Dari Kain Tradisional, Lekat di Hati Rambah Ranah Ritel

Daniel Ngantung - wolipop Kamis, 19 Sep 2019 15:37 WIB
Amanda Indah Lestari, pendiri dan desainer label Lekat di Hati. (Foto: Daniel Ngantung/Wolipop) Amanda Indah Lestari, pendiri dan desainer label Lekat di Hati. (Foto: Daniel Ngantung/Wolipop)

Jakarta - Tren kolaborasi tengah menjadi fenomena di industri mode dunia, tanpa terkecuali Indonesia. Ketimbang berkompetisi, lebih baik saling bersinergi. Seperti kerja sama yang terjalin antara dua label fashion Lekat di Hati dan Salt N Pepper.

Sebenarnya, latar belakang kedua label tersebut saling bertolak belakang. Salt N Pepper yang sudah eksis sejak 2002 fokus di ranah ritel dengan koleksi pakaian pria bergaya kasual dan formal.


Dari Kain Tradisional, Lekat di Hati Rambah Ranah Ritel(Foto: Daniel Ngantung/Wolipop)

Sementara Lekat yang terbilang masih muda menawarkan busana kekinian berbahan kain tradisional yang ramah lingkungan bagi kaum urban. Kendati begitu, label yang didirikan pada 2013 ini sudah terbilang mapan karena familiar di kalangan selebriti dan fashionista kelas atas. Bahkan, Lekat juga pernah mempresentasikan koleksinya di London Fashion Week dua tahun lalu.

Perbedaan itulah yang justru memotivasi kedua label tersebut untuk berkolaborasi. Baik Lekat maupun Salt N Pepper, baru pertama kali ini melakukan kolaborasi dengan merek lain.

Bagi Amanda Indah Lestari, desainer sekaligus pendiri Lekat, kemitraan ini menjadi momentum untuk mengenal lebih dalam seluk-beluk dunia ritel. "Memang ada keinginan untuk mencoba berekspansi ke ritel. Jadi ini saat yang tepat untuk belajar," ungkap Mandy, begitu sapaan akrabnya, saat peluncuran koleksi tersebut di kawasan Senopati, Jakarta Selatan, Kamis (19/9/2019).


Dari Kain Tradisional, Lekat di Hati Rambah Ranah RitelFoto: Daniel Ngantung/Wolipop

Ajakan berkolaborasi, kata Mandy, awalnya datang dari PT Pan Brothers, perusahaan yang menaungi Salt N Pepper. Eugene Budiman selaku perwakilan Salt N Pepper berharap, kerja sama ini dapat menjangkau pasar baru yang belum terjamah oleh merek tersebut sebelumnya.

"Melihat belakangan ini ada tren yang lebih hype, kami mencoba meng-capture pasar yang lebih high-fashion. Sebetulnya market ini sangat segmented, jadi nggak mungkin kalau digarap sendiri. Jadilah kami kolaborasi," kata Eugene.

Lekat juga digandeng Pan Brothers untuk berkolaborasi dengan mereknya yang lain, yakni Zoe. Baru eksis pada 2014, Zoe memiliki ciri khas busana perempuan yang multifungsi dalam potongan yang chic.

Dari kolaborasi ini, lahir koleksi busana pria bergaya street-style dalam pilihan warna navy dan hijau army untuk Salt N Pepper. Sementara Chloe muncul dengan pilihan busana bergaya feminin dengan sentuhan etnik khas Lekat. Harganya mulai dari Rp 400 ribuan.


"Kolaborasi dengan perusahaan yang sudah mapan, mungkin mindset-nya masih agak old-school. Jadi pendekatannya harus pelan-pelan," kata Mandy saat ditanya tentang tantangan di proyek kolaborasi pertamanya ini.

Filosofi Lekat sebagai merek busana yang 'eco-ethical' masih tetap terakomodasi di sini lewat pilihan material seperti katun. Dari segi desain, gaya Lekat masih terasa dengan kehadiran permainan patchwork walau hanya sebagai aksen. Motif-motif yang terinspirasi dari kain tradisional juga sesekali muncul meski hasil cetakan (printed).

Simak Video "Kolaborasi Indonesia-Korea dalam Brand Fashion 'Sayee'"
[Gambas:Video 20detik]
(dtg/dtg)