sedikit kan biayanya. Terus ternyata responnya nggak sebagus itu kalau online, bahkan kalau online dalam sebulan itu nggak ada yang beli. Mungkin dalam lima bulan cuman satu," kata Putri yang merangkap sebagai creative director dan marketing Shibotik.

Gabungkan Desain Batik Indonesia dan Jepang, Putri Raup Omzet Puluhan JutaFoto: Instagram @shibotik

Putri pun kini memilih fokus berjualan offline. Dia cukup puas karena batik Shibotik bisa diterima oleh anak muda. Menurut ibu satu anak itu, anak muda menyukai motif batik yang sederhana.

"Kalau di batik itu kan desain-desainnya itu motif mengisi jadi ada motif tutulnya, garisnya, detail batiknya lebih kelihatan, jadi anak muda itu di-stilasi, contohnya motif parang cumansiluetnya doang, jadi nggak ada detailing dalamnya. Dan dimodifikasi banget, kan kayak bukan batik banget. Lebih modern," jelasnya.

Inovasi terus dilakukan Putri dalam mengembangkan batik Shibotik. Saat ini yang sedang dilakukannya adalah produksi zero waste. Artinya dalam memproduksi busana, dia tidak mau menghasilkan sampah.
"Jadi ada sisa perca dimanfaatin. Kalau ada sisa kain perca agak besar bisa dimanfaatin buat baju bayi, karena kan ada juga peminatnya baju bayi buat kondangan. Dan juga bikin pouch dan cluth kecil. Kalau percanya kecil itu aku jadiin sandal," pungkas Putri.

Gabungkan Desain Batik Indonesia dan Jepang, Putri Raup Omzet Puluhan JutaPutri Urfanny Nadhiroh. Foto: instagram @putrikomar





Simak Video "Presiden Jokowi dan Ibu Iriana Asyik Membatik di Solo"
[Gambas:Video 20detik]
(gaf/eny)