Makna di Balik Motif Tenun Sumba Timur yang Dipakai Iriana Jokowi

Alissa Safiera - wolipop Kamis, 07 Feb 2019 15:12 WIB
Iriana memakai baju tenun Sumba saat berpose bersama Nagita Slavina. Foto: Instagram Raffi Ahmad Iriana memakai baju tenun Sumba saat berpose bersama Nagita Slavina. Foto: Instagram Raffi Ahmad

Jakarta - Iriana Jokowi menjadi sorotan ketika ia tampil berbalut baju tenun Sumba Timur baru-baru ini. Foto tersebut terpampang di akun Instagram milik Nagita Slavina, saat keduanya berfoto bersama.

Budaya Indonesia memang kaya. Tiap tenun yang tercipta bukan asal saja, melainkan memiliki makna mendalam. Begitu pula pada busana yang dipakai Iriana Jokowi.

Dalam fotonya, Iriana memakai baju tenun Sumba dengan motif mamuli dan kuda. Menurut Didiet Maulana, desainer di balik label IKAT Indonesia yang kerap menyuguhkan ikat dan tenun, kedua motif tersebut memiliki arti.



Makna di Balik Motif Tenun Sumba Timur yang Dipakai Iriana JokowiNagita Slavina dan Iriana Jokowi. Foto: Instagram Raffi Ahmad

Mamuli dianggap sebagai simbol untuk menghormati kedudukan wanita. Ia pun menjadi lambang wanita (feminin) dengan bentuknya yang menyerupai rahim.

"Mamuli merupakan perhiasan penting dalam adat Sumba. Biasa diberikan oleh pihak laki-laki kepada perempuan saat melamar. Mamuli sendiri merupakan simbol rahim wanita, sebagai tanda kesuburan," ujar Didiet kepada Wolipop, Rabu (6/2/2019).

Makna di Balik Motif Tenun Sumba Timur yang Dipakai Iriana JokowiDidiet Maulana, desainer IKAT Indonesia. Foto: Mohammad Abduh/Wolipop

Selain mamuli, di baju Iriana juga tampak lambang kuda yang melambangkan Tanah Sumba. Motif kuda Sandel atau Sandalwood itu cukup populer karena Sumba memang terkenal dengan kudanya.

Melihat Ibu Negara anggun dibalut busana dari tenun Sumba, Didiet mengaku kagum dan mangapresiasinya. Menurut desainer kelahiran 1981 itu, 'endorse' yang dilakukan Iriana Jokowi dapat mendorong perekonomian lokal.

"Penting untuk Ibu Negara memakai kain dari berbagai daerah, karena akan mendorong kain tersebut jadi populer dan dicari yang pada akhirnya mendorong geliat ekonomi perajin daerah," pungkas Didiet.
(asf/asf)