Inspirasi Wayang Solo di Koleksi Busana Terbaru Sapto Djojokartiko

Daniel Ngantung - wolipop Rabu, 21 Agu 2019 09:32 WIB
Foto: Moh. Abduh Foto: Moh. Abduh

Jakarta - Sebuah kunjungan ke pertunjukan wayang di Sriwedari, Solo, Jawa Tengah, mengusik benak desainer Sapto Djojokartiko. Kedatangannya kala itu menyadarkan Sapto betapa warisan budaya Indonesia yang begitu kaya tak mendapat apresiasi yang layak dari rakyatnya sendiri. Inilah yang menjadi inspirasi Sapto untuk koleksi busana Spring-Summer 2020.

Koleksi tersebut terangkum dalam 57 tampilan busana pria dan wanita yang diperagakan di Bali Room, Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Selasa (20/8/2019) malam. 'Wisik', begitu Sapto mentajukinya. 'Wisik' dalam bahasa Jawa berarti 'bisikan'.

"Koleksi ini seperti sebuah bisikan kepada generasi muda untuk lebih menghargai lagi segala bentuk warisan budaya negeri kita, termasuk pertunjukan wayang. Bukan cuma pertunjukan seni di Solo, tapi juga di mana saja," kata Sapto jelang peragaan.

Koleksi terbaru Sapto Djojokartiko yang terinspirasi dari wayang SoloKoleksi terbaru Sapto Djojokartiko yang terinspirasi dari wayang Solo Foto: Moh. Abduh


Solo sendiri mendapat tempat yang spesial di hati desainer lulusan sekolah mode ESMOD ini. Di kota itulah, ia lahir dan dibesarkan. "Beda dari karya saya yang sebelumnya, koleksi ini seperti membawa saya kembali ke memori-memori indah semasa kecil. Tak hanya itu, saya sekaligus sadar bahwa bisa sampai ke sini adalah suatu proses yang panjang. Itu karena kita berani membuat sesuatu di luar zona nyaman," ungkapnya.



Meski menjadi inspirasi utamanya, wayang tak secara gamblang dituangkan ke dalam koleksinya. Sapto menginterpretasikan-nya dengan cara yang modern. Misal, motif pada wayang dikemas dalam bentuk garis geometris yang selama ini menjadi ciri khas koleksinya.

Ia juga memasukkan beberapa siluet busana khas Solo seperti dodotan dan sampur atau selendang yang bisa menghiasi penampilan para penari Jawa. Dengan styling yang menarik, semuanya hadir dalam tampilan busana yang terkesan mewah tapi terasa urban.

Tak hanya itu, permainan tabrak warna yang unik turut menjadi daya tarik koleksi ini. Muncul sejenis coat berwarna pastel lembut yang dihiasi bordiran berwarna neon yang mencolok. Aplikasi serupa juga menghiasi dress siluet A yang transparan.

Dari pilihan siluet dan warna yang beragam, terlihat keseriusan Sapto untuk mengakomodasi kebutuhan pasar yang seleranya semakin beragam dan sophisticated.

Di samping busana, Sapto juga memperkuat koleksinya dengan jajaran aksesori yang kekinian. Salah satunya, pilihan tas mungil seukuran telepon pintar yang belakangan sedang menjadi tren di panggung mode dunia.

Koleksi terbaru Sapto Djojokartiko yang terinspirasi dari wayang Solo Koleksi terbaru Sapto Djojokartiko yang terinspirasi dari wayang Solo Foto: Moh. Abduh


Malam itu, para model berlenggang di catwalk yang dihiasi piramida cermin dalam bentuk yang tak beraturan. Seperti busananya yang memadukan unsur modern dan tradisional, kesan futuristik dari piramida itu bersandingan dengan arsitektur gedung yang penuh sejarah.

Diresmikan oleh Presiden Soekarno pada 5 Agustus 1962, Hotel Indonesia menjadi hotel bintang lima pertama di Indonesia. Bali Room sendiri juga menyimpan banyak cerita. Di situ, gelaran Miss Indonesia yang pertama digelar pada 1969. Ruangan ini juga menjadi tempat berlangsungnya pernikahan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono dan mendiang Ibu Ani Yudhoyono pada 1976.

Simak Video "Benda Harian Disulap Jadi Gaun Ciamik, Seperti Apa Sih?"
[Gambas:Video 20detik]
(dng/agm)