Mengenal Kebaya, Baju yang Banyak Dipakai Saat Hari Kartini

Eny Kartikawati - wolipop Minggu, 21 Apr 2019 09:21 WIB
Kebaya busana pilihan di Hari Kartini. Foto: Mohammad Abduh/Wolipop Kebaya busana pilihan di Hari Kartini. Foto: Mohammad Abduh/Wolipop

Jakarta - Setiap 21 April, rakyat Indonesia memperingati Hari Kartini. Kartini yang dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi lahir pada 21 April 1879.

Kartini meninggal pada usia 25 tahun dan dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang. Sahabat Kartini yang ada di Belanda kemudian mengumpulkan tulisan-tulisannya, lalu menerbitkannya dalam buku berjudul 'Door Duisternis tot Licht' atau Habis Gelap Terbitlah Terang. Dalam buku tersebut terdapat sejumlah kutipan inspiratif, yang dapat menjadi inspirasi bagi kaum wanita saat ini, untuk terus meraih mimpi dan cita-citanya.

Kini setiap 21 April, para wanita Indonesia memperingati Hari Kartini dengan berbagai cara. Dan salah satu busana yang banyak menjadi pilihan saat peringatan Hari Kartini adalah kebaya. Tahukah kamu asal-usul kebaya?

Desainer Era Soekamto yang merupakan direktur kreatif untuk rumah mode Iwan Tirta menjelaskan kebaya sebagai baju adat Jawa terbagi atas berbagai macam jenis, namun yang paling sering digunakan adalah model kebaya encim hingga kebaya kutu baru. Sedangkan kebaya brokat merupakan bentuk modernisasi yang paling ekstrem karena telah meninggalkan esensi tradisi.

Mengenal Kebaya, Baju yang Banyak Dipakai Saat Hari KartiniFoto: Agung Pambudhy




"Kalau masalah brokat, itu sudah modern jadi bukan asli lagi. Kebaya yang sekarang ini sering kita temui di pesta-pesta sudah dikembangin sedemikian rupa sama penjahit atau desainer," ungkapnya dalam wawancara dengan Wolipop.

Era mengatakan lagi awalnya kebaya hanya dikenakan oleh orang di istana. Ada istilah kebaya kutu baru yang paling orisinil dari zaman Majapahit. Kemudian adapula kebaya hitam beludru yang merupakan hasil asimilasi dari budaya Eropa. Sedangkan kebaya motif bebungaan semakin populer di masa kerajaan Mataram setelah mengalami berbagai proses asimilasi budaya.

Desainer Era Soekamto.Desainer Era Soekamto. Foto: Mohammad Abduh


Kebaya China yang kini populer dengan sebutan kebaya encim awalnya ditolak oleh pihak istana mengingat para penjajah Belanda berusaha mempopulerkan kebaya beludru yang sangat Eropa. Akhirnya, kebaya encim ini mulai tersingkir hingga akhirnya dipopulerkan dan diadaptasi oleh warga Pesisir. Kini, banyak wanita masa kini yang memakai kebaya jenis ini untuk acara formal dengan bahan embroidery warna putih yang dikombinasikan dengan kain batik.

Kekinian desain dan siluet kebaya memang tidak terlalu drastis dari masa ke masa. Modernisasi pada potongan yang dimainkan mengetat atau melonggar, detail dikembangkan pada pemilihan renda dan penempatannya di area yang tidak lazim. Aksesoripun dibuat seminimal mungkin agar tidak terlalu heboh dari ujung kepala hingga kaki.

Penggunaan korset model bustier juga merupakan asimilasi budaya Eropa yang terus diterapkan hingga kini. Banyak kebaya di tahun '80an yang dilengkapi dengan bustier yang notabene warisan budaya Eropa. Padahal orisinalnya kebaya menggunakan kain pengikat serupa stagen atau kutang. Itulah sebabnya banyak kita lihat kebaya modern mengikat torso atas wanita dengan pasti, sedangkan model aslinya cenderung longgar.



Tonton juga video Saat Onthelis Pria Rayakan Hari Kartini di Car Free Day :

[Gambas:Video 20detik]


Mengenal Kebaya, Baju yang Banyak Dipakai Saat Hari Kartini

(eny/eny)