Sejarah Peci, Penutup Kepala Andalan Prabowo dan Jokowi di Debat Capres 2019
Daniel Ngantung - wolipop
Jumat, 18 Jan 2019 16:34 WIB
Jakarta
-
Debat pertama calon presiden dan wakil presiden Republik Indonesia akhirnya digelar tadi malam, Kamis (17/1/2019). Meski beda visi dan misi, kedua pasangan, Jokowi-Ma'ruf dan Prabowo-Sandi datang dengan satu kesamaan. Mereka kompak mengenakan peci hitam.
Umumnya terbuat dari material beludu (velvet), peci bukan sekadar aksesori yang berfungsi menutup bagian atas kepala. Meski identik dengan gaya berbusana pria muslim ketika beribadah, ada makna nasionalisme dan patriotisme yang tersirat di dalam sebuah peci.
Ketenaran peci seperti sekarang ini boleh dibilang tak bisa lepas dari andil seorang Sukarno, presiden pertama negara ini. Peci sudah menjadi identitas gaya Sukarno baik sebelum ataupun saat mengabdi sebagai presiden Indonesia.
Namun, H.O.S Tjokroaminoto lah yang disebut-sebut sebagai sosok yang menginspirasi Sukarno untuk berpeci. Di era pergerakan Nasional 1908, Tjokroaminoto dikenal sebagai aktivis Sarekat Islam asal Madiun, Jawa Timur, yang bermarkas di Surabaya. Berkat pemikiran besarnya untuk Indonesia, ia kerap dijuluki sebagai guru bangsa.
"Salah satu yang terpengaruh dan mengikuti jejak Pak Tjokro itu adalah Sukarno. Sebelumnya dia mengenakan blangkon tapi kemudian menggantinya dengan kopiah seperti Tjokro. Kopiah lantas tak lagi menjadi monopoli kalangan santri tapi sudah menasional," tulis Abdul Mun'im DZ dalam buku "Fragmen Sejarah NU, Menyambung Akar Budaya Nusantara" yang diterbitkan Pustaka Compass, seperti dikutip dari detiknews.
Sukarno yang piawai dalam berorasi dan biasa perlente dalam berbusana menjadi semacam ikon atau model bagi banyak aktivis untuk ikut mengenakan kopiah. "Berkat Sukarno, kopiah tak cuma simbol Islam melainkan juga simbol patriotisme dan nasionalisme yang berbeda dari para priyayi atau ambtenaar yang menjadi kolaborator Belanda," tulis Mun'im.
Dalam perkembangannya hingga sekarang, menurut Mun'im, kopiah menjadi identitas nasional yang dikenakan oleh segenap warga bangsanya. Tak cuma kalangan muslim tapi nonmuslim pun wajib mengenakannya di acara-acara resmi yang membawa simbol kebangsaan. "Dulu para atlet olah raga yang akan bertanding di luar negeri itu pasti memakai kopiah. Sayang, di era reformasi kesadaran itu justru meluntur. Kopiah tak lagi menjadi simbol dalam acara resmi," tulis alumnus IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta itu.
Untuk diketahui, peci atau kopiah tak cuma ada di Indonesia. Para pria di negeri jiran, khususnya yang berumpun Melayu, seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei, juga biasa memakai peci. Songkok adalah sebutan lainnya.
Dihimpun dari berbagai sumber, kata 'peci' sendiri berasal dari kata 'petje'. Dalam bahasa Belanda, 'pet' berarti 'kopiah', dan 'je' yang bermakna kecil atau mungil.
Sedangkan kopiah diadopsi dari bahasa Arab, yakni 'kaffiyeh' atau 'kufiya'. Hanya saja, wujud kaffiyeh berbeda dengan kopiah. Sementara itu, bahasa Inggris mengenal istilah 'skull cap', sebutan untuk topi yang populer di era kolonial. Dari nama tersebut, lahir kata 'songkok'.
(dtg/dtg)
Umumnya terbuat dari material beludu (velvet), peci bukan sekadar aksesori yang berfungsi menutup bagian atas kepala. Meski identik dengan gaya berbusana pria muslim ketika beribadah, ada makna nasionalisme dan patriotisme yang tersirat di dalam sebuah peci.
Jokowi-Ma'ruf dan Prabowo-sandi kompak berpeci hitam di Debat Capres 2019. (Foto: Rengga Sancaya) |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Salah satu yang terpengaruh dan mengikuti jejak Pak Tjokro itu adalah Sukarno. Sebelumnya dia mengenakan blangkon tapi kemudian menggantinya dengan kopiah seperti Tjokro. Kopiah lantas tak lagi menjadi monopoli kalangan santri tapi sudah menasional," tulis Abdul Mun'im DZ dalam buku "Fragmen Sejarah NU, Menyambung Akar Budaya Nusantara" yang diterbitkan Pustaka Compass, seperti dikutip dari detiknews.
Achmad Sukarno pada tahun 1945. (Foto: Express/Getty Images) |
Dalam perkembangannya hingga sekarang, menurut Mun'im, kopiah menjadi identitas nasional yang dikenakan oleh segenap warga bangsanya. Tak cuma kalangan muslim tapi nonmuslim pun wajib mengenakannya di acara-acara resmi yang membawa simbol kebangsaan. "Dulu para atlet olah raga yang akan bertanding di luar negeri itu pasti memakai kopiah. Sayang, di era reformasi kesadaran itu justru meluntur. Kopiah tak lagi menjadi simbol dalam acara resmi," tulis alumnus IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta itu.
Presiden Jokowi bersama Sultan Brunei dan anaknya Pangeran Mateen di Bogor tahun lalu. (Foto: Biro Pers Setpres) |
Dihimpun dari berbagai sumber, kata 'peci' sendiri berasal dari kata 'petje'. Dalam bahasa Belanda, 'pet' berarti 'kopiah', dan 'je' yang bermakna kecil atau mungil.
Sedangkan kopiah diadopsi dari bahasa Arab, yakni 'kaffiyeh' atau 'kufiya'. Hanya saja, wujud kaffiyeh berbeda dengan kopiah. Sementara itu, bahasa Inggris mengenal istilah 'skull cap', sebutan untuk topi yang populer di era kolonial. Dari nama tersebut, lahir kata 'songkok'.
(dtg/dtg)
Health & Beauty
Mykonos Hawaiian Crush Extrait de Parfum, Parfum Wangi Tropis yang Bikin Mood Naik!
Elektronik & Gadget
Airbot X40 Master, Robot Vacuum Super Pintar untuk Rumah Bersih Tanpa Ribet!
Health & Beauty
Secret Garden Extrait de Parfum, Wangi Mewah yang Tahan Lama dan Bikin Kesan Lebih Berkelas!
Health & Beauty
Rambut Lebih Halus & Anti Ngembang, Ini 3 Hair Care Andalan untuk Rambut yang Susah Diatur!
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
Demi Totalitas Akting, Kate Hudson Rela Nggak Skincare-an dan Naik BB 7 Kg
Rihanna Gandeng Anak Elon Musk Jadi Model Lingerie untuk Koleksi Valentine
Tas Belanja Kanvas Ini Jadi Rebutan Dunia, Ada yang Dijual Rp 160 Juta
Jaket Nicolas Maduro saat Ditangkap Jadi Sorotan, Viral Diburu Netizen
Deretan Perhiasan Mewah di Karpet Merah Critics' Choice Awards 2026
Most Popular
1
Gaya Berani Sydney Sweeney di Pemotretan Terbaru, Tubuh Emas Tanpa Busana
2
Potret Piper Rockelle, Mantan Influencer Cilik Gabung OnlyFans Jadi Kontroversi
3
Demi Totalitas Akting, Kate Hudson Rela Nggak Skincare-an dan Naik BB 7 Kg
4
50 Ucapan Selamat Tidur Bahasa Inggris Romantis, Bikin Pacar Senyum Meleleh
5
Jessie Buckley Ungkap Alasan Suami Tak Pernah Menemaninya di Karpet Merah
MOST COMMENTED












































Jokowi-Ma'ruf dan Prabowo-sandi kompak berpeci hitam di Debat Capres 2019. (Foto: Rengga Sancaya)
Achmad Sukarno pada tahun 1945. (Foto: Express/Getty Images)
Presiden Jokowi bersama Sultan Brunei dan anaknya Pangeran Mateen di Bogor tahun lalu. (Foto: Biro Pers Setpres)