Tak Hanya untuk Nikahan dan Ketupat, Janur Juga Bisa Jadi Kalung Cantik

Hestianingsih - wolipop Minggu, 22 Sep 2019 15:11 WIB
Seniman Teresa Maria Ineke Turangan membuat kalung dari janur Foto: Foto: Hestianingsih/Wolipop Seniman Teresa Maria Ineke Turangan membuat kalung dari janur Foto: Foto: Hestianingsih/Wolipop

Jakarta - Janur biasa digunakan dalam pernikahan, acara adat atau sebagai simbol relijius. Material alami dari daun muda pohon kelapa ini memang identik dengan kesan tradisional dan etnik. Tapi di tangan Teresa Maria Ineke Turangan, janur menjadi sebuah seni kontemporer yang lebih kekinian.

Sejak 2007, Teresa mencoba mengangkat janur sebagai ciri khas Indonesia yang bisa mengikuti perkembangan zaman, khususnya dalam industri kerajinan tangan baik di dalam maupun luar negeri. Ia pun sudah berkeliling dunia untuk menunjukkan bagaimana janur bertransformasi menjadi kreasi yang tidak selalu dikaitkan dengan unsur tradisional.

"Janur sudah lama dipakai di Indonesia dan jadi salah satu bagian dari kehidupan kita. Saya mau janur jadi lifestyle. Tidak hanya untuk keperluan acara tradisional atau upacara-upacara," kata Teresa saat ditemui di acara World Flower Council Summit di Westin Nusa Dua, Bali, Minggu (22/9/2019).

Seniman Teresa Maria Ineke Turangan membuat kalung dari janurSeniman Teresa Maria Ineke Turangan membuat kalung dari janur Foto: Foto: Hestianingsih/Wolipop


Menurutnya janur sebenarnya tidak hanya ada di Indonesia, sebab pohon kelapa dan palem juga tumbuh di negara lain khususnya Asia Tenggara. Namun setiap negara memiliki cara berbeda memanfaatkan daun kelapa sebagai sebuah kreasi seni. Indonesia sendiri mempunyai teknik anyaman dan lipatan khusus yang menjadikannya unik.

"Setelah belajar keliling dunia saya belum melihat ada teknik begitu unik dan cantik seperti janur," tutur wanita yang pernah menjadi desainer fashion selama 10 tahun ini.

Dalam usahanya memperkenalkan janur ke mata dunia, Teresa pernah membawa kreasinya ke China hingga Belgia, untuk mengikuti kejuaraan desain bunga. Salah satu karyanya yang menarik perhatian kala itu adalah gaun terbuat dari janur yang dikombinasikan dengan bunga-bunga segar.

"Saya kombinasikan janur dengan bunga Indonesia tapi desainnya bergaya Eropa," ucap wanita yang pernah mengenyam pendidikan fashion di London, Inggris, tersebut.

Selain gaun, Teresa juga mengkreasikan janur menjadi berbagai aksesori siap pakai seperti korsase, hair piece, gelang juga kalung. Jenis janur yang digunakan pun berbeda dengan janur yang biasa dipakai dalam acara adat atau keagamaan.

Penulis buku bertajuk 'Janur' yang terbit pada 2011 ini menjelaskan bahwa ia hanya menggunakan janur hijau dari pohon kelapa atau palem yang sudah tua. Sebab janur kuning memiliki makna filosofis dan kesakralan yang tak boleh diabaikan.

"Saya nggak mau pakai janur kuning karena sifatnya relijius dan ada pakemnya dan nggak bisa ditabrak. Misalnya janur kuning itu kan melambangkan hidup baru dan awet muda. Kalau janur hijau tidak berlaku filosofi itu dan dari segi ketahanannya juga lebih lama, bisa sampai 3 tahun kalau nggak kena air," ucap Teresa.

Harapan Teresa memperkenalkan janur ke dunia yang lebih luas, tak lain untuk membantu kemajuan industri kreatif Indonesia. Meskipun masih banyak PR yang harus diselesaikan, mengingat janur memang belum terlalu populer secara luas khususnya di kalangan millennial, Teresa tetap berusaha memberikan sumbangsihnya sebaik mungkin.

"Semoga janur nantinya memberikan nilai yang bisa membantu banyak orang. Bekal buat anak-anak muda mendapatkan skill, petani dan pengrajin juga bisa menambah penghasilan," pungkasnya.

Simak Video "Benda Harian Disulap Jadi Gaun Ciamik, Seperti Apa Sih?"
[Gambas:Video 20detik]
(hst/kik)